
Langit biru cerah berhiaskan awan putih nan menari indah, menyambut sepasang manusia yang baru saja mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan.
Suasana khidmat merasuki tiap relung batin tamu undangan kala Nayra dan Alvino saling bersumpah setia sehidup semati.
Penyatuan bibir di akhir acara menjadi momen sakral dan haru bagi Nayra dan juga Alvino. Menandakan bahwa mereka berdua kini telah sah menjadi pasangan suami - istri di mata Tuhan dan negara.
.
.
“Kamu nangis, Hon?” tanya Martin berbisik.
Gina mengangguk, “ini..sedih banget Hon..” Gina terisak. Mengusap ujung hidungnya yang memerah.
Martin mengulum senyum sambil mengulurkan saputangan. Melirik Gina yang sibuk mengusap air matanya.
Di kehamilan Gina yang kedua ini, dia memang menjadi lebih sensitif. Gampang menangis dan marah-marah. Beruntung, Martin dianugerahi kesabaran ekstra dalam menghadapi tingkah Gina yang terkadang membuatnya mengurut dada.
“Aku mau makan rujak.. Cariin Hon..” bisik Gina tertahan.
“Sekarang?” Martin mengerutkan kening bingung.
“Tahun depan! Ya, sekarang lah!”
Martin merogoh saku celana, mengambil ponsel pintarnya. Bermaksud memesan rujak dari aplikasi online. Baru juga membuka aplikasinya, Gina sudah keburu merebut ponselnya.
“Aku maunya kita cari sendiri. Kalau ngorder doang, aku juga bisa dari tadi.” Gina mencebikkan bibirnya kesal. “Aku enggak mau tahu, pokoknya sekarang kita cari abang rujak sampai dapat.”
Martin memijit pelipisnya.
Sabar..sabar…
“Lo berdua kenapa deh?” tanya Selena yang sejak tadi memperhatikan pasangan suami-istri itu.
“Tau tuh, Martin ngeselin!” Sahut Gina. Melempar pandangan kesal, sementara Martin mengendikkan bahunya kebingungan. “Ih,kamu ya Hon.. Ngeselin banget!”
Tiba-tiba saja Gina mengangkat ujung kebayanya hingga memperlihatkan betisnya dan melangkah lebar-lebar, meninggalkan Selena dan Martin begitu saja.
“Mereka kenapa, Sugar?” Dimas merangkul pinggang Selena sambil memperhatikan Martin berlari di kejauhan. “Gina mode ngambek lagi ya?”
Selena mengangguk. “Hu-um.”
“Nanti kamu jangan gitu ya kalau hamil anak kedua. Manja ajah, enggak usah pake ngambekan,” bisik Dimas di telinga Selena.
Selena mendelik. Mencubit lengan suaminya, “terus kalau misalnya nanti aku juga ngambekan, mau kamu tinggalin?”
Dimas meringis kecil. Mengusap cubitan di lengan kanannya. “Ya, enggaklah. Dapetin kamu aja susah, masa mau aku tinggal. Ya..paling aku karungin biar enggak ngambek.”
“Emangnya aku kucing?!” protes Selena.
“Mama….”
Dimas dan Selena sama-sama menoleh saat mendengar Sky memanggil Selena. Bocah laki-laki itu berlari dan langsung menubruk Selena. Menarik-narik dress Selena.
“Mama… Aku mau main sama uncle. Boleh nggak?” tanya Sky dengan pandangan berbinar.
“Uncle Raymond?”
Sky mengangguk. “Boleh ya, Ma…” Sky mengatupkan kedua tangannya, “please?”
Selena menyipitkan matanya. Dari kejauhan terlihat Raymond sedang mengobrol dengan
teman perempuannya.
Tumben banget Sky mau ikut Raymond kumpul sama temannya?
Selena semakin memicingkan matanya. Ah, dia tahu alasannya. Ternyata teman perempuan Raymond membawa seorang bocah perempuan di sebelahnya. Selena mengulum senyum jahil. Begitu pun Dimas. Mereka saling berpandangan sambil menahan tawa.
“Iya, boleh. Tapi jangan jauh-jauh. Eh, Kakak enggak mau ganti baju dulu? Masa main pake jas?” tanya Selena.
