
Leon melirik jam tangannya gelisah. Dia menggerutu menyadari masih butuh waktu sekitar 2 jam lagi sebelum pesawatnya mendarat di Soetta.
Dia mendesah berat. Perjalanannya selama 2 hari ke Jepang terasa menyebalkan. Padahal seharusnya dia senang karena akhirnya game buatannya berhasil memasuki pasar bisnis negeri sakura tersebut.
Leon menyandarkan tubuhnya di kursi kabin. Pikirannya melayang, membayangkan kembali malam terakhirnya bersama Selena.
Malam itu, saat Leon menunjukkan kamar rahasianya, dia kesulitan mengartikan ekspresi Selena. Wanita itu berjalan terdiam seraya mengamati tiap sudut kamar. Tapi Selena sempat berhenti cukup lama di salah satu foto dirinya yang diambil Leon saat mereka bertemu di Bali.
Entah apa yang dipikirkan Selena sesudah melihat kamar itu. Leon sendiri takut untuk bertanya. Yang jelas, setelah keluar dari kamar itu, ada keheningan di antara mereka. Bahkan sampai Leon mengantarkan Selena kembali ke apartement, wanita itu tak banyak bicara.
Leon sempat patah arang. Dia merasa malam itu adalah malam terakhirnya bersama Selena. Terlebih dia harus pergi ke Jepang keesokan paginya. Tapi ternyata semua ketakutannya hanyalah pemikirannya belaka.
Tak ada yang berubah dari diri Selena. Wanita itu masih tersenyum ramah padanya. Bahkan membuatkan Leon setangkup roti bakar untuk bekal perjalanannya ke bandara.
Leon mengulas tawa penuh kemenangan. Dia jadi semakin yakin kalau Selena memiliki perasaan yang sama untuknya. Leon merogoh saku celananya, mengambil kotak beludru hitam lalu membukanya. Ada cincin berlian biru berbentuk oval tersemat di dalamnya.
Leon tersenyum puas. Rencananya malam ini dia akan mengungkapkan lagi perasaannya sekaligus melamar Selena. Tak peduli status Selena yang masih menyandang istri sah Dimas Soetedjo.
Leon sudah gerah tiap kali melihat benda putih yang melingkar di jari manis Selena. Dia sudah tak sabar ingin cepat-cepat mencopot cincin pernikahan Selena dan menggantinya dengan miliknya.
Aku merindukanmu, Selena.
****
SKYLOOK GROUP
Dimas terlihat serius mengamati sebuah video di layar laptopnya. Sesekali dia mengumpat, mendecih bahkan menendang kaki meja, saat layar memperlihatkan interaksi ‘mesra’ antara Leon dan Selena.
BRAK
Dimas menutup kasar laptopnya. Setengah jam menyaksikan istrinya bersama pria lain, membuat rasa cemburunya meluap. Meski tak ada hubungan fisik, tapi dia cukup jengkel melihat Selena tertawa-tawa disana.
Apalagi, dari gesture yang ditampilkan Selena terlihat seakan dia benar-benar menikmati waktunya bersama Leon. Hampir seperti bukan berakting.
Baguslah sandiwara ini sudah berakhir. Kalau semakin lama Selena ada disana, bukan tidak mungkin kalau Selena jatuh cinta dengan pria sialan itu!
“Jangan marah terus. Lama-lama jantung Anda bisa meledak,” Martin datang sambil menyodorkan segelas cup kopi panas. Dia mendudukkan tubuhnya di sofa tamu panjang sambil melirik Dimas.
Martin memiringkan kepalanya, “memangnya ada yang salah dari videonya? Bukannya Dari awal kita sudah memperhitungkan akan seperti apa videonya nanti?”
Dimas mendengus kesal sambil mendelik tajam ke arah Martin. Seharusnya di saat seperti ini, Martin menghiburnya sebagai sesama pria. Tapi lihat, dia malah duduk santai sembari menikmati kopinya.
“Si br*ngsek itu harus diberi pelajaran!!” Dimas beranjak bangkit. Dia semakin kesal mengingat Leon sempat menyuruh Selena bercerai darinya. Dia sudah sangat geram, ingin memberi ‘hadiah kecil’ di wajah Leon. “Ini sudah berakhir kan? Jadi aku bisa mendatanginya sekarang dan menghajar wajah sok gantengnya itu!!”
Martin menghela napas lelah. Sifat emosional Dimas memang luar biasa. Sejak memulai skenario ini, entah sudah berapa kali dia harus meredakan amarah Dimas.
Bahkan kalau Martin tak menemaninya saat meringkus anak buah Leon, sudah pasti pria itu akan lepas kendali. Padahal semua skenario ini disiapkan sendiri oleh Dimas, tapi ujung-ujungnya malah dia yang kepanasan.
“Kalau sudah kesana, lantas mau apa? Menghajarnya di depan orang banyak?” Martin melempar pandangan gemas. Gemas ingin menoyor kepala Dimas satu kali saja. Seandainya umur Dimas lebih muda darinya, sudah pasti Martin akan melakukannya.
“I-itu …” Dimas kebingungan ditanya seperti itu. Setelah termenung cukup lama, Dimas mendesah gusar seraya menghempaskan tubuhnya kembali ke sofa.
“Saya mengerti kekusutan Anda. Tapi seperti yang selalu saya katakan, Jangan bertindak gegabah kalau tak mau menjadi bumerang!” Martin menekankan kalimat terakhirnya. Isyarat tegas agar Dimas bisa lebih bersabar. “Ingat terakhir kali kita bertindak sembarangan justru Anda yang dirugikan. ”
Dimas menyibak kasar rambutnya. Mau tak mau dia harus mengakui kalau yang diucapkan Martin benar.
“Haah ….” Dimas menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Lalu dia merubah posisinya, duduk tegak memandang Martin. “Sudah dapat kabar dari Anna?”
Martin menepuk jidatnya. Saking gemasnya dengan Dimas, dia sampai melupakan tujuannya kesini untuk mengabari keberadaan Anna yang sekarang sudah ada dalam pengawasannya.
Jika Anna sudah bersama Martin, berarti wanita itu sudah bersedia menjadi saksi untuk membantu Dimas menjebloskan Leon ke penjara.
Dimas tersenyum puas sambil menggosok-gosokkan tangannya, tapi kemudian ia teringat sesuatu. “Pria s*alan itu masih belum sampai di Indonesia, ‘kan?”
Martin menggeleng, memeriksa ponselnya. “Masih ada waktu 2 jam sebelum pesawatnya mendarat. Saya sudah mengurus anak buah Leon di sana. Mereka akan tertidur cukup lama. Kemungkinan besar, dia tidak akan dapat laporan apa pun sampai tengah malam.”
Dimas menyeringai senang. Dewi fortuna sedang berbaik hati padanya. Semua rencananya berjalan mulus. Hanya tinggal selangkah lagi yaitu – menyerahkan semua bukti ke polisi. Tapi sepertinya, itu bisa diurusnya belakangan. Karena sekarang, ada hal yang jauh lebih penting dari pada itu.
“Sampaikan salam saya untuk Selena,” Seolah tahu jalan pikiran Dimas, Martin bersuara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Dimas hanya mengangguk lalu berlalu pergi menjemput Selena yang sudah sangat dirindukannya.
Mampir dulu ke supermarket deh. Aku juga nggak mau kalah dari pria s*alan itu!! Biar aku perlihatkan ke Selena kemampuan memasakku yang sesungguhnya!!