The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Permusuhan



Dirga menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Tenaganya seperti sudah terkuras habis padahal ia baru beberapa jam berada di kantor.


Ini semua karena perintah mendadak dari Dimas. Baru saja memasuki lobi kantor, Dimas sudah menyuruhnya mencari tiket pesawat penerbangan Singapore, lengkap dengan kamar hotel, dan lain sebagainya.


Setelah dengan susah payah dan secepat kilat mempersiapkan itu semua, Dimas malah membatalkannya dan menyuruhnya mencari lagi dari awal namun kali ini dengan tujuan yang berbeda.


Dirga mengangkat kepalanya. Kesadarannya sudah kembali pulih berkat segelas kopi yang tadi diminumnya. Sambil memasang raut wajah serius bak seorang pemimpin, Dirga bersiap memulai pekerjaannya kembali.


****


Dimas tersenyum puas setelah membaca pesan text di ponselnya. Dia masukkan kembali benda pipih hitam itu ke dalam saku celananya. Lalu disesapnya sedikit kopi yang sejak tadi tak diminumnya -- karena kesal dengan sosok pria yang terus ‘menempel’ pada Selena.


“Sel..,” suara lembut Dimas seketika menghentikan percakapan seru dua orang berlawan jenis itu.


Selena menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati senyuman manis dari Dimas yang justru membuatnya bergidik.


“Ayo, sudah waktunya kita berangkat.”


Selena mengernyitkan alisnya. “Berangkat? Penerbangan kita kan 30 menit lagi? Sama dengan Leon. Benarkah kan, Leon?”


Mata cokelat Selena kini beralih ke seorang pria berparas Eropa. Yang ditanya, segera menggangguk dengan cepat seraya melihat jam di layar ponsel.


Dimas memiringkan kepalanya sambil memasang muka bingung. “Kenapa penerbangan kita sama dengannya?”


“Loh, kita mau ke Singapore,bukan?”


“Siapa yang bilang begitu?”


Ha? Alis Selena semakin mengernyit keheranan. Otaknya kembali memutar rekaman percakapan mereka saat tiba di bandara.


“Iya kok. Kamu sendiri yang bilang, kita mau ke Singapore,” ucap Selena setelah yakin dengan memori otaknya.


“Aku bilang seperti itu?” Dimas mengarahkan telunjuknya ke arah mukanya sendiri sambil tetap memasang muka polos kebingungan.


Selena mengangguk cepat dan kesal. “Iya, kamu!”


Dimas berdecak berkali-kali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Diraihnya kembali ponsel di saku celananya lalu diarahkan ke hadapan Selena.


“Sejak kapan aku bilang Singapore. Jelas-jelas tujuan kita itu Bali. Kamu lihat tiket ini kan?”


Bali.. Lagi-lagi Selena mengernyitkan alisnya. Dia sungguh- sungguh yakin kalau Dimas tadi mengatakan Singapore.


Tak mau membuang waktu terlalu lama, Dimas segera berdiri sambil mengamit lengan Selena. “Ayo.”


Leon yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka, tiba-tiba menahan pengelangan tangan Selena saat wanita itu hendak bangkit berdiri. “Tunggu.”


Emosi Dimas langsung terpancing melihat sentuhan fisik yang diberikan Leon pada Selena. Ditepisnya dengan kasar tangan Leon sambil mendelik tajam.


“Jauhkan tanganmu dari ISTRIKU!” Dimas menekankan kalimat terakhir dengan nada suara tegas.


Leon tak bergeming dan justru malah berdiri sambil menatap balik Dimas dengan sorot mata tak kalah tajam. Aura permusuhan kentara sekali terlihat dari kedua pria tersebut.


Menyadari hal itu, Selena buru-buru melepaskan tangannya dari cengkraman mereka. Terlebih lagi dia menyadari kalau saat ini mereka bertiga menjadi tontonan pengunjung disana.


“Lepas! Kalian apa-apaan sih? Orang-orang sedang memotret kita,tau!” bisiknya kesal.