Sky menggeleng, “no. Jas kan keren. Aku mau pakai ini seharian.”
Dimas tertawa lalu berjongkok menyamakan tinggi Sky. Menepuk pundak Sky. “Bukan jas yang bikin Kakak kelihatan keren.”
“Terus apa dong, Pah.”
Dimas menyugar rambutnya. Memberikan tatapan congkak, “wajah kita yang bikin kelihatan keren. Contohnya, Papa. Papa pakai baju apa pun tetap kelihatan keren kan?” Dimas menaik-turunkan alisnya. Menggoda putra tunggalnya.
“Kakak pun juga gitu. Karena wajah kita mirip, berarti gantengya Papa sama seperti gantengnya Kakak.” Tambah Dimas dengan PDnya.
Selena memutar bola matanya mendengar kalimat Dimas yang sangat cringe menurutnya.
“Hmm…” Sky tampak berpikir. Sedetik kemudian, dia mengangguk dan melepas jasnya. Dimas lantas membantu Sky membuka dasinya. Tak lupa Dimas juga membuka satu kancing kemeja Sky dan menggulung lengannya sampai ke siku.
“Nah, ini baru… keren!” Dimas mengacungkan kedua jempolnya. Lalu mengajak Sky melakukan high-five.
“Thank you, Papa,” Sky menyambut high-five Dimas dengan semangat dan memeluknya. Dan lantas merentangkan tangannya ke depan Selena.
Begitu Selena berjongkok, Sky langsung memeluknya dan mencium pipinya. Lalu setelah itu, dia berlari menghampiri Raymond.
Selena berdiri begitu juga Dimas. Mereka berdua memperhatikan Sky dari kejauhan. Anak laki-laki mereka kini tampak mendekati bocah perempuan yang sepertinya lebih muda dari Sky. Dimas tersenyum bangga saat melihat Sky menggandengnya dan berlarian bersama di pantai.
“Kita ‘main’ juga yuk, Sugar.” Dimas merangkul pinggang Selena, menarik wanita itu meninggalkan ballroom. “Aku kangen,” godanya berbisik yang lantas dibalas cubitan kecil dari Selena.
.
.
Resepsi Alvino dan Nayra diadakan di tempat yang sama. Mengusung konsep outdoor, resepsi mereka berdua memancarkan romantisme keindahan laut malam.
Ballroom yang menghadap laut Pasifik menyajikan pemandangan alam yang memukau. Dari kejauhan, laut tenang memantulkan cahaya bulan keperakkan.
Alvino tak hentinya memamerkan senyum kebahagiaan. Dia dan Nayra seolah seperti upin ipin, jalan berduaan menyapa tamu undangan. Memamerkan cincin kawin yang tersemat di jari mereka.
Mereka baru memisahkan diri setelah Nayra ditarik paksa Megan untuk bercengkrama dengan teman-teman wanitanya. Sementara Alvino akhirnya memilih bergabung di meja Gina dan Selena.
“Ya elah Vin, lama-lama punggung Nayra bolong kalo lo liatin kayak gitu,” sindir Gina melihat Alvino tak melepaskan pandangannya dari Nayra.
Alvino cemberut. “Ya masa pengantin jauh-jauhan? Gue kan masih kangen.” Tambahnya dengan mimik masam.
Gina mengernyit gemas sambil memukul lengan Alvino. Pria itu sontak protes. Menggoyangkan jari telunjuknya ke udara.
“Eitss. Lo udah enggak boleh pegang-pegang gue lagi. Sekarang badan gue udah jadi hak milik Nayra,” kata Alvino sambil menyikut Selena, mengadu kepadanya saat Gina berniat memukulnya lagi.
“Tolong Sel. Gue mau dianiaya ibu hamil.”
“Yeh, ngaduan. Cemen!” Gina mendelik kesal.
“Hush.. kalem, Gin.” Peringat Selena.
“Habis gue sebel sih liat si Vino.”
“Enggak tahu. Pokoknya gue sebel aja ngeliat elo.”
Selena tertawa, melirik Alvino dan Gina bergantian. “Wah bawaan bumil. Fiks, ini mah anak lo bakalan mirip Vino.. Hahahaha..” kelakar Selena geli.
