
Selena baru kembali dari meetingnya saat mendapati buket bunga di atas mejanya. Dia mengambil buket mawar merah itu dan menciumi harumnya.
Sambil tersenyum lebar, dia mengambil ponsel dari saku blazernya dan mengetikkan pesan text kepada Dimas. Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
Dimas : Sugar, aku nggak ngerti maksud pesanmu. Terima kasih untuk apa?
Selena : Buat buket bunganya, Bi.
Dimas : Oh, aku kira apa. Iya sama-sama, Sugar. Gimana bunga lilynya? Bagus nggak? Maaf ya, bunga mawarnya habis. Tapi kata penjualnya, bunga lily juga sama harumnya seperti mawar.
Selena melotot kaget mendengarnya. Belum habis rasa keterkejutannya, Prita – asistennya masuk ke ruangannya sambil membawa buket bunga lily putih di tangannya.
Sambil membuka mulutnya tanpa bersuara, Prita mengatakan kalau buket lily itu dikirim dari Dimas.
DEG
Jantung Selena berdegup takut.
Jadi kalau bukan dari Dimas, lalu bunga ini dari siapa?
Dimas : Hallo.. Sugar? Kamu masih di sana?
Selena : Bi… (Suara Selena mulai bergetar)
Di seberang sana, Dimas segera membetulkan posisi duduknya begitu mendengar nada ketakutan Selena.
Dimas : Kenapa Sugar? (Dimas mulai terdengar cemas)
Selena : A..aku dapat buket mawar merah duluan. Aku pikir dari kamu. Aku nggak tahu dari siapa, nggak ada nama pengirimnya.
Dimas menggertakan giginya. Tanpa perlu memastikan, dia sudah tahu siapa pengirim buket tersebut. Dimas mengepalkan tangannya berusaha meredam emosinya.
Dimas : Nanti pulang kerja, aku jemput. Jangan keluar dulu dari kantormu. Tunggu aku.
Selena : Iya, Bi.
Dimas : Hati-hati ya, Sugar. Love you.
Selena : Love you, too.
Begitu percakapan berakhir, Selena bergegas membawa membawa buket mawar merah itu keluar. Dia segera menghampiri meja Prita, untuk menanyakan siapa pengirimnya.
Sayang, asistennya tersebut mengatakan kalau buket bunganya sudah seperti itu, saat ia menerima dari meja resepsionis.
Selena segera menuju lobi kantor bermaksud untuk mengonfrontasi resepsionis kantornya. Dan kembali menuai kekecewaan lantaran buket tersebut ternyata di kirim oleh kurir tanpa nama.
Apa mungkin ini dari Leon?
Selena sempat meremas buket mawar merah cantik itu sebelum akhirnya membuangnya ke tempat sampah.
****
Karena kejadian buket bunga itu, Dimas memutuskan untuk mengantar- jemput Selena sendiri ke kantor. Selena sempat menolak karena tak ingin merepotkan suaminya.
Tapi perkataan Dimas sudah final. Pria itu tak mau mengambil resiko membiarkan Selena sendirian.
“Sugar, lusa aku bakal ke Surabaya selama beberapa hari. Mau meninjau lokasi hotel baru. Kamu mau ikut?” tanya Dimas saat mereka berdua sedang bersantap malam di rumah.
Dimas terlihat kecewa. “Yasudah, tapi kalau nanti mendadak kamu berubah pikiran, kasih tahu ya.”
“Maaf ya, Bi.” Selena yang sadar perubahan raut muka suaminya, segera meremas tangan Dimas sambil mengusapnya pelan.
Dimas hanya mengulas senyumnya sambil menaruh sayuran hijau di piring Selena. “Jangan hanya ayamnya yang kamu makan, Sugar.”
Ekspresi Selena langsung keruh melihat brokoli di piringnya. “Aku udah makan wortel tadi.” Protes Selena sambil menyingkirkan brokolinya.
Dimas tersenyum geli melihat tingkah Selena. “Jangan pilih-pilih sayuran, Sugar. Nanti anak kita bisa meniru.” Goda Dimas.
