
Puluhan reporter terlihat sudah berkerumun sambil membawa kamera berlensa panjang. Mereka berbaris rapi di depan pintu keluar terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Meski cuaca saat itu cukup panas dan matahari bersinar terik, tak mengurungkan niat mereka yang sudah berada disana sejak beberapa jam lalu.
Penantian panjang mereka berbuah manis kala sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul.
Mengenakan kaos putih berbalut jaket kulit hitam dan skinny jeans biru, Nayra keluar sambil mencangklong tas kecil di pundaknya. Dia tampak modis dengan rambut layer cokelatnya yang sengaja ia biarkan tergerai.
Puluhan reporter langsung bergerak cepat mengambil gambar Nayra yang terlihat cantik meski hanya mengenakan riasan sederhana.
Nayra tersenyum di tengah kilatan flash yang mengarah padanya. Dia berhenti sejenak, membiarkan para reporter mengambil gambarnya. Nayra melambaikan tangannya sambil terus mengulas senyum manisnya.
Setelah dirasa cukup, Nayra yang di dampingi Jay dan beberapa bodyguard perusahaan, kemudian bergegas menaiki mobil van dan menuju perusahaan agensinya.
.
.
RS PONDOK JAKARTA
Alvino sedang bersiap-siap menerima pasien selanjutnya saat ponselnya bergetar. Seutas senyuman terbit di bibirnya saat membaca pesan chat yang masuk. Sikapnya ini tak luput dari perhatian Tina, suster pendamping barunya.
Manis banget senyumnya kayak gula. Pantesan banyak yang pengen jaga disini.
“Kira-kira masih ada berapa pasien lagi, Sus?” Pertanyaan Alvino mengejutkan Tina. Suster muda itu langsung buru-buru mengecek beberapa berkas rekam medik yang bertumpuk di mejanya.
“Masih ada 7 lagi, Dok.” Jawabnya.
“Oke. Makasih.” Balas Alvino seraya tersenyum lebar. Dia lalu mengecek jam tangannya, “berarti masih keburu,” gumamnya.
.
.
DPS Entertainment
Suara ketukan di pintu mengalihkan pandangan Gina dari layar komputernya. Begitu bertitah masuk, sekretarisnya masuk dan memberitahukannya bahwa Nayra dan Jay sudah menunggu di luar.
“Suruh mereka masuk,” ucap Gina.
Tak berselang lama Nayra dan Jay menyeruak masuk. Gina pun berdiri seraya mengarahkan telapak tangannya ke arah sofa panjang berwarna coklat. Mempersilahkan mereka untuk duduk terlebih dulu sementara dia melakukan sesuatu sejenak di komputernya.
Begitu Gina mendaratkan tubuhnya di sofa single, matanya lekat memperhatikan Nayra dan Jay yang duduk bersebelahan di sisi kanan sofa tamu. Dia tersenyum kecil melihat Nayra yang kelihatan jauh lebih sehat dibandingkan dulu.
“Gimana Nay? Sudah siap kembali ke industri hiburan?” tanya Gina tiba-tiba. Dia menjeda kalimatnya saat kedua mata mereka bertemu, “atau… masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri?”
Nayra mengangguk cepat “Saya sudah siap sepenuhnya, Bu,” tuturnya yakin.
Gina tertawa kecil, dia bisa merasakan keseriusan di balik mata Nayra. Selain itu Gina bisa melihat perubahan di diri Nayra.
Entah Nayra menyadarinya atau tidak, tapi di mata Gina sekarang, Nayra terlihat jauh lebih memukau dan dewasa.
“Bagus,” Gina tersenyum bangga. “Saya tahu, kamu akan menjawabnya seperti itu.” Pandangan Gina kemudian beralih ke Jay. “Kalau kamu gimana, Jay? Masih ingat dengan job deskmu?”
Jay nyengir seraya mengacungkan jempolnya, “masih dong, Bu.”
“Baguslah kalau kalian berdua sudah siap.” Gina pun berdiri diikuti Nayra dan juga Jay. Gina merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Nayra. “Selamat datang kembali di perusahaan, Nayra.”
***********************
“Bu, maaf ini ada titipan surat. Barusan di kasi sama Mirnah,” ujar Bik Ninik. Dia kemudian menyodorkan sebuah amplop putih.
“Dari siapa, Bik?”
“Kurang tahu, Bu. Tadi itu, Mirnah bilang pas dia mau masuk komplek ada laki-laki bule cegat dia terus nitipin ini buat Ibu. Pas di tanya namanya siapa, dia bilang ‘Selena udah kenal saya’. Gitu Bu, katanya Mirnah.”
