The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
The Plan (part.4)



“Apa? Nayra minum obat tidurnya?” Selena refleks menginjak pedal rem begitu mendengar kabar dari Dimas. Beruntung saat itu lampu merah sedang menyala di depannya.


Selena menggeram kesal, “Aku masih di jalan, Bi. Nanti aku telepon balik,” tutup Selena.


Sesampainya di rumah, Selena bergegas naik ke kamarnya. Baru saja menaruh tas, notifikasi pesan masuk berbunyi dari ponselnya. Selena mengecek ponselnya. Pesan itu di kirim dari nomor asing.


Selena bergidik jijik. Leon benar-benar tidak membuang waktu. Padahal dia tahu kalau saat ini Nayra tengah sekarat karena perintahnya.


Dasar iblis!


Sambil memaki, tangan Selena bergerak membuka pesannya. Pesan text tersebut sangat singkat. Hanya meminta Selena membuka emailnya. Selena mendengus kesal.


Merepotkan.


Meski sudah tahu seperti apa isinya, dia tetap mengecek emailnya. Sesuai dugaannya, Leon langsung mengiriminya foto-foto Dimas dan Nayra di hotel.


Selena menutup kasar laptopnya. Dia masih tidak menyangka Leon bisa sekejam itu. Nayra bisa mati karena pil-pil itu. Di saat sedang Nayra bertaruh nyawa, Leon malah sibuk mencoba menghancurkan rumah tangganya.


Selena beranjak menuju meja riasnya. Menatap cermin di depannya. Apa yang membuat Leon menyukainya separah itu?


Selena meraba wajahnya. Kalau di bilang cantik, menurutnya masih banyak yang lebih cantik ketimbang dirinya.


Berprestasi? Ya, mungkin itu salah satu alasan Leon menyukainya. Tapi dari mana dia tahu soal pendidikan akademiknya?


Selena mengingat-ingat setiap pertemuan mereka. Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak ada yang spesial seingatnya. Jadi apa alasannya? Apa yang membuat Leon segila itu demi dirinya?


Capek bermonolog sendiri, Selena memilih menghubungi kembali suaminya. Dia cemas memikirkan keadaan Nayra. Beruntung, Dimas mengatakan kalau Nayra masih bisa di selamatkan.


Selena tersenyum lega. Obrolan Selena dan Dimas berlangsung cukup lama dan baru berakhir setelah Selena mengantuk.


******


Jantung Selena berdebar kencang saat lift yang dinaikinya bergerak menuju lantai unit apartementnya. Dia menghela napas panjang sejenak sebelum keluar dari lift.


“Selena?” Suara familiar menyapanya begitu ia sampai di depan unit. Tangan Selena yang menggantung meremas kuat celana capri cokelatnya, menahan semburan makian yang sangat ingin ia keluarkan.


Jangan gegabah Selena. Tahan emosimu.


Selena menanamkan kata-kata itu dalam benaknya. Dia berbalik, memasang senyum palsu di depan Leon. Selena mendecih dalam hati saat melihat kegembiraan di wajah Leon.


Hatinya sudah bergejolak tak tahan ingin melempar sesuatu ke muka Leon. Makanya dia ingin cepat-cepat menyudahi obrolan singkat mereka.


“Untuk sementara waktu, aku akan tinggal di sini lagi. Mohon bantuannya lagi ya, tetangga sebelah,” Selena mengangkat sudut bibirnya, memamerkan senyum manisnya.


Pupil Leon bergetar. Pria itu tampak salah tingkah. Selena menangkap gelagat itu dan mengumpat dalam hati lalu bergegas masuk ke dalam unitnya.


.


.


Malamnya, Selena dan Dimas bersiap untuk memulai ‘pertengkaran’ mereka.


Dimas : Sugar, aku udah di basement. Sebentar lagi aku naik ke atas.


Selena : Oke.


Di lobi, Dimas sudah bersiap naik bersama Pak Catur - salah satu security apartemen Selena yang bersedia membantu mereka.


Rencananya, Dimas dan Selena akan berpura-pura bertengkar di depan unit Selena. Mereka yakin kalau Leon pasti akan ikut campur dan memprovokasi Selena.


Benar saja, saat Dimas mulai berakting mengetuk-ketuk pintu unit Selena, Leon keluar dari unitnya. Dimas berpura-pura kaget dan bersikap acuh. Tapi Leon malah memprovokasinya dengan mengatakan kalau dirinya menyukai Selena.