Diam-diam Dimas mengedarkan pandangannya. Dan benar kata Selena, saat ini orang-orang tengah memperhatikan mereka sambil mengangkat ponselnya. Sekilas mereka mengingatkan Dimas pada sekawanan hyena yang sedang menunggu buruannya.


Tiba-tiba Leon merogoh sesuatu dari dalam tas kecilnya dan menyerahkannya ke tangan Selena.


“Apa ini?” Selena memandangi sebuah amplop silver di tangannya.


“Sebenarnya, aku ingin memberikannya nanti. Tapi lebih baik sekarang saja. Itu undangan perkumpulan gamer.”


Mata Selena berbinar senang. Dia hendak mengucapkan sesuatu. Tapi Dimas keburu memotongnya.


“Sudah kan? Tidak ada hal lain lagi?!”


Dimas mendorong koper kecil dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya terulur ke arah Selena. “Masih mau disini?”


Selena menggeleng sambil menerima uluran tangan Dimas. Dia tak mau membuat Dimas kembali kesal.


“Terimakasih, Leon. Kami pergi dulu," ucap Selena sambil berlalu pergi.


Leon mengangguk. Matanya masih memandang lekat punggung Selena. Dia menggeram pelan kala melihat tangan Selena yang melingkar di lengan Dimas.


****


DPS Entertainment


Jay berdiri terpaku sedikit ketakutan. Di depannya ada seorang wanita berambut coklat kemerahan yang sedang duduk sambil memainkan tabletnya.


Wanita itu belum mengucapkan satu kalimat apapun, tapi bulu kuduk Jay sudah bergidik ngeri.


Di samping Jay, Nayra juga berdiri tak kalah takut. Jari jemari tangannya saling memilin ke belakang. Napasnya terasa sesak. Detak jantungnya bekerja lebih keras dari biasanya. Keringat dingin terasa mengalir dari keningnya.


Cukup lama mereka berdua merasakan suasana yang mencekam sampai akhirnya Gina mulai membuka mulutnya.


“Apa kalian tahu alasan kalian berdua ada disini?”


Jujur saja, sebenarnya Jay sama sekali tidak tahu alasan dipanggilnya mereka berdua kesini. Tidak ada masalah yang terjadi. Semua jadwal dilaksanakan Nayra dengan baik dan sempurna.


Tapi tak mungkin Gina memanggil mereka tanpa alasan. Terlebih lagi, saat ini Gina sedang memperhatikan mereka dengan tatapan yang menakutkan. Jay memutar otaknya. Dia mengingat-ingat kembali setiap detail kecil yang mungkin ia lewatkan. Sampai dia menemukan suatu hal. Mungkinkah itu...?


“Beberapa hari yang lalu, Nayra pergi mengunjungi salah satu kerabatnya di kampung, Bu,” jawab Jay tiba-tiba dengan suara tercekat.


Ha? Mata hitam Nayra membulat --- terkejut mendengar ucapan Jay.


“Kerabat di kampung? Memangnya kerabatmu kenapa?” Pertanyaan Gina kini ditujukan untuk Nayra.


Nayra berjengit dan sempat terdiam sejenak selama beberapa detik. Namun entah bagaimana, dia kemudian bisa dengan lancar menjawabnya.


“Bibi saya sakit. Jadi saya menengoknya, Bu. Soalnya ... beliau yang membesarkan saya dan Kakak saya sewaktu masih tinggal di kampung.”


Gina mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan perkataan Nayra. Kesunyian kembali terjadi di dalam ruangan berdesain kontemporer minimalis itu.


Tapi kemudian, Gina menyunggingkan senyumnya. Sekejap, Jay dan Nayra merasakan kelegaan di hati mereka.


Setelah mereka berdua keluar dari ruangan Gina dan masuk ke van hitam --- bersiap untuk melaju ke tempat pemoretan selanjutnya, Jay memandang Nayra dengan raut wajah tegang.


“Sekarang kamu mengerti kan, Nay? Gerak-gerikmu diawasi Bu Gina. Untuk sementara ini, jangan bertemu dulu dengannya. Kecuali...,” Jay memasang seatbelt lalu melihat Nayra dari kaca spion.


“Kalau kau ingin kehilangan kariermu.”