DEG
Jantung Selena langsung berdebar kencang begitu mendengar jawaban Bik Ninik. Dia mematung sambil memegang surat tersebut di tangannya. Bik Ninik memperhatikan raut muka majikannya yang tampak kaget.
“Orang iseng ya, Bu? Apa perlu saya buang suratnya? Maaf ya Bu, lain kali saya suruh Mirnah tolak aja kalau ada yang nitipin surat lagi,” Bik Ninik mengira kalau Selena syok dan menganggap kalau surat yang di terima Selena adalah surat ancaman.
“Oh,” Selena segera tersadar. Dia tersenyum samar, “nggak kok, Bik. Dia benar. Saya memang kenal sama dia. Teman lama.”
“Ooo… syukur deh Bu. Saya kira penganggu atau apa itu Bu, bahasa gaulnya?” Bik Ninik mendelik ke atas, berusaha mengingat-ingat kata-kata gaul yang biasa di obrolkan PRT-PRT komplek, “stalker ya kalau nggak salah?”
Selena membelalakkan matanya kaget. Tidak menyangka kalau wanita seumuran Bik Ninik bisa tahu kalimat semacam itu. Selena jadi terkikik geli. Dia baru ingat kalau hampir semua asisten-asisten rumah tangga di kompleknya merupakan gadis-gadis muda berusia 20an. Wajar kalau Bik Ninik mempelajari kata-kata gaul dari mereka.
“Bik, saya mau ke kamar dulu. Saya titip Sky ya, Bik.” Selena mencium sejenak Sky yang tertidur pulas di kasur kecilnya.
“Siap, Bu.”
Selena tersenyum lalu perlahan melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya. Dia lalu mendudukkan tubuhnya di tepi kasur. Menarik napas panjang sejenak sebelum membuka surat tersebut.
Buliran bening air matanya langsung menetes tanpa bisa ditahannya saat membaca surat tersebut. Selena membekap mulutnya, menahan isakan kecil yang mungkin bisa di dengar Bik Ninik walau sebenarnya mustahil karena pintu kamarnya tertutup rapat.
Selena tertunduk sambil memegan surat tersebut begitu selesai membacanya. Cukup lama dia di posisi itu sampai akhirnya dia mengangkat kepalanya. Mengusap air matanya seraya mengulas senyum kecil.
Ada kelegaan menjalar rongga dadanya. Surat dari Leon mempertegas keputusannya sekaligus mengakhiri perasaan di antara mereka. Meski Selena tidak tahu apakah Leon bersungguh-sungguh seperti dalam isi suratnya, tapi Selena percaya kalau Leon adalah pria yang menepati janjinya.
Selena lalu berdiri, melipat surat tersebut lalu menaruhnya di laci. Dia bermaksud memperlihatkannya nanti kepada Dimas.
Mereka sudah berjanji akan terbuka dengan segala hal walau sekecil apapun.
Meski cemas akan reaksi Dimas nantinya, tapi Selena tetap harus menunjukkan surat itu padanya. Tiba-tiba saja Selena teringat pada salah satu nasihat Mamanya dulu.
‘Kak, Salah satu kunci langgengnya suatu hubungan adalah kejujuran. Dengan kejujuran, rumah tangga kalian akan terasa menyenangkan dan nyaman. Meski pahit, kamu tetap harus berucap jujur. Biarkan tangan Tuhan yang melanjutkannya'.
**************************
“Mau tambah camilannya, Pak?”
Leon menggeleng sambil tersenyum, “tidak, terimakasih. Saya mau istirahat.”
Leon melepas sabuk pengaman yang melilit pinggangnya. Dia lalu bangkit dari duduknya menuju kamar yang disiapkan khusus untuknya.
“Baik, Pak. Selamat beristirahat. Jika perlu sesuatu, Anda bisa menekan tombol di ujung tempat tidur,” ucap pramugari sambil memundurkan langkahnya, memberi ruang agar Leon bisa berjalan melewatinya.
Baru sampai di depan pintu, tiba-tiba Leon membalikkan tubuhnya. Menatap pramugari yang masih berdiri di tempatnya, “tolong bawakan saya segelas champagne.”
Pramugari tersebut mengangguk dan segera membawakan permintaan Leon. Tak berselang lama kemudian, pramugari tersebut datang dengan round tray berisi segelas champagne di tangannya.
Begitu pramugari tersebut keluar dari kamarnya, Leon langsung menengak habis champagne-nya lalu merebahkan tubuhnya ke kasur.
Sambil melipat tangan kirinya menutupi wajah, lamat-lamat Leon mulai memejamkan matanya. Tanpa ada yang tahu, diam-diam cairan bening mengalir dari ujung matanya.
“Semoga kamu bahagia selalu, Selena……” ucapnya lirih sebelum jatuh terbawa mimpi.