The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Selena & Gina (part 2)



"Ini luar biasa!!"


Mata Gina berbinar puas memandangi kuku-kuku tangannya yang kini sudah berhiaskan motif leopard. Sambil merentangkan jari tangannya lebar-lebar , ia sibuk memotretnya berulang kali demi mencari hasil yang menurutnya bagus. Namun beberapa menit kemudian , dia tersentak menyadari sesuatu.


Loh tujuan gue ngajak ke salon kan buat Selena. Kenapa jadi gue yang kegirangan? Gimana sih?!


Ekor matanya melirik cemas ke arah Selena yang tengah duduk tenang sambil memencet-mencet layar ponsel.


Sehabis dari salon , mereka memang memutuskan untuk makan malam di salah satu kafe yang terdekat.


Saat tawa kecil keluar dari mulut Selena barulah Gina menarik napas lega.


"Gin, lihat deh,"Selena menyodorkan layar ponselnya.


"Tadi ada pegawai salon yang rekomendasiin game ini. Seru loh". Tambahnya dengan antusias.


Gina melihat layar ponsel Selena dengan seksama sebelum akhirnya berdecak kesal.


"Hah? Game ini?! Tsk!!"


Tatapan bingung Selena membuat Gina melanjutkan perkataannya , "Martin juga main nih game ini! Kalau udah main... bisa lupa makan , lupa minum , lupa sama gue juga! Untung aja gak lupa napas!" cerocos Gina.


Selena sempat melongo sebelum akhirnya tertawa melihat Gina yang tiba-tiba mengeluh membahas kelakuan pacarnya.


Martin memang sangat menyukai game. Seingat Selena, Martin dulu pernah menjadi anggota tim E-Sport yang cukup terkenal sebelum akhirnya diharuskan melanjutkan bisnis keluarganya. Namun tetap saja, jiwa gamer masih tumbuh subur di dalam diri Martin.


Dan jika dia sudah dihadapkan dengan komputer di hari minggu , bisa dipastikan dia tidak akan bergerak dari kursi sebelum Gina mengomelinya. Celotehan Gina masih berlanjut dan baru berhenti saat pelayan datang membawakan pesanan mereka.


"Hei , makan dulu!" tegur Gina saat melihat Selena belum menyentuh piringnya dan malah fokus menatap layar ponselnya.


"Bisa nanti kan main gamenya? Sebelas dua belas deh sama Martin!"


Gina hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya. Sepertinya Selena menemukan hobi baru.


Yah, gak masalah sih asal dia senang . Semoga aja dia ga bakal jadi segila Martin , doa Gina dalam hati sambil tersenyum kecil.


Makan malam dua sahabat ini dihiasi dengan curhatan pekerjaan masing-masing. Gina yang bekerja di perusahaan agensi mengeluhkan tentang skandal artis naungannya.


Sementara Selena menceritakan bagaimana pusingnya dia mengerjakan proyek baru yang tengah digarapnya. Sepanjang percakapan , Gina berhati-hati berbicara dengan tidak menyentuh topik sensitif Selena.


Saat mereka sedang seru-serunya bercerita , ponsel Selena berdering. Ada sebuah notifikasi pesan dari ibunya. Dengan enggan, Selena membacanya.


"Kenapa Sel? Kabar buruk ya?," tanya Gina begitu melihat raut wajah Selena yang menggelap.


Selena yang masih memandang layar ponselnya bergumam pelan.


"Besok gue mau kencan buta."


"Hah? Besok?!" Gina terpekik kaget dan buru-buru mengecilkan suaranya sambil bertanya dengan rasa penasaran.


"Dimana? Eh , tapi sori ya , Sel. Calon suami lo siapa sih? Emangnya , tante gak kasih tahu sama sekali?"


"Kasih tahu. Tapi langsung gue hapus. Gue cuman inget namanya Dimas. CEO apa gitu. Gak tahu deh. Cuman sekilas bacanya."


Gina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, mengetahui Selena menghapus informasi tentang calon suaminya.


"Minta lagi gih sama tante. Kalau dia CEO pasti ada infonya di internet. Jadi lo bisa prepare buat besok."


"Liat nanti deh. Pulang yuk. Udah selesai kan makannya? Gue udah males nih!" gerutu Selena yang dijawab anggukan oleh Gina.


Sambil menunggu Gina melakukan pembayaran di kasir, Selena berdiri terpaku menatap kosong di pelataran kafe. Hari ini sangat melelahkan baginya. Dia ingin cepat-cepat pulang dan segera memejamkan matanya.