
"Dok. Dokter,” suara Nina menyadarkan Alvino dari lamunannya.
“Eh,iya. Ada apa Sus?” tanya Alvino seraya merapikan jas putihnya yang kusut.
“Pasiennya sudah datang , Dok,” Nina berbisik pelan sambil melirik ke arah seorang wanita tua yang sudah duduk di depan meja Alvino.
Kontan saja , Alvino jadi salah tingkah dan langsung meminta maaf kepada pasiennya. Untungnya wanita tua itu tersenyum dan maklum. Bahkan dia sempat menggoda Alvino.
“Ndak apa-apa , Dok. Pasti galau ya karena undangan itu?” tanya wanita tua itu seraya menunjuk ke sebuah undangan yang tergeletak di meja.
“Ah. Bukan , Bu.” Alvino buru-buru menaruh undangan tersebut ke dalam laci. Lalu tersenyum menatap pasiennya. “Kita mulai pemeriksaannya ya Bu.”
**********
KANTOR SPYROGAMES
Leon memandangi sebuah undangan berlapis warna keemasan. Nama ‘Dimas & Selena’ tercetak tebal dengan warna silver tertulis di bagian depan undangan tersebut.
Leo tertawa pahit mengingat kejadian semalam. Saat Selena tiba-tiba mengetuk pintu apartemennya dan bodohnya Leon menyambutnya dengan senyum sumringah.
Tapi kedatangan Selena ternyata justru untuk memberikannya sebuah undangan pernikahan.
Damn! Bahkan sampai sekarang , aku masih sangat menyukainya. Umpat Leon kesal.
Leon berpikir sejenak sebelum akhirnya menindih undangan tersebut dengan dokumen-dokumen tebal yang belum sempat diperiksanya.
**********
Dan akhirnya tibalah hari pernikahan yang dinanti-nantikan oleh Goenawan , Vivi dan Merry.
Ballroom Grand Palace Hotel , tempat pernikahan itu diselenggarakan tampak didominasi warna biru langit -- warna kesukaan Selena. Langit-langit ballroom itu juga dihiasi oleh kerlap-kerlip lampu kristal yang menjuntai indah ditambah dengan rangkaian bunga-bunga warna-warni yang membuat ballroom itu terkesan lembut namun juga mewah.
Selena dan Dimas berdiri bersebelahan di atas panggung bernuansa keemasan , dengan orang tua masing-masing yang berdiri di samping kiri dan kanan mereka.
Mengenakan wedding dress satin putih panjang , Selena terlihat memukau di mata para tamu undangan. Apalagi dengan sebuah tiara kecil bertahtakan batu-batu kristal swarosky yang tersemat di atas kepalanya semakin menambahkan kesan elegan yang ditampilkan oleh Selena.
Tak kalah dengan Selena , sosok Dimas yang juga menjadi tuan acara malam itu , begitu menarik perhatian tamu undangan.
Ketampanan Dimas yang memang sudah diakui sejak dulu , semakin bersinar dengan balutan jas putihnya bak seorang pangeran.
Maka tak ayal jika para tamu undangan sepakat menyebut kalau Selena dan Dimas memang sudah ditakdirkan berjodoh satu sama lain.
Selena memaki kesal di dalam hati , saat mendengar kalimat tersebut.
Jodoh? Gue sama dia?! Yang benar saja! Hah!
Tapi kemudian -- seakan teringat sesuatu , mata Selena memeriksa kerumunan para tamu undangan yang hadir. Kepalanya sampai mendongak-dongak dan matanya sampai menyipit , menyusuri setiap tamu undangan yang terlihat olehnya. Dia juga diam-diam beberapa kali mengecek ponselnya. Dan menghela napas begitu selesai mengeceknya. Seakan-akan , Selena seperti sedang menunggu seseorang yang sangat berarti.
Gelagatnya ini menimbulkan tanda tanya di benak Dimas yang berada di sampingnya. Dia ingin bertanya , tapi diurungkannya. Karena dia teringat dengan salah satu pasal di dalam kontrak yang dibuatnya , yaitu untuk tidak mencampuri kehidupan pribadi masing-masing.
Dimas pun hanya bisa membiarkan rasa penasarannya menguap dan terus memasang wajah tersenyum hingga acara resepsi itu berakhir.
**********
Seusai acara resepsi , Dimas membawa Selena ke salah satu kamar hotel yang sudah disiapkan untuk malam pertama mereka.
Begitu pintu dibuka , Selena dan Dimas mendadak canggung saat melihat dekorasi di dalamnya. Taburan kelopak mawar merah memenuhi kasur berukuran besar dan 2 patung angsa yang terbuat dari handuk putih berdiri saling berhadapan , dengan paruh yang saling menempel.
Seakan tak cukup , lampu-lampu kecil menyerupai lilin , berjejer dari pintu masuk menuju kasur seolah-seolah seperti membentuk jalan. Bahkan bunga-bunga mawar merah segar juga tampak menghiasi hampir setiap sudut kamar tersebut.
Selena tersenyum pahit. Seharusnya malam ini ia rasakan dengan perasaan senang dan gugup. Tapi ia malah merasakan kepahitan dan kemarahan.
Tak ingin berlama-lama dengan Dimas di kamar tersebut. Selena pun bergegas mengambil koper kecil miliknya --- yang entah bagaimana bisa berada disana.
“Mau kemana?” tanya Dimas bingung ,melihat Selena yang hendak pergi keluar.