“Idih amit-amit. Sembarangan lo Sel, kalau ngomong.” Gina mengusap perutnya yang buncit. “Jangan ya nak. Mendingan kamu mirip uncle Dimas aja deh.”
Alvino sontak protes keras. Bibirnya meletup kesal. “Emang gue kenapa? Gue sama Dimas 11-12 tahu. Sama-sama tinggi, cakep, pinter. Gue juga kerja pake jas. Bedanya jas gue itu-itu aja. Hahaha..”
“What? Cakep? Heh.. yang bilang lo cakep palingan cuman Nayra sama tante doang.” Sanggah Gina julid.
“Eh.. udah-udah… Ini kalau diterusin, enggak bakalan kelar-kelar. Malu tahu dilliatin orang,” Selena melerai perdebatan Gina dan Alvino karena beberapa tamu undangan mulai memperhatikan mereka bertiga.
Gina dan Alvino saling melirik dan menjulurkan lidah. Memprovokasi satu sama lain. Selena memutar bola matanya malas.
“Gue pergi aja lah,” kata Selena.
“Eh, jangan!” Gina dan Alvino berseru kompak, mencegah Selena pergi.
“Kita enggak bakal ribut lagi deh,” Gina mengalihkan netranya ke Alvino, “Tapi serius, bawaan gue emang sensian mulu sama elo, Vin. Bawaan hamil kali ya.”
Alvino langsung merajuk. Bibirnya berengut.
“Enggak bagus loh, Gin kalau marah-marah selama kehamilan. Kasian bayinya,” ujar Selena.
Gina menarik napas gusar, “iya. Ini juga gue lagi tahan-tahanin buat nggak geplak kepala si Vino.”
Mendengar ucapan Gina, Alvino langsung beringsut menjauh. Memilih duduk di samping Selena. Menjadikan wanita itu pembatas antara dirinya dan Gina. Dia takut Gina kelepasan memukul dirinya lagi.
“Yeh, daripada gue digebuk. Mending gue antisipasi duluan. Sakit tahu Gin kena gebukan elo,” alasan Alvino saat Gina protes melihatnya berpindah tempat duduk.
Gina hanya nyengir. Netranya kemudian beralih memandang laut lepas. Menghela napas panjang sambil menyandarkan kepalanya di pundak Selena.
“Lautnya cantik ya?”
Selena mengangguk. Tersenyum simpul seraya mengenggam tangan Gina. “Udah lama banget ya, kita gak pergi bertiga,” ucapnya sambil mengerling ke arah Alvino.
“Jadi kangen masa-masa kuliah dulu. Eh, terakhir kita pergi bertiga kapan sih?”
“Terakhir ke Puncak deh. Kalau gue enggak salah inget.”
Alvino mengangguk, “iye. Kita ke Puncak bareng Martin juga. Udah lama banget berarti ya..”
Mata Alvino menerawang. Kilas balik liburan mereka di Puncak mengingatkannya lagi tentang perasaannya kepada Selena dulu.
Bertahun-tahun menyukai Selena tapi siapa yang sangka justru sekarang dirinya malah berjodoh dengan mantan pacar dari suami Selena?
Tiba-tiba saja Selena menggengam tangan Gina dan Alvino, menyandarkan pria itu dari lamunannya.
Alvino dan Gina kompak memalingkan wajahnya ke arah Selena. Wanita itu tersenyum menatap kejauhan. Gina dan Alvino pun mengikuti arah pandang Selena.
“We will be not same anymore, are’nt it? But this friendship must be lasting forever,” tutur Selena. “No one gonna changed that.”
“Of course! We must be the best buddies for a long .. long.. long time.” Balas Gina.
Alvino mengangguk mengiyakan, “Definitely agree.”
Mereka bertiga bertukar pandangan sekilas lalu mengeratkan genggaman tangan mereka sambil memandang laut lepas malam.
Selena, Gina dan Alvino bernostalgia ke masa lalu, mengenang persahabatan mereka yang terjalin sejak masa kuliah. Ke depannya, meski kelak sulit bertemu lagi, namun malam ini akan menjadi salah satu moment tak terlupakan di catatan persahabatan mereka.
“Sugar? Alvino? Gina? Sedang apa kalian disini?” Seruan Dimas mengejutkan ketiganya.
Mereka berbalik dan mendapati Dimas, Martin serta Nayra menatap bingung ketiganya.