Mengetahui Dimas terbakar emosi sungguhan, Selena langsung menghambur keluar. Tapi begitu keluar, dia kebingungan harus berbuat apa. Suaminya terlihat begitu marah, entah apa yang membuatnya emosi seperti itu. Sadar kalau Dimas bisa kelewat batas, Selena menamparnya dengan tujuan agar Dimas tersadar.


Untuk sejenak, Dimas membatu kaget. Tapi kemudian, dia segera sadar. Bak pemain sinetron profesional, Dimas dan Selena melanjutkan lagi drama mereka.


Selena menunjukkan foto-foto Dimas dan Nayra. Memojokkan Dimas dengan hujatan kata-kata.


Dimas memohon-mohon sambil berpura-pura tertekan. Tak jauh dari mereka, Leon mengawasi pertengkaran itu. Selena sempat melirik sekilas dan mendapati seutas senyum kecil di wajahnya.


Drama pertengkaran itu baru berakhir setelah Selena membanting kencang pintunya. Dan setelah itu, Pak Catur yang sejak tadi menunggu di depan lift, segera menghampiri Dimas dan berpura-pura mengusirnya keluar.


“Terimakasih banyak bantuannya, Pak.” Dimas menjabat tangan Pak Catur begitu liftnya sampai di lantai lobi. Dimas menyelipkan secarik kertas ke tangan Pak Catur. “Ini buat beli susu anak bapak.”


Pak Catur melotot melihat nominal yang tertulis di cek putih tersebut. Dia menyodorkan kembali cek itu, “kebanyakan, Pak. Lagian tugas saya tadi juga gampang. Jadi nggak usah di bayar,” tolaknya.


“Rezeki nggak boleh ditolak, Pak. Pamali.” Sergah Dimas. Dia lalu pamit ingin kembali ke unit Selena. Tapi Pak Catur menahannya.


“Tunggu dulu, Pak. Lebih baik kita cek dulu di CCTV, takutnya penghuni 4403 ada di depan unit istri bapak.” Pak Catur mengajak Dimas menuju ruangan CCTV apartement.


“Sebenarnya saya nggak boleh bawa orang asing kesini. Tapi pengecualian buat bapak.”


Dimas hanya tertawa menanggapinya. Fokusnya malah berpusat pada monitor yang menampilkan koridor di lantai unit Selena. Koridor itu terlihat sepi. Dimas tersenyum lebar seiring langkahnya yang ringan menuju unit apartement Selena.


*****


“Cantik banget sih, Sugar.” Celetuk Dimas. Mukanya tertekuk cemberut sementara pandangannya curi-curi pandang ke arah Selena yang sejak tadi mengaca.


Selena tergelak geli. “Baru tahu kalau aku cantik?” selorohnya menggoda Dimas. Ia tahu kalau saat ini suaminya sedang cemburu lantaran Leon mengajaknya makan siang.


“Tahu ah,” Dimas manyun. Menggerutu sambil menatap lurus jalanan.


Selena tertawa keras. Mencubit-cubit pipi Dimas. “Cemburu ya? Ulu..ulu..lucunya,” goda Selena gemas.


Melihat suaminya tidak bereaksi, Selena semakin bersemangat menggodanya. Dia menciumi pundak Dimas. Menghujani pipi Dimas dengan sentuhan-sentuhan lembut.


“Sugar…..” Dimas mendesah geli. “Kalau kamu lanjutin, bisa-bisa aku bawa kamu ke hotel nih,” ancamnya.


Selena tertawa dan menghentikan segera aksinya. Namun Dimas malah protes. “Kok berhenti?”


“Kita lanjutin nanti di apartement aja,” bisik Selena malu-malu. “Aku punya sesuatu yang baru.”


Telinga Dimas langsung memerah. Dia bersorak senang. “Oke. All night long ya Sugar,” balas Dimas kegirangan.


Selena mengangguk. Tertawa melihat tingkah suaminya yang sangat imut di matanya. Sayangnya kegembiraan Dimas harus berakhir karena mobilnya sudah sampai di restoran tempat janjian Selena dan Leon.


“Aku tunggu di sini. Jangan lama-lama, pilih makanan yang fast serving. Jangan pegang-pegangan. Ja….”


Cup.


Kecupan singkat di bibirnya, menghentikan kicauan Dimas.


“Iya..iya Bi. Jangan khawatir. Aku nggak akan lama.” Ucap Selena sebelum melangkah keluar.


Dimas meremas erat setir kemudi, matanya awas mengamati Selena yang terlihat memasuki area restoran.


Jika bukan karena rencana ini, Dimas tak akan sudi membiarkan Selena berduaan dengan pria gila itu.


"Br*ngsek!!" Rutuk Dimas sebal.