
Sesuai dengan prediksi Gina , konferensi press yang dilakukan Nayra berhasil mendapatkan respon positif dari penggemar dan masyarakat. Kepopuleran Nayra pun meningkat dengan pesat.
Hal ini terjadi karena masyarakat menyukai sikap Nayra yang terang-terangan mengakui kebenaran skandalnya.
Berbeda dengan artis-artis lain yang biasanya menyangkal mati-matian demi mempertahankan citranya di mata publik.
Gina membaca artikel di tabletnya dengan wajah datar. Sementara Mahesa , sekertaris pribadinya , berdiri di sampingnya sambil memuji Gina yang dinilainya bisa menyelesaikan masalah Nayra dengan cepat.
“Ibu benar-benar luar biasa! Saya sampai.....,” ucapan Mahesa terputus saat suara dering ponsel Gina terdengar.
Gina terdiam menatap layar ponselnya.
“Emm...Bu? Teleponnya tidak mau diangkat?” tanya Mahesa pelan.
“Tidak,” jawab Gina sambil memasukkan ponselnya yang sedang berbunyi ke dalam laci meja kerjanya.
Melihat sikap Gina , otomatis membuat Mahesa terdiam canggung.
“Mahes..,” suara Gina yang mendadak mengagetkan Mahesa.
Pria jangkung itu sedikit gelagapan menjawabnya , “y..ya Bu?”
“Ada kabar dari Nayra?”
“Belum ada Bu. Tapi seharusnya saat ini mereka sudah sampai di hotel Grand Palace.”
“Coba tolong kamu pastikan keberadaan Nayra. Firasat saya tidak enak.”
“Baik Bu. Saya permisi dulu," balas Mahesa sambil bergegas keluar meninggalkan Gina yang masih duduk terdiam di kursi.
**********
Sementara itu , seperti hari-hari biasanya , Dirga selalu disibukkan dengan setumpuk pekerjaan. Apalagi sejak atasannya --- Dimas , memulai ekspansi ke luar negeri. Volume pekerjaan Dirga semakin bertambah.
Biasanya jika dia sudah merasa lelah atau suntuk , Dirga memilih untuk beristirahat sejenak dengan meminum secangkir kopi sambil bermain game atau menonton anime.
Dan itulah yang kini sedang dia lakukan. Sambil mendingankan kembali pikirannya yang kusut , Dirga membuka ponselnya dan mulai mem-browsing film anime terbaru. Baru saja dia memainkan ponselnya, matanya sudah dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya melotot.
Ia bahkan sampai membersihkan lensa kacamatanya , berpikir kalau ada yang salah dengan penglihatannya. Setelah beberapa lama menonton sesuatu di layar ponselnya , Dirga terkulai lemas. Dia mendongakkan kepala sambil menyandarkan tubuhnya.
Tiba-tiba , suara Dimas terdengar memanggilnya melalui interkom , membuat Dirga buru-buru masuk ke ruangannya sambil menormalkan kembali raut wajahnya.
“Dir , peninjauan cabang di Singapore sudah ada belum?” tanya Dimas.
“Seharusnya sudah Pak , karena Mr.Theo kemarin sudah selesai dengan laporannya.”
“Begitu ya. Coba saya lihat...,” Dimas bergumam sambil mulai memeriksa emailnya.
Dimas terdiam, terpaku menonton video itu sementara Dirga yang berdiri di hadapannya mulai merasa cemas.
Dari volume suara komputer Dimas , Dirga yakin kalau saat ini , atasannya sedang menyaksikan video konfrensi press Nayra.
Dimas masih saja terdiam sampai video tersebut berakhir. Keheningan yang tiba-tiba menyeruak menimbulkan kecemasanan di hati Dirga. Apalagi melihat Dimas yang tidak bereaksi sedikitpun dan tidak juga merubah posisi duduknya sama sekali.
Pikiran buruk mulai menghantui Dirga. Dia segera menghampiri atasannya tersebut.
“Pak Presdir!” Dirga sedikit berteriak di sebelah Dimas.
Anehnya Dimas masih tidak bereaksi apa-apa. Dirga semakin kalut dan mulai mengoyang-goyangkan tubuh Dimas.
“Pak..Pak..sadar. Jangan meninggal dulu..” ujarnya panik.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di jidat Dirga. Pria berkacamata itu terkejut dan segera melepaskan tangannya dari badan Dimas. Sambil mengusap-usap jidatnya , dia melihat ke arah Dimas yang kini menatapnya dengan kesal.
“Saya belum mati!” ujar Dimas kesal.
“Maaf Pak. Habis Bapak diam aja.”
“Diam bukan berarti meninggal! Seharusnya kamu periksa dulu. Mata saya ini masih melotot! Saya juga masih bernafas!”
Dirga hanya bisa menunduk sambil memegang jidatnya yang masih sedikit perih.
“Menurutmu , saya harus bagaimana Dir?” tanya Dimas tiba-tiba dengan suara lirih.
Dirga mengangkat kepalanya dan melihat Dimas kini sedang tertunduk dengan tangan kiri menopang keningnya. Dirga hanya bisa diam , karena dia juga bingung dengan berita yang mengejutkan ini.
“Apa hubungan kami memang tidak berarti apa-apa buat Nayra?” lanjut Dimas.
Dirga baru mau membuka mulut ketika tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel milik Dimas. Begitu diangkat , raut wajah Dimas berubah tegang.
“Oke. Aku kesana.”
Begitu telepon dimatikan , Dimas menatap Dirga yang masih terlihat kebingungan.
“Cancel semua meeting saya,” perintah Dimas sambil berjalan keluar ruangan.
“Baik Pak,” jawab Dirga cepat.
Namun baru saja kakinya melangkah keluar , ponselnya lagi-lagi berdering. Dimas dengan cepat langsung menjawab , tanpa melihat siapa yang menelponnya.
Beberapa menit kemudian , wajahnya menjadi pucat. Dia segera berlari menuju lift dan langsung ke parkiran mobil tanpa menghiraukan tatapan karyawan yang kebingungan melihatnya.