The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Alvino



Tok tok tok tok.


Suara ketukan di pintu , memaksa seorang pria tinggi berambut cokelat keluar dari dalam kamar. Matanya mengintip dari lubang pintu. Begitu melihat siapa yang mengetuknya , dia pun membukanya.


Begitu dibuka tampak sepasang pasangan muda. Yang perempuan bertubuh tinggi dengan rambut hitam sebahu. Terlihat modis dengan anting-anting besar dan riasan glossy.


Di sebelahnya seorang pria tinggi berkacamata dan berkulit sawo matang. Berbeda dengan wanita tersebut , pria tersebut terkesan lebih sederhana. Dengan hanya memakai t-shirt dan celana jeans.


Terlihat tangan kanan pria itu menenteng sebuah dus pizza sementara tangan kirinya membawa sekantong kertas belanja berwarna cokelat.


"Gimana sih! Gue udah di tol bandara juga!" sembur wanita itu sambil berkacak pinggang.


"Hehehe.. Ya mana gue tahu kalo pesawatnya cepet," jawab pria berambut cokelat sambil menyuruh mereka masuk.


"Welcome back , Bro," ujar pria berkacamata.


"Yep. Thanks!" balas pria berambut cokelat sambil menaruh pizza dan kantong kertas di atas meja ruang tengah.


"Mau minum apa?" tanya pria berambut cokelat. "Tapi sih kayaknya cuman ada air putih."


"Ngapain nanya kalau gitu!" gerutu wanita tersebut.


Tapi kemudian dia tersenyum nakal , "minum minuman yang Martin bawa aja."


"Ih ,bukan gue yang beli. Gina tuh. Gue mah cuman bagian bawa!" sergah pria berkacamata yang bernama Martin.


Gina , begitu wanita itu disebut , hanya tertawa sambil berjalan menyusuri ruangan tengah. Dia kemudian berkeliling dari satu kamar ke kamar lainnya.


"Vin, rapi banget sih apartemen lo. Beneran abis lo tinggalin gak sih? Jangan-jangan selama ini lo masih di Jakarta lagi. Cuman prank doang ke Amerika."


Pria berambut cokelat yang bernama Alvino mengangguk. "Beneran lah. Dua hari sekali kan ada orang yang bersihin apartemen gue. Ah gila!! Gue baru sampe, masa dikasi kayak gini?!" Alvino mengangkat sebotol minuman dari kantong kertas.


"Namanya juga penyambutan. Harus spesial dong. Lagian lo juga belum masuk kerja kan?"


"Ya tapi kan.."


"Ah, bawel deh. Minggir-minggir!" Gina segera mengambil beberapa gelas dari rak piring.


Alvino memandang Martin agar mencegah Gina , tapi Martin hanya mengangkat bahu tanda menyerah.


"Loh kok 4? Selena bukannya ada janji?" tanya Martin saat melihat gelas yang disusun Gina di atas meja tengah.


"Gak jadi," jawab Gina sambil menuangkan isi botol ke gelas-gelas. "Sori ya Vin , cuman beli pizza. Gak nemu makanan lagi yang cepet."


"Iya , gak apa-apa. Kebetulan gue juga laper. Eh tapi Selena ada janjian sama siapa? Tumben banget biasanya tu anak pulang kerja langsung pulang."


"Klien? Loh , bukannya kata kamu..."


Plak!


Omongan Martin terputus karena Gina memukul pahanya dengan keras sehingga membuat Martin kesakitan.


Martin hendak protes saat terdengar suara bel pintu. Alvino bergegas menuju pintu. Dan begitu di buka muncul seorang perempuan berambut hitam panjang membawa sebuah plastik putih minimarket.


"Vino!! Lo beneran udah balik!" perempuan itu memekik sambil memeluk Alvino.


"Hehehe..iya Sel. Gue udah balik , yuk masuk. Gina sama Martin udah di dalam."


Selena mengangguk. Begitu sampai di ruangan tengah , Selena segera duduk di atas sofa hitam. Alvino pun ikut duduk di sampingnya.


"Nah udah komplit kan. Jadi kita bersulang!! Buat Dokter Alvino! Welcome Home!!" ujar Gina sambil mengangkat gelas yang diikuti Martin , Selena dan Alvino.


"Just Vino , please. Suasana kayak gini jangan bawa jabatan gue," gerutu Vino.


"Oke..oke ralat. Just Alvino. Cheers!!" timpal Gina.


"Cheers...!!" balas yang lain.


**********


"Jadi .. gimana kerjaan lo Sel? Lancar?" tanya Alvino.


"Lumayan" jawab Selena sambil mengigit sepotong pizza , "cuman sekarang gue lagi ada project baru. Jadi ya, gitu sakit kepala".


"Hahaha....." Alvino tertawa gemas melihat Selena yang cemberut. Tangannya mengacak-acak rambut Selena. Membuat Selena protes.


"Lo sendiri gimana? Berarti tawaran om Surya , lo terima?"


"Ya , gitu deh. Mau gimana lagi."


"Lagian lo kenapa balik Vin? Kan udah enak disana."


Alvino tidak menjawab. Dia malah memutar-mutar gelas di tangannya sambil memandang Selena yang kini tengah asyik mengobrol dengan Gina dan Martin. Alvino memperhatikan setiap detil ekspresi yang ditunjukkan Selena. Dia ikut tertawa saat Selena juga tertawa.


Gina yang tanpa sengaja memperhatikan Alvino , tersenyum pedih.


Kalo lo tau soal Selena , apa lo masih bisa ikut ketawa kayak gini Vin?