
Note: Alurnya masih flashback ya. Masih tentang Dimas Selena Martin dan Nayra yang bekerjasama menjebak Leon.
💙💙💙💙💙
Suara ketukan di pintu connection room, membuat Martin melepaskan pandangannya dari layar laptop. Setelah mempersilahkan masuk, matanya menatap lekat pintu yang perlahan-lahan terbuka. Sosok Nayra terlihat kusut.
Martin bergegas bangkit dari duduknya. Mempersilahkan Nayra duduk di sampingnya sembari ia menyeduh secangkir teh hangat.
“Kali ini Leon menyuruhmu apa?” tanyanya tanpa basa-basi seraya menyodorkan secangkir teh.
Nayra tidak langsung menjawab tapi malah mengeluarkan sebotol obat dari saku celananya. Alis Martin berkerut. “Itu obat tidur,” jelas Nayra singkat.
Sesuai perkiraan Nayra, Martin memanglah pintar. Tanpa perlu menjelaskan, pria itu sudah bisa menebak kejadian selanjutnya.
“Gila! Dia beneran sakit jiwa! Psikopat!” Martin bergidik emosi. Bagaimana bisa Leon setega itu kepada seorang wanita? Dia mengumpat sembari memeriksa isi botol tersebut.
“Tin, kakak gue aman kan?” Pertanyaan Nayra mengalihkan perhatian Martin. Pria itu memindai gurat kecemasan di wajah Nayra.
Martin tersenyum. Meremas lengan Nayra seolah memberinya ketenangan. “Jangan khawatir, Nay. Marsya dijaga oleh orang-orang terbaik pilihan Dimas. Leon nggak akan bisa menyakiti Marsya lagi. Lo harus percaya sama Dimas. Oke?”
Nayra mengangguk. Ucapan lembut Martin mampu menenangkan hatinya yang gelisah. Tidak ada lagi keraguan di hatinya.
“Selain nyuruh lo minum obat ini, dia nyuruh apa lagi?” selidik Martin.
“Dia nyuruh gue bawa Dimas masuk ke kamar.”
“Hmm….” Martin mengusap-usap ujung dagunya sebelum kemudian tersenyum simpul. “Dia mau buktiin ke Selena kalau elo sama Dimas masih berhubungan. Setelah itu dia beberin ke media. Licik juga. Sekali umpan, dua orang ketangkep. Dia bisa dapetin Selena sekaligus menghancurkan kredibilitas Dimas.”
“Terus gue harus gimana?”
“Ki….”
Drrtt… Drrtt….
Getaran ponsel Martin memutus obrolan mereka. Pria itu bangkit berdiri sebelum menoleh ke Nayra, “dari Dimas. Bentar ya,” pamitnya sembari melangkah menjauh.
Cukup lama Martin berbicara dengan Dimas di telpon. Entah apa yang mereka bicarakan.
Nayra pun juga memilih tidak mau tahu. Kali ini Nayra mempercayakan sepenuhnya kepada Dimas dan Martin.
Klek..
Nayra menolehkan kepalanya saat terdengar pintu kamar mandi terbuka. Seringai jahil terbit di wajah Martin. Pria berkacamat itu lalu duduk di samping Nayra. Ekspresinya kelihatan senang.
“Lets start our plan,” Martin mengosok-gosok telapak tangannya kegirangan.
“Dengerin gue. Sebentar lagi gue minta lo keluar kamar. Dimas sekarang ada di lobi. Nanti kalau kalian ketemu, kalian harus akting kaget senatural mungkin. Abis itu buat obrolan ringan. Pastiin orang suruhannya Dimas ngeliat kalian berdua ngobrol. Sampai sini paham nggak Nay?”
“Paham,” angguk Nayra. “Terus setelah itu gue harus gimana?”
“Nah ini highlightnya. Gue udah cerita sama Dimas masalah obat tidur itu. Tapi seperti yang lo tahu, nggak mungkin Dimas emm….,” Martin menjeda kalimatnya, kebingungan mencari kalimat yang enak untuk di dengarkan Nayra.
Nayra tertawa kecil menyadari kebingungan Martin. Dia menepuk lengan Martin pelan, “santai aja. Gue tahu kok kalimat lanjutannya. Nggak mungkin Dimas asal masuk kamar gue begitu aja kan?”
“Ya itu maksudnya. Bagus lah kalau lo ngerti. Berarti gue skip langsung ke intinya ya,” Martin meluruskan duduknya. “Begitu lo pura-pura minum obat itu, Dimas bakal masuk ke kamar lo. Gue yakin, tujuan Leon nyuruh lo buat masukin Dimas ke kamar biar dia bisa kasih bukti ke Selena kalau kalian berdua masih berhubungan. Imbasnya, mereka berantem, jadi Leon bisa leluasa deketin Selena,” papar Martin.
Nayra angguk-angguk membenarkan ucapan Martin. “Tunggu dulu deh,” sela Nayra. “Apa Selena tahu soal rencana ini juga?”
“Tahu dong. Dia kan aktris utamanya.”
“Maksudnya?” Alis Nayra mengerut.
Martin menepuk jidatnya. “Gue lupa, lo belum tahu rencana kita. Jadi gini, begitu foto di kirim yang gue yakin banget akan dikirim langsung malam ini juga. Selena bakalan ngamuk dan balik ke apartementnya. Nah setelah itu dimulai deh drama pertengkaran suami-istri,” kekeh Martin geli membayangkan keseruan adegan pertengkaran Dimas dan Selena nanti.
