The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Rumah Bersama



Jauh sebelum pernikahan digelar , Dimas telah meminta Selena untuk tinggal bersamanya disebuah rumah yang memang dia persiapkan untuk mereka huni kelak. Meski awalnya menolak namun akhirnya Selena setuju , setelah tahu kalau dia akan memiliki kamar sendiri.


Siang harinya , selepas check-out dari hotel , Dimas langsung membawa Selena ke rumah yang akan mereka tempati.


“Nah , selamat datang di rumah. Harusnya Bi Nini datang hari ini. Tapi keluarganya ada yang sakit , jadi mungkin dia baru bisa masuk lusa," ucap Dimas panjang lebar sambil mengajak Selena berkeliling rumah.


Selena hanya manggut-manggut seraya memperhatikan seisi rumah dengan antusias. Rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka berdua , berada di sebuah komplek perumahan yang terbilang bagus.


Memiliki 2 lantai dengan 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi -- rumah tersebut terlihat rapi dengan konsep minimalis.


“Yang ini akan jadi kamarmu. Yang disana jadi kamarku.” Dimas membuka pintu sebuah kamar dan menunjuk sebuah pintu yang berada di sebelahnya.


“Beneran ini kamarku? Kok lebih besar?” tanya Selena bingung.


Dia membandingkan ukuran kamarnya yang 2x lebih luas dari kamar milik Dimas. Ditambah lagi , kamar tidurnya juga dilengkapi dengan kamar mandi pribadi.


“Barang bawaan kamu banyak. Lagi pula , kurasa kamu butuh kamar mandi pribadi."


“Ya,tapi kan , ini rumah kamu yang beli. Masa aku dapat kamar yang lebih besar?!” protes Selena sambil mengikuti Dimas.


“Lalu kenapa kalau aku yang beli? Perasaan kemarin kamu sempat bilang deh , gak mau privasi kamu terganggu. Yang ada kamar mandi di dalamnya hanya kamar itu saja.”


“Tapi kan tetap aja.....”


“Sel,” Dimas membalikkan badannya tiba-tiba , membuat wanita muda itu terkejut.


“A..apa?!” tanya Selena gelagapan.


“Aku mau buka baju. Kamu masih mau disini?” tanya Dimas sambil tersenyum nakal.


“Ha?” Selena baru menyadari kalau saat ini dia sudah berada di kamar Dimas. Sambil menahan malu , dia bergegas keluar dan masuk ke kamarnya sendri.


**********


Menjelang malam , setelah selesai merapikan barang-barangnya yang sudah terlebih dulu ada disana , Selena berniat untuk membuat makan malam.


Walau pernikahan mereka dilandasi dengan sebuah kontrak , tetap saja tugas Selena adalah melayani Dimas sebaik mungkin.


Sebelum menuruni anak tangga , Selena sempat melirik pintu kamar Dimas yang tertutup rapat.


Kayaknya dia tidur. Kelelahan mungkin ya. Nanti ku bangunkan deh kalau masakannya sudah jadi.


Tapi betapa terkejutnya Selena ketika mendapati Dimas sedang memasak di dapur.


“Oh , kamu udah turun? Baru mau aku panggil. Duduk dulu disana. Sebentar lagi masakannya jadi,” Dimas mengarahkan dagunya ke meja makan begitu melihat Selena.


Selena sempat bengong sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan mengikuti perintah Dimas tanpa membantah.


Beberapa menit kemudian , Dimas datang dengan membawa 2 piring pasta di kedua tangannya.


“Nah , ayo kita makan mumpung masih panas,” ujar Dimas yang dijawab anggukan oleh Selena.


Dimas memperhatikan Selena yang tampak antunsias menyuap sesendok penuh pasta. Seutas senyum terukir di sudut bibirnya, melihat Selena yang makan dengan lahap.


“Makasih buat makanannya. Nanti piring-piringnya biar aku aja yang cuci,” ujar Selena begitu menelan suapan terakhir pastanya.


“Gak! Pokoknya aku yang cuci piringnya!” tukas Selena tegas seraya mengambil piring kosong miliknya dan Dimas lalu bergegas menuju wastafel.


Tak mau kalah , Dimas juga cepat-cepat berlari ke arah wastafel. Namun kalah cepat dari Selena yang langsung menyikutnya.


Mata Selena melotot , menyuruh Dimas untuk menjauh dari wastafel.


“Oke. Oke. Aku di ruang tengah deh.” Mau tak mau Dimas akhirnya mengalah dan membiarkan Selena membersihkan dapur sendirian.


**********


“Kamu besok ada acara gak?”


Selena yang sedang menonton TV, berpikir sejenak kemudian menggeleng. “Gak. Memang kenapa?”


“Kita belanja yuk. Kebutuhan rumah”


Selena mengangguk. “Boleh. Sekalian mampir apartemenku ya? Ada barang yang belum sempat aku bawa.”


“Oke. Tapi ngomong-ngomong...,” Dimas mengernyit bingung. Raut mukanya tampak tak suka sementara telunjuknya mengarah lurus ke depan TV. “Kamu nonton apa ini?”


“Film yang kemarin ta...,” Selena langsung tersadar begitu melihat raut wajah Dimas.


Oh, iya. Dia kan gak suka film horror.


“Eh, maaf. Aku ganti deh,” Selena buru-buru mengambil remote dan berniat mengganti chanelnya.


“Jangan. Jangan. Kamu nonton aja. Aku gak apa-apa kok,” tukas Dimas. “Kita kan udah tinggal bersama. Aku harus bisa menyesuaikan dong.”


“Yakin?” goda Selena.


Dimas mengangguk yakin. Tapi beberapa menit kemudian , ia menyesali perkataannya. Sebagian besar , adegan di film tersebut membuat jantungnya 'berolahraga'. Terlebih lagi Selena sengaja mematikan semua lampu di ruang tengah.


Setelah satu jam kemudian , barulah Dimas bisa bernapas lega. Dia merenggangkan kakinya untuk melemaskan otot-ototnya yang tegang.


“Kalau ngantuk , tidur duluan aja Sel,” ujar Dimas yang tanpa sengaja melihat Selena yang kedapatan sedang menguap.


“Hu-um. Aku tidur duluan ya. Kamu masih mau nonton?”


Dimas melirik jam dinding. “Sebentar lagi deh."


“Oke. Aku ke kamar ya. Nite,” ucap Selena sambil melenggang pergi , menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai 2.


“Sel,” panggilan Dimas membuat langkah Selena yang baru menaiki beberapa anak tangga , otomatis berhenti.


Selena menoleh ke samping dan melihat Dimas sedang tersenyum menatapnya.


“Mimpi indah ya,” ujar Dimas yang dibalas raut muka jijik oleh Selena.


“Hei , kenapa wajahmu seperti itu?!” protes Dimas sambil berlari menuju tangga.


Namun Selena sudah menghilang masuk ke kamarnya sambil tertawa-tawa. Meninggalkan Dimas yang bersungut-sungut di ujung tangga.