The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Masalah Awal



Selena terdiam begitu selesai berbicara di ponselnya. Gadis cantik berkulit putih itu memejamkan matanya sambil menyenderkan kepala di kursi cokelat kebesarannya.


Tak beberapa lama, suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.


"Masuk."


Seorang wanita bertubuh mungil muncul dari balik pintu seraya membawa sebuah map. Dan meletakkannya di atas meja Selena.


"Ini berkas yang ibu minta. Tinggal Ibu periksa dan tanda tangani."


Selena melirik sekilas kemudian tersenyum , "terima kasih Prita."


Prita mengamati atasannya dengan seksama. Dia sudah bekerja sebagai sekretaris Selena selama 2 tahun. Karena itu, dia langsung menyadari kalau Selena terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Emm...Bu." Prita bertanya dengan hati-hati. "Apa ada sesuatu yang menganggu pikiran Ibu?"


Selena menghembuskan napas sejenak . Mata cokelatnya menatap sekertarisnya dengan sayu.


"Kelihatan sekali ya, kalau saya ada masalah?"


Prita mengangguk, "Kalau Ibu mau , Ibu bisa cerita sama saya. Mungkin saya bisa membantu."


Selena memandang Prita sejenak. Ragu-ragu memutuskan akan bercerita atau tidak.


"Terimakasih Prita. Tapi rasanya saya akan cerita ke kamu kalau nanti memang sudah butuh solusi."


"Ya sudah kalau begitu Bu. Saya permisi," Prita membungkukkan sedikit badannya sebelum keluar dari ruangan Selena.


"Haaah."


Selena menopangkan kepalanya di atas tangan seraya mendesah pelan.


Dia kembali memejamkan mata , bukan karena mengantuk. Hanya saja dia merasa lelah. Padahal beberapa saat yang lalu, dia masih merasakan luapan energi untuk bekerja. Dan sekarang energi itu menguap entah kemana.


Ini semua karena percakapannya di telpon dengan mamanya.


"Hah? Menikah?!" Selena terkejut nyaris berteriak saat mendengar ucapan mamanya.


"Mah , aku kan sudah bilang kalau gak mau menikah sebelum berpacaran," gerutu Selena sambil berjalan menuju mobilnya.


"Sampai kapan? Sampai Mamamu ini duduk di kursi roda? Gak mau menikah sebelum berpacaran? Lah kamu saja gak punya-punya pacar!" omel Mama panjang lebar.


"Ya tapi kan..."


"Sel". Nada tegas Mama langsung me**mbungkam mulut Selena.


"Mama sudah tua. Mama ingin melihat kamu menikah. Punya suami yang bisa jagain kamu. Jadi Mama bisa tenang kalau nitipin Raymond sama kamu."


"Mah!" Selena membentak takut. Jari-jarinya menegang dan meremas kencang setir mobil.


Dia tidak suka kalau mamanya sudah berbicara seperti itu. Selena sudah merasakan sakitnya kehilangan seorang papa. Dan ia benci jika memikirkan akan kehilangan mamanya kelak.


"Mama masih sehat ya! Jangan suka bicara yang aneh-aneh deh!"


"Makanya sekarang tolong kamu turutin permintaan Mama. Calonmu ini anak teman baik almarhum Papa kok. Anak baik-baik. Ganteng. Pinter pula. Mama yakin kamu pasti bakal suka deh."


Selena mengernyit.


Kalau sesempurna itu kenapa dia mau dijodohin? Harusnya kan bisa cari sendiri? Apa jangan-jangan??


Selena mengigit bibir sambil mengeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir pikiran jahatnya.


"Iya..iya oke. Terserah Mama. Aku ikut aja."


Tak ingin membuat mamanya sedih sekaligus menunjukkan baktinya ,Selena akhirnya menyetujui permintaan mamanya.


Lagian apa salahnya menikah? Toh pasti pilihan mama gak bakal aneh-aneh.


Terdengar helaan napas lega di seberang sana. Seketika Selena membayangkan ukiran senyum di wajah mamanya.


Namun kini Selena merasa menyesal menyetujuinya dengan cepat. Dia baru ingat kalau menikah adalah sesuatu yang sangat riskan dan beresiko untuk jenjang karirnya kelak.