The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Leon



Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela memaksa Selena untuk terbangun. Dia terduduk sambil meregangkan badannya. Tangannya mengosok-gosok mata cokelatnya yang masih enggan terbuka. Setengah sadar, Selena yang kehausan berjalan menuju dapur.


Setelah meminum segelas air, Selena yang masih setengah sadar berniat untuk melanjutkan kembali tidurnya. Tanpa sengaja matanya melirik ke arah jam dinding yang terpajang di ruang tengah.


Barulah kesadarannya muncul ketika dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.


“Ha? Udah siang?!” Selena terpekik kaget dan bergegas menuju kamar mandi.


Setelah mandi dan berganti baju, Selena memasukkan pakaian kerja yang akan ia gunakan besok pagi ke dalam koper hitam metalic kecil. Begitu persiapannya selesai dia beranjak keluar dari unit apartementnya.


Tepat pada saat itu seorang pria juga keluar dari unit sebelah. Pria tersebut langsung menyapa begitu melihat Selena.


“Selamat siang,” sapa pria itu.


“Selamat siang juga,” balas Selena.


“Sepertinya kita sering bertemu ya.”


Kini mereka berdua berdiri bersebelahan di depan pintu lift yang masih tertutup.


“Karena kita tinggal di lantai yang sama,” jawab Selena acuh.


"Hmm..tidak juga. Buktinya sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan penghuni 2001 dan 2002,” balas Pria itu.


“Bukankah memang seharusnya begitu? Apartemen ini kan dikenal karena privasinya.”


Apartemen yang dihuni Selena bisa dibilang exclusive. Berada di jantung ibukota , apartemen ini menawarkan privasi dan ketenangan bagi setiap penghuninya.


The Athena Apartement , begitu biasa disebut , dibagi menjadi 2 tower. Setiap tower memiliki 30 lantai. Tidak seperti apartemen pada umumnya, setiap lantai di apartemen ini hanya diisi dengan 4 unit bangunan.


Tring.. akhirnya pintu lift pun terbuka, Selena langsung bergegas masuk diikuti pria tersebut.


“Tapi sepertinya dari tadi kita belum berkenalan ya. Padahal kita sudah cukup banyak berbincang. Perkenalkan, saya Leon,” pria tersebut kini mengulurkan tangannya.


Selena menghela napas kesal , mau tidak mau dia harus membalas uluran tangan sebagai bentuk kesopanan. Sehingga membuat posisi mereka kini saling berhadapan.


Pandangan Selena seketika mengarah ke sepasang bola mata abu-abu tua. Terkesan dingin dan misterius tapi entah mengapa ada perasaan nyaman saat menatapnya.


Mungkin karena saat ini pemilik mata tersebut tengah tersenyum memandangnya. Selena pun terkesiap menyadarinya dan buru-buru melepaskan jabatan tangan mereka.


“Saya Selena.”


“Hmmm , Selena.....nama yang bagus. Tapi ngomong-ngomong apa anda mau pergi jauh?” pandangan Leon kini beralih ke koper hitam Selena.


“Ya,” jawab Selena yang mulai merasa sebal.


Seakan tidak menyadari kekesalan Selena, Leon kembali melanjutkan perkataannya,“Kalau begitu anda beruntung, baru saja saya mengecek aplikasi dan tertulis kalau lalu lintas hari ini tidak begitu padat.”


Selena tidak menjawab apa-apa, hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil berharap di dalam hati agar bisa cepat menjauh dari pria berwajah eropa tersebut.


Tring.. beruntung pintu lift akhirnya terbuka.


Kesal, Selena pun memutuskan untuk berhenti berjalan dan memutar balik tubuhnya sehingga berhadapan kembali dengan Leon.


“Kenapa anda mengikuti saya?!”


“Ah maaf. Saya tidak berniat mengikuti anda" jawab Leon yang sedikit panik melihat sorot kejengkelan di mata Selena, "Hanya saja mobil saya kan juga diparkir disini. Bukannya ini parkiran untuk penghuni tower Gold Rose ya?” tambahnya.


“Ah....,” Selena mendesis pelan merutuki kebodohannya.


Dia lupa kalau Leon juga tinggal disini. Menyadari kesalahannya, Selena hanya bisa tertunduk malu.


“Maaf...”


“Tidak apa-apa. Saya yang salah. Terlalu banyak bicara tadi. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Senang berkenalan dengan anda ... Selena,” ujar Leon sambil berlalu menuju mobilnya.


Selena masih terpaku sejenak sebelum bergegas menuju ke mobilnya juga. Untungnya perjalanan Selena menuju rumah mamanya cukup lancar. Tidak banyak kendaraan yang melintas di jalan tol tadi.


Perkataannya ternyata benar juga, gumam Selena.


“Selena, Mama kangen sekali sama kamu, Nak." Mama langsung memeluk Selena begitu Selena masuk ke rumah.


“Selena juga kangen mama. Maaf ya Mah, baru datang sekarang."


“Gak apa-apa. Kamu capek kan? Ayo istirahat. Kamarmu sudah Mama bersihin.”


Selena menggeleng , “gak kok Mah. Eh iya Raymond mana mah?”


“Biasa. Lagi latihan band.”


Raymond adalah anak kedua sekaligus adik satu-satunya Selena. Saat ini Raymond duduk di kelas 3 SMA.


Berbeda dengan Selena yang rajin belajar, Raymond sangat benci belajar. Nilai-nilai sekolahnya juga selalu di bawah rata-rata. Tapi walaupun begitu, ada 1 bidang yang dikuasai Raymond yaitu musik.


Raymond memiliki sebuah band indie yang sudah melanglang buana di radio-radio dan festival sekolah. Mungkin itu sebabnya mama tak terlalu memusingkan nilai raport Raymond. Karena mama menganggap Raymond akan sukses dengan bandnya kelak.


Begitu sampai di kamarnya, Selena langsung merebahkan diri. Sekitar 1 jam kemudian, mama tiba-tiba membangunkannya.


“Sel , nanti malam siap-siap ya,” kata Mama begitu masuk ke kamar Selena.


Selena yang tengah berbaring langsung terduduk bingung , “buat apa?”


“Nanti malam keluarga Dimas mau kesini. Kita mau makan malam bareng.”


“Mau ngapain Mah?”


“Mau membicarakan pertunangan kalian. Katanya kalian sudah bertemu ya? Lebih cepat lebih baik bukan? Mama udah ga sabar pengen punya cucu.”


“Ha?” Selena melotot tak percaya mendengar omongan mamanya, "cucu?"


Mama langsung menggangguk dengan raut wajah gembira.