The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kebahagiaan Dimas



Derap lari seorang pria bergema di lorong koridor. Sambil berlari matanya menyisiri koridor, mencari tempat tujuannya. Ketika matanya tertumbuk pada sebuah ruangan bertanda ‘IGD’ , pria itu mempercepat laju larinya dan bergegas masuk.


Celingukan, pria itu terlihat menelpon seseorang. Belum juga panggilannya tersambung, seorang wanita berperawakan mungil tiba-tiba menghampirinya.


“Bu Selena ada disana, Pak.” Prita menunjuk sebuah bed sheet bertutup tirai di pojokan.


Dimas mengangguk dan langsung menuju tempat yang dimaksud. Begitu tirai tersingkap, dia melihat Selena masih terpejam dengan selang infus menancap di tangan kirinya.


“Sugar…” Dimas membelai rambut Selena lalu mencium keningnya. “Kenapa Selena masih belum juga bangun Prita? Sudah diperiksa dokter? Apa kata dokter?”


Pandangan Dimas beralih ke Prita. Wanita itu terkejut ditodong pertanyaan bertubi apalagi Dimas bertanya sembari melempar delikan tajam padanya.


“Sa-saya.. nggak tahu Pak. Ta-tadi dokter hanya menjelaskan ke Pak Leon saja.” Prita ketakutan. Keringat dingin terasa mengalir di punggungnya. Dalam hati, ia merutuki kebodohannya.


Harusnya tadi gue juga ikut dengerin penjelasan dokternya! Duh, bodoh banget.


Rahang Dimas mengeras mendengar nama yang baru disebutkan Prita. Kenapa pria itu selalu saja menganggu hidupnya? Dari puluhan karyawan pria di kantor Selena, kenapa harus dia yang membawa Selena kesini?


Dimas menghela napas jengkel. Ini sama saja


memiliki hutang budi pada pria itu. Sambil menyugar kasar rambutnya, Dimas berjalan keluar mencari keberadaan Leon.


Baru beberapa langkah keluar dari ruang IGD, dia menemukan Leon tengah duduk sambil tertunduk di kursi tunggu pasien. Dari samping, Dimas mengamati raut Leon yang terlihat muram. Rambutnya sedikit berantakan dengan kemeja yang kusut.


Dimas tersenyum sinis. Apaan nih? Kenapa malah jadi dia yang lebih kelihatan kacau ketimbang aku?


“Ehemmm…” Dehaman Dimas mengejutkan Leon. “Apa kata dokter?” todong Dimas tanpa basa-basi.


Leon berdiri. Pupil abu-abunya menyorot hampa. Untuk sejenak, Dimas bisa merasakan sorot kekecawaan di dalamnya. “Mereka….baik-baik saja,” jawabnya lirih.


Dimas mengernyit heran. “Mereka? Mereka siapa? Hei!!” Dimas berusaha mencegat Leon yang mau beranjak pergi.


Leon menyentak kasar tangan Dimas di lengannya. “Tanyakan sendiri pada dokternya!” Tukasnya sambil melenggang pergi.


“Cecunguk gila!” Dimas mengumpat, masuk kembali ke ruangan IGD. Mencari sosok yang dibutuhkannya. Dan menemukannya di meja depan, tengah berbincang dengan seorang perawat wanita.


“Permisi, dok.”


Dokter muda itu berbalik badan dan langsung sumringah begitu melihat ketampanan Dimas.


“Ya? Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Dokter muda itu menaruh stetoskop di sakunya seraya mendekati Dimas.


“Saya suami dari pasien yang bernama Selena. Saya mau tahu hasil diagnosanya. Kenapa istri saya masih belum bangun juga?”


Pertanyaan beruntun Dimas seketika melunturkan senyumannya.


Dokter muda tersebut memasang ekspresi datarnya sambil menyuruh seorang perawat membawakan rekam medik Selena.


“Anda suaminya?” Dokter muda itu mendelik dari balik map biru yang dipegangnya.


“Iya. Saya suaminya. Apa perlu saya tunjukkan buku nikah kami?!” Dimas mulai jengkel. Jengkel karena sorotan dari perawat-perawat kecentilan yang berseliweran di dekatnya.


“Oh. Maafkan saya, Pak.” Dokter itu langsung tersenyum kikuk. “Soalnya tadi saya sudah menjelaskan perihal kondisi pasien kepada pria yang …...”


“Dia asisten saya,” potong Dimas tak sabaran.


“Kandungan?”


Dokter itu terlihat bingung. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. “Ah, sepertinya bapak belum tahu ya? Istri bapak sekarang sedang mengandung. Perkirannya mungkin 2 atau 3 minggu. Tapi untuk lebih jelasnya, bapak bisa berkonsultasi dengan dokter kandungan begitu istri bapak sudah sadar.”


