
Seorang pria muda yang sedang fokus membaca sebuah lampiran file , merasa terusik ketika mendengar dering ponselnya. Rasa enggan merasukinya saat menjawab panggilan tersebut.
“Kenapa Mi?”
“Gak , Mami cuma mau mastiin kalau kamu jangan sampai lupa malam ini.”
Pria muda yang bernama Dimas tersebut menghela napas.
“Iya.”
“Yasudah kalau gitu. Mami tunggu kabar baiknya ya.”
Dimas langsung melempar ponselnya begitu sambungan berakhir. Entah sudah berapa kali mami mengingatkannya tentang janji pertemuan dengan calon istrinya ini.
Saat pertama kali mendengar rencana perjodohan itu , Dimas langsung menolak tegas dengan dua alasan yang jelas.
Pertama dia tidak begitu mengenal calon istrinya. Walaupun sebenarnya Dimas ingat sedikit tentangnya. Seorang gadis teman masa kecilnya. Tapi mereka hanya bertemu sampai umur 6 tahun saja. Dan tidak ada memori khusus yang diingatnya.
Kedua dan yang paling penting. Dimas sudah memiliki kekasih bernama Nayra. Mereka sudah berpacaran selama 2 tahun. Tapi sampai detik ini , orangtua Dimas tidak pernah memberi restu.
Dimas Pradipta Soetedjo merupakan anak pertama dari Goenawan Wira Soetedjo dan Vivi Marow Soetedjo. Ayahnya adalah pemilik perusahaan properti terbesar di Indonesia.
Sementara ibunya , memiliki departement store dengan puluhan cabang yang tersebar. Karena itulah sejak kecil Dimas sudah dituntut untuk tampil sempurna agar kelak bisa meneruskan perusahaan keluarga.
Ajaran dan didikan keras dari orangtuanya terbukti berhasil. Karena di usia muda , Dimas sukses memperluas bisnis keluarganya. Bahkan dia kini memiliki bisnis hotelnya sendiri.
Tidak hanya dijuluki sebagai pengusaha muda terkaya , Dimas juga dikenal berparas tampan.
Dengan tinggi 185 cm , bahu lebar , rahang yang tegas , alis tebal dan muka yang mulus , membuatnya menjadi incaran para kaum hawa.
Tapi tidak ada yang pernah bisa menembus hatinya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Nayra , seorang wanita yang berprofesi sebagai SPG rokok.
Pertemuan pertama mereka yang terjadi di sebuah club malam , berlanjut menjadi hubungan yang serius. Nayra yang bercita-cita menjadi model , dengan bantuan Dimas akhirnya bisa masuk ke sebuah agensi.
Tapi sayang hubungan mereka mendapat penolakan dari orangtua Dimas. Mengingat latar belakang Nayra dan juga statusnya sebagai janda muda.
Sudah setahun mereka menjalani LDR. Sangat menyiksa awalnya karena hanya bisa bertemu 2 kali dalam sebulan. Tapi demi sebuah restu tentu semua itu bukan masalah. Dan kini ketika Nayra mulai dikenal , justru masalah perjodohan ini muncul.
Dimas mendesah pelan sambil menatap potret wanita berlesung pipi dan berambut pendek yang tengah tersenyum menghadapnya.
Tangannya mengusap-usap potret tersebut dengan lembut. Dia sangat merindukan Nayra sekarang. Tapi masalahnya Dimas belum memberitahu Nayra soal perjodohan ini. Dia tidak tahu harus mulai darimana dan takut menghadapi reaksinya.
Dimas memukul meja karena frustasi. Dilonggarkannya dasi biru yang melekat di kemeja putihnya. Mendadak dia merasa sesak. Padahal AC ruangannya berfungsi dengan baik.
Dia memejamkan mata mencoba mengatur kembali pikirannya. Setelah merasa siap , Dimas pun kembali fokus bekerja.
Lagi-lagi ponselnya berdering di saat yang tidak tepat. Amarah Dimas siap meledak jika dia mendengar suara orangtuanya lagi di telpon. Namun sebaliknya yang terdengar justru suara seseorang yang sudah sangat dia hafal.
“Sayang , aku ada di Jakarta nih. Di apartemenmu.”
Seperti tersengat listrik , Dimas langsung berdiri dan bergegas keluar ruangan.
“Batalkan semua janji saya hari ini!" perintah Dimas kepada Dirga , sekertaris pribadinya.
“Baik Pak. Tapi Presdir mau kemana?”
Dimas tidak menjawab dan langsung memencet tombol lift. Begitu pintu lift terbuka , Dimas segera masuk.
“Nayra sudah pulang,” ujar Dimas tersenyum.
“Syukurlah Pak. Saya turut ....,” ucapan Dirga terputus karena pintu lift telah tertutup. “Senang.”
Dirga masih terpaku beberapa saat di depan lift sebelum kembali ke mejanya. Dirga merasa senang karena bisa melihat senyuman di wajah atasannya lagi.
Karena itulah sekarang pria berkacamata tersebut terlihat bersemangat melaksanakan perintah Dimas.
Namun kemudian dia teringat kalau malam ini seharusnya atasannya bertemu dengan calon istrinya. Keraguan pun menyelimutinya. Dia tahu kalau saat ini Dimas tidak mau diganggu. Tapi masalahnya Dirga sudah mendapat instruksi khusus dari orangtua Dimas untuk mengantarnya sampai ke tempat pertemuan.
Cukup lama Dirga berpikir sebelum akhirnya mengambil ponsel dan menelpon atasannya tersebut.