
Selena bangkit dari kursi kebesarannya setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk.
Sambil memijat tengkuknya yang terasa kaku, Selena mengambil ponsel dari saku celananya.
Selena : Maaf, tidak bisa menemanimu makan siang. Apa kamu sudah makan?
Dimas : Sudah, baru saja. Kamu sendiri?
Selena melirik jam di layar ponselnya. Sambil menggerutu, tangannya menari-nari lincah di atas layar ponsel.
Selena : Kamu baru makan?! Ckck..pernah mendengar penyakit yang namanya asam lambung?
Dimas : Maaf. Pekerjaan menumpuk sekali. Terlebih lagi, kejadian hari ini :p
Selena terkikik geli membaca chat Dimas. Seketika dia membayangkan kembali kebingungannya saat baru memasuki lobi kantor.
Setiap staff yang berpapasan dengannya selalu mengucapkan selamat sambil senyum-senyum. Bahkan ada yang tiba-tiba menyodorkan foto-foto aktor dan aktris terkenal.
“Sering-sering lihat yang begini, Bu. Biar makin cakep paripurna.”
Awalanya Selena kebingungan dan menganggap kalau ucapan ‘Selamat’ yang mereka berikan karena projectnya yang sukses besar.
Namun akhirnya dia menyadari ucapan itu bermakna lain setelah teamnya, memberinya kejutan di ruangannya.
“A-apa ini?” Mata Selena membelalak menunjuk cake kecil di tangan Helen. Ada miniatur wanita berperut buncit bertuliskan ‘Mom To Be’ di atasnya.
“Selamat untuk kehamilannya, Bu!” seru mereka kompak.
“Hamil?!” Selena terpekik kaget. Dia termenung sesaat. Otaknya memutar kembali kejadian tadi sesaat sebelum masuk ruangannya.
“Jadi, maksud mereka bilang selamat itu karena aku....,” Selena bergumam pelan.
“Hamil? Saya hamil?” Selena menatap bingung anggota teamnya. “Kenapa saya bisa hamil?”
“Loh?” Kini giliran anggota teamnya yang kebingungan. Mereka saling berpandangan. Helen menaruh cake di atas meja dan bertanya dengan ragu-ragu.
“Ibu kemarin ijin sakit karena morningsickness kan?”
“Siapa yang bilang seperti itu?” tanya Selena sengit sampai membuat anggota teamnya ketakutan melihat sorot mata kesalnya.
“Prita!” Helen, Niko, Dindin, Maya dan Dewa kompak menunjuk ke arah Prita yang kebingungan.
Pupil Prita bergerak-gerak gelisah saat Selena perlahan mendekat dan menyentuh pundaknya. “Nah, Prita. Coba jelaskan ke saya maksud semua ini.”
Glup.
Prita menelan salivanya takut-takut. Dia melirik ke balik punggung Selena. Tampak teman-temannya berjalan mundur pelan-pelan, keluar dari ruangan Selena.
Mereka mengacungkan kepalan tangan ke udara sambil diam-diam memberikan semangat lewat gerakan bibir.
Setelah introgasi singkat, Selena mendapati fakta kalau rumor ini tersebar dari Julia. Tak butuh waktu lama, Selena langsung mengajak Julia bertemu dan mengkonfrontasinya.
Julia ketakutan dan panik manakala mengetahui kalau kehamilan Selena hanyalah asumsinya saja.
Kekagetan Selena tidak hanya disitu saja. Saat sedang berbincang dengan Julia, Dimas menelponnya. Dan mengatakan kalau di perusahaannya juga tersebar kabar mengenai kehamilan Selena.
Lagi-lagi Selena memanggil Prita sebab menurut penuturan Dimas, berita itu tersebar dari asistennya itu.
Alhasil, Selena dengan kesal langsung memerintah Julia dan Prita untuk membereskan kekacauan yang mereka buat. Tentu saja dengan sedikit ancaman bahwa Dimas akan turun tangan langsung jika berita tersebut masih beredar.
Deringan ponsel membuyarkan lamunan Selena. Dia tersenyum senang takkala melihat nama Dimas terpampang di layar.
****
Selena mengumpat pelan saat sebuah motor tiba-tiba menyalip mobilnya. Beruntung, kakinya dengan cepat menginjak pedal rem. Jika telat sedikit saja, pengendara itu pasti akan terserempet mobilnya.
