
"Aduh...," Selena mengerang pelan sambil memegang kepalanya begitu membuka mata.
Kepalanya terasa sakit efek meminum 2 gelas wine. Dari dulu memang Selena tidak bisa berjodoh dengan alkohol. Dia selalu saja seperti ini setiap habis meminumnya.
Dengan susah payah , Selena akhirnya bisa berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air. Rasa segar langsung menjalar kerongkongannya. Tertatih-tatih dia menuju sofa ruang tengah.
"Ah...," Selena mendesah rileks begitu kakinya diluruskan.
Mama pasti akan membunuhnya kalau tahu Selena minum alkohol. Sebenarnya Selena bukan tipe gadis yang suka berpesta. Tapi tuntutan pekerjaan membuatnya harus beradaptasi dengan alkohol.
Apalagi jika dia harus menjamu para investor yang rata-rata berasal dari luar negeri. Untungnya selama ini dia bisa mengontrol dirinya dengan baik.
Dan harus selalu begitu , tekad Selena.
Setelah pusingnya mereda , Selena bangkit dan berjalan menuju dapur. Rasa lapar memaksanya untuk mengisi perut. Dia pun mulai mengeluarkan bawang , cabai , sosis dan telur untuk diolahnya menjadi nasi goreng.
Mudah , tapi cukup menguras energi Selena yang masih kelelahan. Selesai makan , Selena memutuskan untuk menonton tv. Sebuah tayangan infotainment menarik perhatiannya.
Nayra Teona , model asal Indonesia yang berkiprah di Amerika kini telah dikontrak oleh DPS Entertainment.
"Oh, jadi ini yang dibilang Gina," gumam Selena.
Tadi malam , suasana hati memang Gina terlihat bagus. Saat ditanya , dia hanya berkata bahwa saat ini agensinya mempunyai berlian besar.
Selena memperhatikan sosok Nayra di tv. Dia terlihat cantik dan elegan. Seperti seorang putri dari negeri dongeng , sampai-sampai membuat Selena berpikir tentang siapa lelaki beruntung yang akan memilikinya.
Pemikiran itu lantas membawa Selena tentang janji pertemuannya. Dia mendesah kesal. Tapi kemudian dia ingat kalau Dimas belum mengonfirmasi tempat pertemuan mereka. Selena menimbang-nimbang harus bertanya lebih dulu atau tidak. Soalnya dia tidak mau kalau sampai diberi kabar secara mendadak.
Walaupun dia tidak menyukai perjodohan ini , tapi dia tetap harus tampil maksimal. Apalagi kalau calonnya adalah seorang Dimas Pradipta , yang sudah terkenal dengan ketampanannya. Tentu dibutuhkan usaha ekstra untuk mengimbangi penampilannya.
Akhirnya setelah berpikir cukup lama , dia memutuskan untuk bertanya lebih dulu melalui pesan text.
Selamat siang. Ini saya Selena. Maaf nanti malam kita bertemu dimana dan jam berapa ya? Apa sama dengan tempat kemarin?
10 menit , 20 menit dan hampir 1 jam Selena menunggu balasan. Tapi tidak ada pesan balasan dari Dimas. Kesal menunggu Selena akhirnya memilih untuk bermain game. Baru sekitar 1 jam dia bermain , ponselnya berdering. Begitu dilihat , ternyata pesan itu dari Alvino.
Sel , udah bangun blom? Kepala lo sakit gak? Laper gak?
Yah , baru mau ajak keluar ☹️
Hahaha.. lo tau perut gue kan? Masih nampung donk. Ayo! Mau makan apaan emang?
Bagus! Gak tahu makan apa. Liat aja ntar. Yaudah siap-siap ya. Gue jemput setengah jam lagi.
Oke.
Selena langsung berlari mengambil handuk dan bergegas mandi. Selesai mandi , Selena memilih celana jeans dan sweater putih polos sebagai outfitnya. Jeans biru yang dipilihnya semakin mempelihatkan kakinya yang jenjang. Tak lupa dia lengkapi dengan tas coklat kecil dan sneakers putih.
Tepat setengah jam kemudian , Alvino menjemputnya. Mereka pun pergi menuju salah satu mall. Sampai di sana , Alvino langsung memilih restoran Jepang sebagai tempat makan mereka.
"Sel , abis makan mau nonton gak?" tanya Alvino.
"Hmm..Kayaknya gak bisa deh Vin. Gue ada janji. Tapi gak tahu juga , jadi apa gak."
"Janjian? Sama siapa? Gina?"
Selena menggeleng , "Bukan. Sama Dimas."
"Dimas?? Gue baru denger lo punya temen namanya Dimas" Alvino mengernyitkan kening.
"Emang bukan temen gue. Eh, gue belum cerita ya sama elo?".
Selena menghela napas sebelum akhirnya berkata , "gue dijodohin Vin. Sama cowok yang namanya Dimas. Katanya sih teman kecil gue. Tapi gue gak inget."
"Ha??!" Alvino terkejut sampai membelalakkan mata tak percaya. , "dijodohin?!"
Selena mengangguk pelan. Tepat saat itu pesanan mereka datang. Tapi rasa lapar Alvino sudah hilang begitu saja. Yang dia rasakan kini rasa sakit yang tiba-tiba menghantam hatinya. Alvino hanya menatap kosong gadis di hadapannya yang kini tersenyum kegirangan memandangi makanan.
Dijodohin?
Kata-kata itu terus tergiang berulang-ulang di benak Alvino seharian.