The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Mimpi Aneh



Gadis kecil itu terbangun dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang asing dan gelap.


Iris cokelatnya mengerjap ketakutan. Udara dingin dan lembap terasa menyesakkan dadanya. Dia ingin menangis tapi buru-buru ditahannya saat mendengar suara pintu terbuka.


Gadis kecil itu kembali berbaring, memejamkan mata seraya menajamkan pendengarannya. Suara langkah kaki yang berat perlahan-lahan terdengar semakin dekat. Gadis kecil itu menahan napasnya sambil tetap memejamkan matanya.


Dia mengigit bibirnya kuat-kuat berusaha menahan teriakan keluar, saat merasakan hawa panas menggelitik wajahnya. Sebuah tangan tiba-tiba mengguncang pelan tubuhnya.


“Nak,nak. Hei..ayo bangun,” bisik seorang pria bersuara berat.


Gadis kecil itu ketakutan. Jantungnya berdetak kencang. Bingung mau membuka mata atau tetap berpura-pura tidur. Tapi pada akhirnya gadis kecil itu membuka matanya dengan takut-takut.


Begitu matanya terbuka, dia melihat seorang pria bertopi hitam berjongkok di depannya. Pria itu kelihatan aneh, berkali-kali melirik sekeliling dengan gelisah. Lalu dia memberi gerakan dengan menempelkan telunjuknya di bibir, pertanda agar gadis kecil itu tak bersuara.


“Dengarkan aku. Berjalanlah dengan cepat ke belakang. Nanti disana kau akan temukan sebuah papan. Geser perlahan papan itu. Begitu kau keluar, ikuti pohon yang sudah bertanda. Jangan lihat ke belakang, teruslah berlari. Jangan berhenti sampai kau berada di keramaian. Lalu cari polisi dan serahkan kertas ini. Apa kau mengerti?” Pria itu berkata dengan cepat sambil menyelipkan secarik kertas.


Gadis kecil itu dengan cepat mengangguk. Entah kenapa instingnya mengatakan kalau pria bertopi ini tidak sejahat kelihatannya.


“Bagus. Kau memang anak pintar. Sekarang, tunggu aba-abaku disini.” Pria itu mengelus pelan rambut gadis kecil itu sebelum mengendap-endap menghampiri pintu yang sedikit terbuka.


Iris cokelat gadis kecil itu menatap pria bertopi itu dengan lekat. Jantungnya berdetak kencang sembari mempersiapkan kakinya kecilnya. Begitu pria bertopi itu mengangkat tangannya dan menunjuk arah belakang, gadis kecil itu dengan cepat berlari ke arah yang disuruh.


Gadis kecil itu sempat kesulitan menggeser papan. Dia terkejut saat melihat pria bertopi itu tiba-tiba datang dan membantunya. Pria bertopi itu juga membantunya merangkak melewati celah berbatu.


“Hati-hati,” pesan pria bertopi itu sebelum menutup papan kembali. Gadis kecil itu mengangguk dan sempat melihat tato naga di pergelangan pria bertopi itu sebelum papan tertutup.


**********


“Hah.....,” Selena mendesah pelan sembari mengaduk-aduk pelan pasta di piringnya.


Gina yang sedang mengiris daging steak-nya, bertanya dengan wajah keheranan. “Lo kenapa, Sel? Dari tadi narik napas terus”.


“Gue mimpi aneh”. Gumam Selena.


“Aneh?” Gina menelan makanannya sebelum bertanya lebih lanjut. “Aneh gimana?”.


Selena terdiam ragu-ragu. Tapi kemudian, dia melihat Gina yang kini merubah posisi duduknya---- bersiap untuk mendengarkan ceritanya. Selena menghembuskan napas sejenak dan mulai menceritakan mimpinya semalam.


Gina menyandarkan tubuhnya begitu Selena menyelesaikan ceritanya. Sambil menyilangkan tangan di dada, otaknya berpikir---- berusaha mencerna setiap kalimat yang tadi didengarnya. Namun sekeras apapun ia berpikir, tetap saja tak menemukan jawabannya.


Apa jangan-jangan, gadis kecil itu adalah Selena? Sebab setahu Gina, sahabatnya itu memang tidak memiliki memori masa kecilnya.


Seperti terkoneksi, Selena tiba-tiba saja bertanya. “Apa menurut lo, gadis kecil itu adalah gue?”.


Gina mengangkat bahu sambil berkata,”entahlah Sel. Tapi kalau memang benar, berarti ada rahasia di balik hilangnya ingatan masa kecil lo”.


Selena dan Gina sempat terdiam---- berpandangan beberapa detik sebelum saling tertawa.


“Konyol,” sergah Selena yang dibalas kekehan Gina. “Berasa sinetron,” tambahnya sembari melirik jam merah di pergelangan tangannya. “Balik yuk. Gue masih ada meeting”.


Gina mengangguk sambil menaruh beberapa lembar uang ratusan ribu di atas nampan cokelat dan berjalan keluar bersama Selena.


**********


KANTOR SKYLOOK


Tidak seperti biasanya, Dimas sudah keluar dari ruangannya saat waktu menunjukkan jam setengah enam sore. Dirga yang baru saja selesai merapikan meja kerjanya—terkesiap menyadari kehadiran Dimas yang berjalan menyapanya.


“Presdir mau pulang?” Mata hitamnya membelalak di balik kacamatanya. Yang ditanya hanya mengangguk tanpa menjawab.


Dirga hendak bertanya lebih lanjut tapi deringan ponsel Dimas menahan pertanyaannya.


“Ha? Mami sama Papi mau makan malam dirumah?!” Dirga secara otomatis memundurkan langkahnya—terkejut karena Dimas tiba-tiba meninggikan suaranya.


“Ada masalah apa, Pak?” tanya Dirga begitu Dimas mengakhiri pembicarannya.


“Mami sama Papi mau ke rumah. Bagaimana ini, Dir?” Dirga memiringkan kepalanya---bingung dengan pertanyaan Dimas.


“Lalu apa masalahnya, Pak?”.


Dimas berdecak kesal sambil melotot mendengar kalimat Dirga. Tapi kemudian, dia menyadari sesuatu dan tersenyum senang. Perubahan di wajah Dimas sontak membuat sekretarisnya semakin kebingungan.


“Pak, apa Anda baik-baik saja?” tanyanya dengan sedikit takut.


Dimas tersenyum lebar. “Tentu. Saya pulang dulu,ya”.


Setelah memberi tepukan pelan di pundak Dirga, Dimas melangkahkan kakinya dan menghilang di balik pintu lift yang menutup.