Raut Nayra terlihat cemas mendengar penjelasan Martin, “apa nggak bahaya buat Selena?”
Martin menggeleng. “Awalnya gue berpikir seperti itu juga. Tapi setelah gue amati, Leon itu terlalu mencintai Selena. Kalau pun misalnya, rencana ini ketahuan, gue yakin banget dia nggak akan sanggup balas dendam ke Selena.”
Nayra tertegun. Sebesar itukah perasaan Leon? Tapi bukan mustahil mengingat kegigihan Leon mengejar Selena sampai membuatkan ruangan khusus berisikan segala hal tentang Selena.
“Nay, sekarang waktunya lo keluar kamar.” Martin mengecek ponselnya. “Dimas udah mau keluar lift.”
Nayra mengangguk, beranjak menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Nayra terlebih dulu mengubah tampilannya. Dia harus berdandan seperti biasanya jika mau pergi keluar. Masker, topi dan jaket adalah tampilan wajib baginya.
Nayra menarik napas panjang. Memejamkan matanya sejenak seraya berdoa agar semuanya berjalan sesuai rencana. Setelah merasa yakin, dia pun memutar kenop pintu dan bergegas keluar.
*******
Nayra terdiam menatap kosong pantulannya di cermin kamar mandi. Dia baru saja berhasil menjalankan instruksi Martin. Sesuai ucapan Martin, dia berpasasan dengan Dimas di lorong. Nayra berpura-pura kaget begitu pun Dimas.
Mereka pun memulai percakapan ringan sambil sesekali melirik diam-diam ke arah Mick. Sekilas, Nayra sempat melihat lensa kamera dari balik tanaman.
Tangan Nayra terulur mengusap setitik cairan bening di ujung matanya. Sikap Dimas tadi mengguncang perasaannya. Dia tersenyum sambil menatapnya lembut. Meski hanya pura-pura, tapi terasa seperti nyata.
Nayra meremas dadanya, ada rasa perih menyayat hatinya tiap kali bertemu Dimas. Tampaknya dia masih belum sepenuhnya melupakan pria itu.
Getaran ponselnya menyadarkan Nayra. Alisnya mengerut bingung karena Leon menelponnya melalui video call. Ragu-ragu, Nayra tetap menjawabnya juga.
Jantung Nayra berdebar ketakutan begitu netranya berhadapan dengan Leon. Pria itu langsung cemberut saat mengetahui Nayra sedang berada di kamar mandi. Tapi Nayra langsung berdalih dengan mengatakan kalau dirinya baru saja selesai menghapus make-upnya.
“Mana obat tidurnya?” tanya Leon tiba-tiba.
Nayra mengambil botol obat tidur dan menunjukkannya di layar ponsel. “Ini.”
“Minum sekarang.” Perintah Leon.
Mata Nayra membulat seketika. Dia bahkan nyaris menjatuhkan ponselnya. Nayra menatap Leon, memastikan kalau pendengarannya salah.
“Minum sekarang, NAYRA,” Leon menekankan tiap patah kalimat dari mulutnya. Mempertegas Nayra kalau ucapannya sungguhan.
Nayra menelan salivanya. Dia menaruh tegak ponselnya sesuai perintah Leon. Pria itu ingin memastikan Nayra meminumnya di depan matanya. Nayra terdiam kebingungan. Dilema melandanya.
Bukannya kakaknya sudah aman di tangan Dimas? Jadi buat apa lagi dia menuruti perintah Leon? Toh, dari awal dia tidak berniat memenjarakan Leon. Dia hanya ingin menyelamatkan kakaknya saja.
Tidak. Dia tidak boleh egois. Dimas sudah banyak membantunya dan sekarang waktunya untuk Nayra membalas kebaikannya.
Ini hanya obat tidur kan? Tidak akan membuatnya mati. Begitu menelannya, dia tinggal lari meminta bantuan ke Martin. Begitu pikiran Nayra saat itu.
Glek. Glek. Glek.
Satu demi satu pil-pil itu meluncur ke kerongkongannya. Nayra tak menghitung berapa banyak yang ia telan. Dia hanya meraupnya begitu saja.
Di seberang sana Leon bertepuk tangan. Dia tersenyum puas lalu meminta Nayra segera menghubungi Dimas. Nayra menggangguk pasrah.
Begitu sambungan video itu berakhir, Nayra berniat menghampiri Martin di kamarnya. Tapi obat tidur itu langsung bekerja di tubuhnya.
Kepalanya langsung terasa berat, rongga dadanya terasa panas. Nayra langsung ambruk ke lantai dengan napas yang tercekik. Sambil menyeret tubuhnya, dia berusaha mengambil ponselnya yang ikut terjatuh.
Tangan Nayra bergetar menekan nomer yang sudah dihapalnya. Napasnya pendek-pendek saat mencoba berbicara. Nayra menangis meminta pertolongan. Tak lama kemudian, Nayra mendengar seseorang membuka paksa pintu kamar mandi.
“Nayra!!”
Martin berteriak panik begitu mendapati Nayra yang tergeletak di lantai. Dia bergegas menggendong Nayra lalu membawanya ke tempat tidur.
Perlahan-lahan pandangan Nayra mulai gelap. Hal terakhir yang dilihatnya adalah wajah panik Dimas yang berlari menghampirinya.