Mendengar ucapan Dimas, Selena langsung tersedak. Wanita itu buru-buru meneguk segelas air di hadapannya. Netra cokelatnya membulat, menunjukkan raut keterkejutannya. “A-anak kita?’
Dimas mengangguk heran. “Iya. Anak kita. Memangnya kamu nggak mau punya anak, Sugar?”
Selena tertawa canggung. “Ma-mau lah. Tapi ya, nggak sekarang, Bi.” Selena menatap gugup Dimas.
Tidak pernah terbayang di benak Selena kalau mereka berdua akan melakukan percakapan seperti ini.
Melihat kegugupan Selena, Dimas segera menenangkan istrinya. Dielusnya perlahan tangan Selena. “Aku juga nggak mau sekarang. Kita berdua masih sama-sama sibuk. Ada banyak hal yang ingin aku lakukan berdua denganmu sebelum kehadiran bayi-bayi kecil di antara kita.”
Selena langsung tersenyum senang. “Makasih buat pengertiannya, Bi.”
Selena terlihat lega karena Dimas berjanji tak akan membahas masalah anak sampai Selena merasa siap. Tapi malamnya, Dimas kembali menginvasi kasur Selena.
Pria itu memakai alasan AC di kamarnya rusak. Mau tak mau, mereka kembali tidur bersama. Tapi kali ini, Selena memilih tidur membelakangi Dimas.
“Sugar.. Kamu sudah tidur?” Dimas berbisik di telinga Selena sambil memeluknya dari belakang. “Jangan tidur dulu.” Tutur Dimas lembut.
Belum sempat Selena bertanya alasannya, tiba-tiba ia merasakan tangan Dimas menelusup masuk ke dalam kaosnya. Selena terkesiap, dia hendak memutar tubuhnya tapi Dimas mencegahnya.
“Seperti ini dulu sebentar.” Dimas mendesah di telinga Selena sambil meraba-raba gundukan kenyal Selena yang tak tertutup pelindung. Tangan Dimas mulai memainkan ujungnya yang mengeras. Tanpa sadar erangan kecil lolos dari bibir Selena.
Barulah, Dimas membalikkan tubuh Selena. Kabut gairah terpancar dari mata keduanya. Dimas menatap sendu Selena, meminta persetujuan wanita itu sebelum memulai aksinya. Selena mengangguk malu-malu.
Setelah mendapat persetujuan, Dimas segera mel*mat bibir Selena, melakukan forepl*y di seluruh tubuh Selena sebelum memasuki **** ***** Selena. Mereka berdua saling berpelukan dan mengerang bersama saat pelepasan keduanya keluar untuk kesekian kalinya.
“I love you, Sugar.” Dimas mencium kening Selena seraya menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.
****
Hari keberangkatan Dimas ke Surabaya pun tiba. Siang itu, Selena sengaja meluangkan waktunya untuk melepas kepergian Dimas di bandara.
Untungnya Dimas memiliki pesawat jet pribadi sehingga Selena bisa mengantarnya sampai di depan benda raksasa terbang itu.
“Kamu beneran nggak bisa ikut?” Dimas mengerucutkan bibirnya, memeluk tubuh ramping Selena seolah enggan melepasnya.
“Beneran, Bi. Aduh, malu tau diliatin karyawanmu.” Selena sedikit berbisik, menyembunyikan wajah merahnya di balik tubuh tinggi Dimas.
“Biarin, kalau mereka sampai keberatan, aku pecat!” Cetus Dimas.
Selena menepuk dada Dimas. “Jangan salah-gunakan kekuasaanmu seenak jidat.” Tegur Selena.
Dimas hanya tertawa kecil sambil menangkup wajah Selena. Mencium kening, hidung dan bibirnya. Dimas sengaja berlama-lama mencium bibir Selena sampai membuat Selena menggerutu malu.
“Aku bakal merindukanmu. Selama aku nggak ada, kamu nggak boleh menyetir sendirian. Aku sudah siapkan supir di rumah. Ingat pesanku, selalu kabarin aku setiap saat.” Ucapnya sebelum melangkah pergi.