.


.


Mata Selena perlahan terbuka. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menusuk sela-sela netranya. Selena meringis tidak suka ketika mencium bau karbol yang berasal dari lantai rumah sakit.


Sambil mendesah lemas, Selena baru menyadari sesuatu. Keningnya mengerut. Matanya memandang sekeliling. Bentuk kamar ini terasa familiar.


Loh, ini bukannya kamar inap rumah sakit ya? Kenapa aku ada disini?


Mata Selena kemudian tertuju pada selang infus yang menancap di tangan kirinya. Sambil mengubah posisinya menjadi duduk, Selena berusaha mengingat kejadian terakhir yang diingatnya.


“Leon….,” Selena mendesis pelan. Ingatan terakhirnya yaitu saat Leon datang ke kantornya. Mereka sempat bersitegang sebelum semuanya menjadi gelap.


“Kamu sudah sadar, Sugar?” Suara Dimas mengagetkan Selena.


Pria itu mendekati Selena, memeluknya lalu menghujaninya dengan ciuman. Bermula di kening, hidung dan berakhir di bibirnya. Selena tak menolak, dan membiarkan Dimas berlama-lama menjamah bibirnya.


Barulah saat ciuman Dimas mulai terasa menuntut, Selena mendorong Dimas menjauh. “Bi!” serunya.


Sekelebat, dia sempat melihat bayangan Prita yang berbalik badan. Selena merona malu. Pasti asistennya tadi melihat adegan ciumannya tersebut.


Dimas hanya nyengir. Mengambil satu buah kursi kecil, lalu mendudukinya di samping bed sheet Selena. “Gimana kondisimu, Sugar? Masih terasa pusing? Atau mungkin lemas? Perlu aku panggilkan dokter?”


“Satu-satu tanyanya, Bi,” Selena tergelak geli. Matanya mengedar ke sepenjuru ruangan. Seketika, Selena teringat kembali kepada Leon. Napasnya tercekat. Bayangan netra abu-abu Leon yang meratap hampa terasa mencelos hatinya. “Bi,hal terakhir yang aku ingat itu, saat Leon datang ke kantorku. Sekarang dia ada dimana?”


Dimas melengos tidak suka. Sambil menyugar kasar rambutnya, dia menyahut pendek. “Sudah pergi.”


Namun beberapa detik kemudian, dia termangu sejenak. Lalu mengumpat kesal. “Sial! Aku lupa kalau kamu pingsan gara-gara dia! Hampir aja tadi aku mau ngucapin terima kasih! Dia pasti udah bikin kamu ketakutan ya? Dasar cecunguk gila!” umpatnya.


Selena bubur-buru menyahut. “Bukan gara-gara dia. Aku pingsan karena kelelahan. Kemarin aku udah bilang kan, kalau akhir-akhir ini badanku gampang capek.”


Dimas menepuk jidatnya menyadari kebodohannya. Ini bukan saatnya berdebat. Seharusnya Dimas memberitahukan Selena perihal kehamilannya. Sambil tersenyum lembut, Dimas mengecup punggung tangan Selena. Berhati-hati agar tak menyenggol jarum infusnya.


“Kamu tahu kenapa kamu gampang capek?” Selena menggeleng. Dimas mengelus pipi Selena perlahan, “karena kamu lagi hamil, Sugar.”


Kalimat Dimas sontak mengejutkan Selena. Netra cokelatnya terbuka lebar. Sambil menutup mulutnya yang ikut terbuka, Selena memejamkan matanya sesaat. “Aku hamil? Serius, Bi? Jangan bohong kamu,” tanyanya tak percaya.


“Serius, Sugar. Makanya nanti sore ada dokter kandungan datang kesini buat meriksa kamu.”


Selena memindai raut muka Dimas dan melihat kejujuran di sorot matanya. Darahnya mendesir, matanya mulai berkaca-kaca.


Memiliki anak sebenarnya tak menjadi rencananya saat ini. Tapi nyatanya begitu mendengar tentang kehamilannya, ada perasaan aneh menggelanyar hatinya.


“Loh, Sugar kamu kenapa? Kok nangis?” Dimas bangkit dari duduknya, mengusap cairan bening di pipi Selena.


Selena tak menjawab. Melihat hal itu, Dimas langsung merengkuh Selena ke dalam pelukannya. Dimas paham kenapa Selena seperti itu. Sama seperti dirinya, Selena pasti juga merasakan perasaan haru.


Ah, jika tahu akan sebahagia ini, seharusnya dari dulu saja dia mengiyakan perjodohannya dengan Selena.