Saat ini, Selena sedang dalam perjalanan menuju hotel Merccurien untuk menghadiri bridal shower salah satu teman wanitanya.
Sekitar 7 menit akhirnya Selena sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Selena melangkah memasuki lobi hotel.
Namun mendadak ada sensasi aneh menggelitik perasaannya. Seperti ada sesuatu yang menyuruhnya berputar balik.
Selena buru-buru membuang pikirannya terlebih lagi, sejak tadi ponselnya terus bergetar. Tampaknya teman-temannya sudah tak sabar menunggunya.
“Ya..ya. Ini gue udah di lobi. Wait, lagi mau masuk lift,” ujar Selena mengakhiri sambungan.
Begitu sambungan terputus, mata Selena terpaku pada satu sosok yang tak asing. Berambut sebahu dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
Sosok itu memakai dress terusan merah yang dibalut dengan coat cokelat. Seketika Selena membeku saat mengenali sosok tersebut.
“Nayra..,” desisnya pelan. “Apa yang dia lakukan disini?”
Sedetik itu juga, Selena mengingat kembali percakapannya di telepon tadi sore dengan Dimas. Pria itu berkata akan pulang terlambat karena harus mengurus sesuatu.
Secepat kilat, Selena menelpon Dirga dan jawabannya hampir membuat Selena mengumpat. Ternyata Dimas sudah pulang tepat pukul 5 sore!
Tangan Selena mengepal erat. Intuisinya mengatakan kalau Dimas juga ada disini.
Sambil menahan emosi, Selena berjalan mendekati Nayra yang asyik memandangi gawainya. Saking asyiknya, Nayra sampai tak menyadari kehadirannya.
Barulah setelah Selena mendorongnya masuk ke dalam lift, Nayra melihatnya. Pupil hitam wanita itu membulat terkejut. Raut wajahnya memucat.
Selena mendengus kesal di dalam hatinya. Dia menatap tajam Nayra. Amarahnya ingin meluap namun urung karena dia belum tahu pasti apakah Dimas juga ada disini.
Setelah mengatur detak jantungnya, Selena akhirnya bertanya. “Apa kamu mau bertemu dengannya?”
Tolong jawab bukan, please. Rancau Selena di dalam hatinya.
Dia melirik Nayra dengan gelisah sambil terus mengulang doanya. Namun jawaban Nayra memupus harapannya sekejap.
“Iya. Kami mau menghabiskan malam disini.”
DEG.
Dada Selena terasa perih. Seperti ada ribuan duri tertancap disana. Darahnya mendidih mendengar penuturan Nayra yang seolah tak bersalah.
Tangannya mengepal bersiap untuk menghadiahi sebuah tamparan di pipi Nayra. Namun urung saat tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Ya, dua bulan tinggal bersama Dimas dan sempat berlibur bersama bahkan berciuman dengannya, membuat Selena melupakan tentang Nayra.
Pria itu sudah memiliki wanitanya sendiri dan itu bukan Selena. Melainkan wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya.
“Kalau begitu, selamat bersenang-senang.” Merasa tak ada gunanya berdebat hal yang sudah pasti, Selena memilih mengalah dan tersenyum.
Almarhum Papanya selalu mengajarkannya untuk mempertahankan harga dirinya. Dan itu yang kini ia lakukan. Tetap tenang walau hatinya bergemuruh.
Beruntung pintu lift cepat terbuka dan Nayra cepat-cepat bergegas keluar. Diam-diam Selena menghembuskan napas lega. Karena jujur saja, mempertahankan ego di situasi seperti ini sangatlah susah.
Namun Selena cukup terkejut melihat Nayra berbalik menghadap dirinya seolah menunjukkan bahwa dia pemenangnya. Selena hanya tersenyum menerima kekalahannya dengan baik.
Sepanjang lift bergerak turun, Selena mengepalkan tangannya sembari mengigit bibirnya dan menarik napas panjang berulang-ulang.
Berusaha mati-matian menahan air matanya keluar. Tapi justru dadanya kian terasa sesak. Seketika ia merasa sedikit limbung sampai- sampai harus berpegangan pada dinding lift.
Tring..
Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Selena baru akan keluar ketika seseorang masuk ke dalam lift dan memanggil namanya. “Selena?”
Selena menengadahkan kepalanya dan mendapati Alvino berdiri di depannya. Dan tiba-tiba saja semuanya gelap.