“Aku nyariin kamu dari tadi, Hon.” Martin menyilangkan tangan di dada sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Gina tertawa kecil seraya berdiri memeluk Martin, “sorry Hon, aku lagi mellow bareng mereka.”
Selena ikut berdiri menghampiri Dimas. “Sky dimana Bi? Udah ke kamar?” tanya Selena yang langsung diangguki Dimas.
“Sayang, teman-temanku nyariin kamu. Kita mau foto-foto..” Nayra menarik Alvino agar bangkit dari duduknya.“Eh, tapi kita semua juga belum sempet foto bareng,” cetus Nayra.
Mata Nayra mengedar, mencari fotografer weddingnya. Tapi sosok yang dicari tidak kelihatan batang hidungnya.
“Foto pake ponsel aja dulu deh. Kelamaan,” ujar Gina tak sabaran. Dia mengambil ponsel dari clucth bagnya dan menyodorkannya ke Dimas, “yang tangannya panjang.” Kekehnya.
Meski Dimas mengernyit tidak suka toh dia tetap menerimanya. Karena memang di antara mereka, Dimas lah yang paling tinggi. Walau hanya berbeda beberapa cm dari Alvino.
“Siap-siap ya…” Dimas memposisikan ponsel dengan tangan kirinya, “Vin, elo nggak keliatan, geser sedikit. Nah iya gitu. Sugar, kamu deketan lagi deh ke aku. Gina, jangan cemberut.”
Bak fotografer profesional, Dimas mengarahkan mereka semua agar muat ke dalam frame layar ponsel Gina.
“Siap-siap ya.. 3..2..1” Dimas menghitung mundur.
Selena, Gina, Nayra serta Alvino kompak tersenyum lebar ke arah kamera. Berbanding dengan Martin yang hanya memamerkan senyum tipisnya seraya mengacungkan jempol. Sementara Dimas, malah mencium pipi Selena di detik-detik terakhir pengambilan gambar.
.
.
Uap panas mengepul dari cangkir kopi bermotif putih gading. Selena meniup-niup sejenak sebelum menyeruput kopi hitamnya.
Dimas duduk di depannya, menatap intens Selena. Jantungnya berdebar, menantikan jawaban Selena perihal kopi yang baru saja ia racik untuk istrinya itu.
Dimas baru bernafas lega setelah Selena mengacungkan jempol sambil tersenyum puas, “kopinya enak, Bi. Takarannya sesuai seleraku. Makasih ya suamiku.”
Dimas tertawa bangga. Sambil meminum kopi, pasangan suami istri itu menikmati malam terakhir mereka di Bali.
“Hah.. besok kerja lagi deh. Aku masih pengen liburan,” Dimas menguap sambil merentangkan tangan kirinya, mengode Selena supaya tidur di pelukannya.
Perlahan, Selena beranjak naik dan berbaring di samping Dimas. Menyandarkan kepalanya di dada Dimas. “Aku aja yang kerja kalau gitu,” timpal Selena.
“Jangan!” cetus Dimas cepat.
“Jangan sekarang maksudnya,” Dimas melanjutkan kalimatnya setelah Selena memberikan cubitan kecil di pinggangnya. “Tunggu Sky masuk sekolah dasar dulu, baru kamu boleh kerja.”
Selena tertawa geli. Dia hanya menggoda Dimas. Toh, Selena tidak berniat lagi menjadi wanita karier. Karena ternyata menjadi seorang ibu rumah tangga tidaklah seburuk bayangannya.
Tiba-tiba Dimas memeluk Selena. Mencium lembut kening istrinya.
“Thanks for always being there for me despite the many reasons you should’nt. You're the only woman who could transform my imperfections into my perfections, ” ucap Dimas lembut. “Im nothing without you.”
Selena tersenyum sambil memejamkan matanya, “me too. Thanks for making me feel so loved Bi,” gumamnya pelan.
Dimas mengeratkan pelukannya. Mencium puncak kepala Selena beberapa kali. Sebelum terlelap, Dimas sempat menyelipkan sebuah doa di dalam hati. Harapan agar Tuhan selalu menjaga keluarga kecilnya dimana pun mereka berada.
“I love you, Sugar,” bisik Dimas sebelum memejamkan mata. “To the moon and back.”