
Selena memandang tampilannya di depan cermin seraya memutar-mutar badannya. Dia mengigit bibirnya cemas membayangkan reaksi Dimas saat melihatnya nanti. Pasalnya, Selena mengenakan gaun berbeda dari yang ia tunjukkan ke Dimas siang tadi.
Entah kenapa, Selena mendadak ingin menampilkan sisi liar dirinya. Selama ini ia cenderung memilih gaun tertutup atau minimal sebatas off-shoulder atau diatas lutut. Tapi kali ini pilihannya justru jatuh pada sebuah dress merah yang selama ini hanya mengendap di dalam lemarinya.
Sebuah gaun panjang tanpa lengan dengan leher berbentuk V. Gaun itu menampilkan jelas lekukan tubuhnya yang ramping. Selena mendesah gusar, dari depan saja gaun itu sudah terlihat menantang. Tapi bagian belakang gaun itu pun juga tak kalah menantang karena cukup terbuka hingga mengekspos punggung putih mulus Selena.
Dimas bilang suruh pakai gaun yang gue mau kan? Terserah deh, kalau dia keberatan tinggal gue ganti.
Mengantisipasi penolakan Dimas, Selena sudah mempersiapkan gaun yang lebih sopan di koper kecilnya. Perhatiannya kini dialihkan ke make-upnya. Lipstick merah sengaja ia pulaskan di bibir tipisnya. Riasannya wajahnya pun sengaja ia buat sedikit lebih mencolok.
Hari itu, Selena memang ingin tampil sedikit lebih berani dari biasanya, melupakan sisi kalem yang selama ini di usungnya.
Apalagi ini pertama kalinya Selena menghadiri sebuah acara resmi yang dihadiri oleh berbagai kalangan pengusaha terkenal seantero Asia. Ia mau terlihat membanggakan sebagai menantu keluarga Soetedjo.
Strappy heels berwarna senada dan clutch purse satin menjadi pilihan Selena untuk menunjang penampilannya. Sebagai sentuhan terakhir, Selena menyemprotkan parfum di pergelangan tangan dan belakang telinganya.
Setelah memastikan semuanya sempurna, Selena beranjak keluar dari kamar hotelnya. Sepulang kerja tadi, Selena memang langsung menuju hotel tempat acaranya digelar.
Di depan kamar hotel, Dimas sudah berdiri menunggunya sambil memainkan gawainya. Dibalut jas hitam, tubuh tinggi Dimas terlihat sempurna sebanding dengan wajahnya yang tampan.
Begitu pintu terbuka, Dimas langsung menoleh dan seketika terperangah. Matanya terbuka lebar dan terdiam membeku melihat Selena.
“Kenapa? Ada yang salah ya dari tampilanku?” tanya Selena gusar sambil menelisik ke bawah gaunnya.
Dimas menggeleng. Tampaknya pria itu masih kesulitan membuka mulutnya sampai Selena harus meremas tangannya. “Jangan liatin aku seperti itu…,” Selena tertunduk malu.
Dimas menyentuh lembut dagu Selena hingga membuatnya mendongak. “Maaf, aku terlalu terpukau, sampai nggak bisa ngomong.”
Pipi Selena bersemu merah. Dia mendorong pelan tubuh Dimas. “Udah ah. Jangan diterusin lagi. Bisa terbang aku nanti,” gurau Selena.
Dimas tertawa kecil sambil menggamit lengan Selena. “Kalau kamu terbang, ada aku yang…Wow...” seruan Dimas mengagetkan Selena hingga refleks mengikuti arah pandangan Dimas ke punggungnya.
“Kenapa? Terlalu terbuka ya? Hahh, aku udah nyangka sih bakalan aneh. Kirain cocok pakai gaun model begini. Ternyata nggak. Kita masih ada waktu,kan? Aku bawa gaun ca….,”
Selena tak sempat menggenapi kalimatnya karena Dimas keburu mengecup bibirnya singkat.
“Aku nggak bilang gaun ini aneh, loh. Kenapa sih, kamu selalu mengartikan negatif semua reaksiku? Aku cuma kaget karena ini pertama kalinya aku lihat kamu pakai gaun seperti ini. Dan kekagetanku itu maknanya positif. Karena kamu cantik banget malam ini.”
Sebagai gantinya, Dimas hanya melayangkan kecupan singkat di kening Selena. Lalu menggandengnya menuju ballroom hotel yang sudah di desain mewah sesuai tema acara.
Kini giliran Selena yang dibuat terperangah dan gugup. Dari kejauhan, Selena sudah bisa melihat sosok Jack Ta, seorang pengusaha E-Commerce terkenal di dunia. Ada juga Anthony Wan, founder salah satu layanan transportasi online yang sering Selena gunakan.
Selena menghembuskan napas panjang. Dia mungkin sering berurusan dengan bos-bos penting di Jakarta, tapi malam ini skalanya sangat jauh dari yang biasanya ia temui. Mereka yang hadir disini adalah sekumpulan orang-orang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Wajar saja kalau perutnya mendadak terasa mulas.
Seolah mengerti kecemasan Selena, Dimas meremas erat tangan Selena. Ia sengaja tak melepaskan Selena dari sisinya. Mereka berjalan bersisian sambil menyapa koleganya.
Tak lupa, Dimas juga mengenalkan Selena sebagai istrinya agar Selena bisa merasa nyaman berbaur dengan mereka.
Langkah ini cukup efektif karena membuat Selena lebih rileks. Kehadiran Gina dan Martin juga membantu menghilangkan kegugupan Selena. Wanita itu bahkan tak canggung lagi mengobrol dan tertawa lepas dengan tamu-tamu yang hadir di sana.
“Oh,iya. Sebenernya gue dateng nggak sendiri. Selain sama Martin, gue juga bawa salah satu artis gue.” Ungkap Gina saat mereka berempat tengah mengobrol.
DEG.
Feeling Selena sudah merasa tak enak. Dan benar saja, tiba-tiba Nayra muncul dari balik punggung Gina.
“Sel, lo mungkin udah kenal. Tapi gue kenalin secara resmi ya. Kenalin, ini Nayra. Top model dan aktris rookie terkenal.” Gina menepuk pundak Nayra dengan bangga.
“Nay, ini sahabat saya, Selena dan suaminya, Dimas Soetedjo,” Gina memperkenalkan Selena dan Dimas kepada Nayra.
Nayra menyapa dengan ramah. Wanita itu bahkan sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda kesopanan. Namun sekilas, Selena melihat ada tatapan permusuhan di manik hitam Nayra.
Bahu Selena menegang saat pandangan Nayra tertuju pada Dimas. Diam-diam Selena melirik ke arah Dimas. Ia ingin mengetahui respon yang ditunjukkan pria tersebut.
Sesuai dugaannya, Dimas mematung melihat Nayra. Untuk sesaat, Selena merasakan rasa pedih di hatinya.
Tapi kemudian ia menyadari kalau pandangan itu bukan ditujukan untuk Nayra. Melainkan sesosok bayangan yang tiba-tiba menghampiri mereka berlima.
Seorang pria berparas Eropa tersenyum lebar sambil menyapa Selena.
“Hai Sel. Apa kabar? Sudah lama ya kita tidak bertemu.”