The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Pergi Berdua



“Kamu yakin baik-baik aja?”.


Dimas bertanya dengan raut wajah yang cemas. Berkali-kali ia melirik ke arah Selena yang bersandar terdiam di sampingnya.


Selena membuka matanya dan tersenyum sekilas. “Iya”.


Tangan kiri Dimas terulur menggengam erat tangan Selena. Sementara matanya tetap fokus memandang lurus ke depan. Selena sendiri masih terdiam --- memejamkan mata dan membiarkan tangan Dimas perlahan bergerak mengusap-usap lembut kepalanya.


Ini semua karena mimpi Selena semalam. Lagi-lagi dia bermimpi sekelompok orang sedang mengejarnya dan ia berlari tak tentu arah masuk ke dalam hutan. Ketika Dimas membangunkannya, sekujur tubuh Selena sudah dibasahi keringat dingin.


Napasnya menderu dan jantungnya berdetak kencang. Dan untung kesekian kalinya, mimpi itu terasa sangat nyata dan mengerikan baginya.


Ckit..


Dimas menghentikan laju mobilnya secara mendadak dan bergegas berputar arah. Sambil menekan tombol di kemudi stir, Dimas menelpon sekertarisnya.


“Dir, hari ini saya libur. Tolong, kamu urus dulu kerjaan saya. Kalau ada yang penting, kamu email ke saya”.


**********


Sebuah guncangan pelan membangunkan Selena dari tidurnya. Begitu matanya terbuka, ia mendapati Dimas yang sedang tersenyum.


“Ayo bangun, kita sudah sampai”.


Sampai? Selena yang masih setengah sadar, celingukan memandang tempat yang terlihat tak asing baginya.


“Bandara? Kita mau ngapain kesini?!” Selena memekik kaget saat Dimas menuntunnya keluar dari mobil.


“Liburan sehari,” jawab Dimas sambil mengambil satu koper kecil dari bagasi.


Pok.


Selena meninju pelan lengan Dimas. “Kamu gila ya? Aku mau ke kantor! Aku harus kerja. Lagi pula kerjaanku sekarang banyak. Aduh..gak bisa..gak bisa.. Kamu apa-apaan sih?!” omelnya frustasi.


“Aku udah minta ijin sama Direkturmu. Dia bilang gak masalah kok. Malah, dia ngusulin kita buat nambah hari”.


“Ha?”.


Dimas mengarahkan layar ponselnya ke hadapan Selena yang tetap tak percaya.


Beberapa menit kemudian, Selena mengembalikan kembali ponsel Dimas sembari memijat-mijat pelipisnya. Dia memang tahu kalau suaminya ini memiliki jangkauan pertemanan bisnis yang luas. Tapi dia tak menyangka, kalau Direkturnya termasuk salah satu diantaranya.


“Ayo. Nanti kita terlambat”.


Dimas menggandeng tangan Selena dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menarik koper kecil.


“Eh..tunggu..tunggu...," Selena berusaha mengibaskan tangan Dimas di pergelangan tangannya sambil terus merayunya dengan kata-kata manis, agar mereka kembali ke kantor.


Tapi Dimas tak bergeming dan terus berjalan menggandengnya tanpa mempedulikan protes Selena.


**********


RS PONDOK JAKARTA


Alvino mengetuk-ketuk pelan ujung ponselnya ke atas meja sambil menopangkan dagu di tangan lainnya.


Beberapa kali ia menghembuskan napas panjang --- matanya menatap kosong ke kejauhan.


Sikapnya ini menimbulkan tanda tanya di benak Nina yang sedang merapikan file-file pasien.


“Dok,".


Panggilan Nina sontak membuat Alvino menoleh. Dia memiringkan sedikit kepalanya sambil tetap menopangkan dagunya. “Ya?”.


Alvino sempat bengong beberapa detik sebelum akhirnya menyadari kalau pasien terakhirnya sudah keluar sejak tadi.


Sambil tersenyum menahan malu, ia berdiri --- menggantung jas putihnya ke hanger dan menyambar tas hitamnya, bersiap untuk pulang.


“Saya pulang duluan ya, Nin. Terimakasih untuk kerjasamanya hari ini”.


“Dok...,” suara Nina otomatis memutarkan kembali tubuh Alvino yang sudah berada di luar pintu.


“Ya?”.


“Emm...”.


Nina meremas-remas jari jemarinya sambil mengigit bibirnya. Dengan ragu-ragu, Nina bertanya dengan nada pelan hampir seperti bergumam.


“Saya boleh ikut menumpang, Dok?”.


“Apa, Nin? Kamu ngomong apa? Saya kurang jelas,” Alvino yang kebingungan, berjalan perlahan mendekatinya. Namun langkahnya terhenti karena deringan ponsel di saku celananya.


Alvino mengangkat sebelah tangannya ke arah Nina dan tangan satunya menjawab panggilan telepon itu. Beberapa menit kemudian panggilan berakhir, Alvino menatap kembali ke Nina yang masih berdiri di posisinya.


“Maaf, Nin. Saya mau buru-buru pulang. Ada masalah di rumah. Tadi kamu ngomong apa? Bisa diulangi?”.


Nina menggeleng dengan cepat sambil mengibas-ibaskan tangannya. “Gak, Dok. Bukan apa-apa”.


“Oh. Ya sudah. Saya pulang dulu ya”.


Nina mengangguk dan langsung mendesah gusar begitu Alvino menghilang dari pandangannya.


**********


Sekelompok wanita muda terlihat mencuri-curi pandang ke seorang pria berambut pirang kecoklatan yang sedang duduk sambil membaca majalah ekonomi.


Pria itu mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam. Tampilannya terlihat maskulin berkat sembulan otot-otot bisepnya yang terlihat sempurna.


Sebuah kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, semakin membuat kelompok wanita tersebut tertarik padanya.


Tapi Pria itu tak bergeming. Tak merasa terganggu dengan cekikikan centil dan tatapan liar yang sejak tadi dirasakannya. Dia hanya memfokuskan matanya ke dalam majalah yang dibacanya.


Namun ia baru bereaksi saat beberapa orang menyebut-nyebut dua nama yang sangat dikenalnya.


“Eh, coba lihat disana. Itu bukannya Dimas Soetedjo ya? Disebelahnya itu siapa? Cantik banget”.


“Hushh..itu kan istrinya. Kalau tidak salah namanya Selena”.


“Oh..pantes. Bener ya, Jeng. Jodoh itu pasti mirip. Bisa-bisanya suami istri sama-sama cakep semua. Eh..eh..eh..mereka kesini!!”.


Lounge yang sudah riuh dengan kehadiran Leon mendadak semakin ricuh, kala pasangan muda yang dimaksud ikut duduk di dekat mereka.


Diam-diam, Leon menutup majalahnya dan mengambil kopernya. Dia berdiri --- hendak pergi dari tempat itu. Tapi sebuah suara menghentikan langkah kakinya.


“Leon?!”.


Mau tak mau, Leon berbalik. Melepas kacamata hitamnya dan tersenyum ke arah seseorang yang memanggil namanya.


Mata Leon kemudian bertubrukan dengan mata seorang pria yang tampak kesal melihat kehadirannya disana. Sejenak, sebuah ide kecil melintas di benaknya.


Leon tersenyum jahil. Tanpa menghiraukan pelototan tajam Dimas, dia melangkah santai menghampiri meja pasangan tersebut sambil menyapa dengan senyuman lebar.


“Hai, Sel. Apa kabar kalian berdua?”.