Selena mengacungkan sebuah kartu. “Ke kamarku. Aku udah pesan kamar lain.”
“Gak bisa!” Dimas menarik koper dari tangan Selena kemudian berjalan melewati Selena dan langsung mengunci kamar tersebut.
“Apa-apaan kamu?! Kembaliin koperku!” bentak Selena.
“Maaf , Sel. Tapi malam ini , kamu dan aku tidur disini.” Ucap Dimas seraya memasukkan koper Selena ke dalam lemari.
Sekuat apa pun dia mendorong , Dimas tetap bisa kembali berdiri dengan sempurna. Selena jadi kelelahan sendri apalagi ditambah dengan beratnya dress yang ia gunakan.
“Hah..hah..hah...,” Napas Selena naik turun.
Dia akhirnya menyerah dan berjalan dengan kesal ke kasur. Dikibaskannya kelopak-kelopak mawar merah dengan kasar ke lantai. Dengan napas masih terengah , dia duduk di tepi kasur. menyilangkan tangan di dada sambil menatap tajam ke arah Dimas.
“Oke! Kita tidur disini. Tapi aku di kasur dan kamu disana!” tunjuk Selena ke arah sofa panjang. “Atau kamu disini dan aku disana. Terserah yang mana aja. Pokoknya kita gak tidur berdampingan!”
“Oke. Aku tidur di sofa. Lalu , besok kita akan per... Eh , kamu mau apa?” Dimas mendadak panik saat Selena berjalan mendekat ke arahnya.
Bahkan saking dekatnya , Dimas bisa merasakan hembusan napas Selena.
“Aku mau mandi. Dan aku butuh koperku.”
“Oh. Iya, silahkan,” Dimas yang salah tingkah pun buru-buru bergeser dari pintu lemari.
Mata Dimas terus memperhatikan Selena yang menyeret kopernya dan berjalan masuk ke kamar mandi.
**********
“Sel.” Panggil Dimas pelan.
Selena menurunkan ponsel yang sedang dia mainkan dan menatap Dimas yang duduk di sofa. “Apa?” tanyanya acuh.
“Kita keluar cari cemilan yuk. Kamu kan tadi makannya dikit disana.”
“Gak. Aku ngantuk. Kamu beli sendiri aja. Nite,” jawab Selena seraya menaruh ponselnya di nakas dan menarik selimut hingga menutupi dagunya. “Aku tidur dulu ya.”
“Oh. Oke. Selamat tidur , Sel.” Ucap Dimas sambil mematikan lampu dan menyisakan nyala lampu yang berada di atas meja kecil.
Begitu lampu dimatikan , keheningan langsung terasa di dalam suite room tersebut. Apalagi sebelum tidur , Dimas juga tak luput mematikan TV.
Selena masih terjaga sambil memegang perutnya yang keroncongan. Sebenarnya dia sangat kelaparan dan ingin mengiyakan ajakan Dimas , namun dia tak mau berada dalam 1 mobil dengan Dimas.
Berada dalam 1 kamar dengannya saja sudah membuatnya sesak nafas. Apalagi jika harus berduaan di dalam mobil yang sempit?
Selena bukannya membenci Dimas. Dia memang marah dengannya tapi tidak membencinya. Dia hanya ingin menjaga jarak dengannya. Sebab jika dia terus berada di dekat Dimas , akan semakin besar rasa sukanya terhadap Dimas. Dan jika ia semakin menyukainya , akan semakin sulit untuk melepasnya kelak.
Trik.
Suara lampu yang dinyalakan membuat Selena tersentak.
“Sel , kamu kenapa??” tiba-tiba saja , Dimas sudah berdiri di samping Selena yang masih berbaring tertutup selimut. “Kamu sakit? Kok dari tadi kamu gerak-gerak terus.”
“Bukan urusanmu!” balas Selena ketus seraya membalikkan badan.
Namun sepertinya , nasib sedang tidak berpihak padanya. Tiba-tiba saja terdengar suara bergemuruh yang berasal dari perut Selena. Suara itu terdengar cukup jelas memecah kehengingan di antara mereka berdua.
“Pppft...,” Dimas menutup mulutnya dan memalingkan mukanya , berusaha untuk menahan tawanya.
Sambil menahan malu , Selena tak bergeming dan tetap berpura-pura melanjutkan tidurnya. Tapi sekali lagi , perutnya berbunyi dengan cukup kencang.
“Sel.” Suara Dimas yang terdengar tegas , seketika memaksa Selena untuk membuka matanya dan berbalik.
“Apa?” tanya Selena seraya terduduk di kasur. Selena mengumpat kesal di dalam hatinya.
“Ayo , kita cari makan. Memangnya kamu bisa tidur dengan perut keroncongan kayak gitu?”
“Makan dimana? Udah malam gini,” tanya Selena bingung seraya mengambil ponselnya.
Dimas mengangkat bahu , “sedapatnya aja. Kalau makan di pinggir jalan , keberatan gak kamu?”
Mata Selena mendelik mendengarnya. “Gak kebalik?”
“Aku?” Dimas tertawa kecil sambil memakai hodie putihnya , “aku ini anak jalanan. Udah , ayo buruan. Pakai jaketmu , udaranya lagi dingin.”
Mau tidak mau , Selena akhirnya beringsut dari kasur. Membuka kopernya dan mengambil jaket hitam miliknya. Sementara Dimas , menunggunya dengan sabar sambil bersandar di dekat pintu.
Yah,cuman malam ini doang. Besok-besok , gue harus cari makan sendiri!