The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Ketakutan Dimas



Pagi harinya Selena bangun lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena semalam dia tidur nyenyak sekali.


Dilangkahkan kakinya menuju dapur. Dibukanya pintu kulkas dan sedetik kemudian ditutupnya kembali.


Lalu perhatiannya beralih ke laci dapur. Helaan napas dan gurat kekecewaan tercetak di wajahnya begitu ia selesai menggeledah seisi dapur.


Selena menggeleng-gelengkan kepalanya , tak percaya kalau dapur di rumahnya benar-benar bersih dari bahan makanan. Lalu kalau kosong seperti ini , apa yang bisa dimakan untuk sarapan? Tapi sedetik kemudian , Selena terpekik pelan.


“Oh,iya! Aku kan punya itu!”


Selena berlari menaiki beberapa anak tangga sekaligus dan masuk ke kamarnya. Begitu keluar , dia menenteng sekotak kemasan roti tawar dan sebuah selai coklat.


Untungnya , dapur tersebut dilimpahi dengan beragam peralatan elektronik memasak yang sangat komplit.


Selena melirik layar ponselnya , sudah pukul 5.30 pagi. Matahari terlihat sudah menapakkan sinarnya. Selena beralih ke ruang tamu dan mematikan lampu-lampu yang masih menyala. Dia kemudian berkeliling penjuru rumah , bermaksud untuk mencari sapu. Namun dia tak kunjung menemukannya.


Selena mengomel sendirian tapi kemudian dia juga menyadari kesalahannya.


Dia percaya saja dengan kata-kata Dimas yang waktu itu berkata , ‘Bawa saja barang-barangmu. Tidak usah yang lainnya. Aku sudah menyediakan segalanya disana’.


Halah , pret. Dari mananya menyediakan segalanya? Dapur kosong , sekarang sapu juga gak ada. Ini sih kayaknya bakalan belanja semuanya deh.


Selena kemudian mulai berkeliling rumah sambil mencatat kebutuhan apa saja yang harus mereka beli. Tak lama kemudian , Dimas datang ke dapur dan mendapati Selena sedang mengoleskan selai di atas beberapa lembar roti bakar.


“Pagi , Sel,” sapa Dimas sambil mendudukkan tubuhnya di kursi makan. “Hmmmm....” ,Dimas mengendus pelan harum aroma roti bakar yang menguar.


“Pagi. Mau kopi atau teh?” tanya Selena.


“Teh aja. Tapi gulanya jangan banyak-banyak ya,” jawab Dimas.


Selena mengangguk dan mulai menyeduh 2 cangkir teh. Dan meletakkan 1 cangkir di depan Dimas dan secangkir lainnya di kursi seberang Dimas. Kemudian dia menaruh beberapa tangkup roti bakar di tengah-tengah meja.


“Makasih ya , Sel.” Ucap Dimas yang langsung mengunyah roti bakarnya.


“Hari ini kayaknya kita bakal belanja banyak deh. Soalnya aku gak nemuin sapu!” tukas Selena.


“Loh , memang aku gak sediain sapu. Kan ada vacum cleaner? Buat apa ada sapu?”


“Ha?” Selena mengerjapkan matanya , tak percaya mendengar perkataan Dimas.


Buat apa ada sapu? Ini orang gak tahu gunanya sapu ya?


“Kenapa Sel? Kata-kataku ada yang salah, ya?” tanya Dimas yang kebingungan melihat ekspresi Selena.


Selena menghembuskan napas pelan dan menjelaskan pelan-pelan kepada Dimas , “Vacum cleaner itu kan jangkauannya terbatas. Katamu yang kerja disini nanti ibu-ibu. Kasihan kan , nanti kalau dia harus bawa-bawa alat itu kemana-kemana. Gak praktis. Lagian aku lebih suka pakai sapu ketimbang vacum cleaner.”


“Oh, iya ya. Aku gak kepikiran kesana. Yasudah , kita beli sapu juga deh. Terus apa lagi yang kamu butuhin?”


“Ada disini semua. Sudah aku catat,” Selena menunjukkan sebuah notes kecil dan menyerahkannya ke Dimas.


Dimas membaca sekilas notes tersebut lalu mengembalikannya ke Selena.


“Oke.”


Selesai sarapan , Dimas berinisiatif untuk membantu Selena membereskan rumah. Karena belum ada peralatan kebersihan , mereka hanya bisa membersihkan sekadarnya. Dan seperti kata Selena , membersihkan rumah memakai vacum cleaner memang sedikit melelahkan.


Baru 30 menit berkutat dengan alat tersebut , Dimas mematikannya dan beranjak menuju sofa. Sambil berbaring , perlahan-lahan matanya ikut terpejam. Beberapa menit kemudian , dia merasakan ada bulu halus yang menggelitik wajahnya.


“Kamu sedang apa disini?”


Mendengar suara tersebut , Dimas otomatis membuka matanya dan langsung mendapati kepala Selena yang berada tepat di atas kepalanya. Sontak saja ia terkejut dan langsung menjerit kaget.


“Aaaa!!!”


Mendengar teriakan Dimas , Selena juga kaget dan ikut berteriak. “Aaaa!!”


“Kenapa. Kenapa?!” tanya Selena celingukan. Dia berpikir kalau Dimas berteriak karena menemukan serangga atau hal semacamnya.


“Kamu!” Dimas memegang dadanya seraya mengarahkan telunjuknya ke arah Selena. “Ngapain kamu muncul dari sana?! Bikin kaget. Aku kira tadi sadako!”


Butuh beberapa detik bagi Selena untuk mencerna kalimat Dimas , sebelum akhirnya wanita bermata cokelat itu tertawa terbahak-bahak.


“Sudah, hentikan! Itu tidak lucu tahu,” gerutu Dimas kesal.


“Maaf. Maaf. Habis tadi ekpsresimu lucu sekali sih,” ujar Selena seraya menghapus setitik air di ujung matanya yang keluar , saking kerasnya ia tertawa.


“Lagian , Kamu kenapa malah tidur? Katanya mau bersihin rumah?” tanya Selena.


“Capek. Benar katamu , lebih baik menggunakan sapu,” keluh Dimas sambil berjalan menuju dapur.


“Ya, iyalah. Apalagi rumah seluas ini,” timpal Selena sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan meraih remote TV.


Rencana hari ini adalah berbelanja kebutuhan rumah di salah satu mall terdekat. Selena melirik sekilas jam dinding yang tergantung di tengah-tengah ruangan.


Masih pukul 8 pagi. Sementara mall biasanya akan beroperasi di pukul 10 pagi. Berarti masih ada waktu yang bisa ia gunakan untuk menonton TV. Tapi sayangnya , tidak ada tontonan yang menarik.


Karena itu dia memutuskan untuk menonton drama korea di laptopnya.


Sambil bersenandung kecil , Selena berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sampai di ujung tangga , sayup-sayup terdengar suara Dimas yang tengah berbincang di dalam kamarnya.


Berhubung Dimas tidak menutup rapat kamarnya , Selena bisa mendengar beberapa kalimat yang diucapkan Dimas.


“Gak bisa Nay. Aku kan udah bilang mau cari keperluan rumah. Kamu kan bisa diantar Kak Jay.”


“Apa? Iya..iya. Besok aku kesana deh. Kamu udah makan belom?”


Deg.


Jantung Selena terasa pedih mendengar suara Dimas yang terdengar begitu lembut berbicara dengan Nayra. Ia pun mengurungkan niatnya dan memilih turun kembali ke ruang tengah.