The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Pertemuan Dua Keluarga



Selena menghela napas panjang sambil berdiri di depan cermin panjang yang terletak di sudut kamarnya. Berulang kali dia merapikan rambut , make up dan bajunya.


Namun sesering apapun dia rapikan tetap saja ada yang salah menurutnya. Saat ini dia benar-benar gugup. 15 menit lagi keluarga Dimas akan datang.


Tapi sampai saat ini Selena masih belum percaya kalau keluarga Goenawan Wiro Soetedjo yang terkenal akan datang dan makan malam di rumahnya.


Secercah rasa bangga menyelimuti Selena. Namun saat dia sadar tujuan kedatangan mereka , seketika Selena langsung terduduk lemas di kasur.


Tangannya mengambil ponsel yang tergeletak disana. Tidak ada balasan pesan atau telepon dari Dimas. Padahal dari tadi sore Selena sudah meminta agar Dimas menunda pertemuan ini.


Tok..tok.. tok .. suara ketukan di pintu mengagetkan Selena. Sesosok remaja laki-laki muncul dari balik pintu.


“Kak, kalau sudah siap disuruh turun” kata Raymond.


“Haahh...iya.”


“Kakak kenapa? Takut ya?” Raymond kini ikut duduk di samping Selena sambil mengenggam tangan Selena. “Jangan takut kak. Kan ada Ray. Kalau Kakak gak suka perjodohan ini biar Ray yang bilang sama Mama”.


Selena tersenyum. Tapi kemudian dia terkejut melihat Raymond yang tampak semakin tinggi. Sepertinya sudah lama sekali dia tidak pulang ke rumah. Karena tahu-tahu adiknya sudah tumbuh hampir setinggi dirinya.


Selena mengusap pipi Raymond dan mencubitnya pelan. “Makasih ya Adikku yang ganteng.”


“Ih, apaan sih?!” Raymond langsung berdiri menepis tangan Selena.


Rasa malu terpancar dari wajahnya. Sepertinya mau seberapa pun tinggi tubuh Raymond , dia tetaplah seorang adik kecil di mata Selena.


“Hahaha....,” Selena tertawa sambil berdiri menggandeng Raymond. “Yuk turun. Kakak udah siap.”


Walau Raymond sempat menolak bergandengan, tapi dia tak berusaha menepis tangan Selena yang bergelanyut di lengannya.


Di ujung tangga , Mama tiba-tiba berkata kalau Dimas dan keluarganya sudah datang. Selena menarik napas panjang mengatur detak jantungnya sebelum turun dari tangga bersama Raymond.


Tak lama kemudian, Goenawan dan istrinya -- Vivi masuk ke ruang tamu. Selena memandang takjub pasangan suami istri tersebut. Walau sudah berusia 58 tahun tapi Goenawan masih terlihat gagah. Badannya tinggi tegap.


Begitu pun dengan Vivi. Kecantikannya seakan tak terpengaruh oleh kerutan di wajahnya. Kulitnya putih dengan dagu tirus yang anehnya masih terlihat kencang. Tampilannya pun telihat modis dengan potongan rambut sebahu berwarna merah kecoklatan.


Kini Selena mengerti dari mana DNA ketampanan Dimas berasal. Di belakang pasangan itu ada Dimas yang tak kalah menyilaukan dengan kemeja birunya. Rambutnya tertata rapi. Membuat Selena berpikir berapa lama waktu yang dihabiskannya untuk membuat rambut serapi itu.


Rasa takjub Selena tak berakhir sampai situ. Dia cukup kaget melihat kedekatan antara Mamanya dan keluarga Dimas. Mereka saling berpelukan bahkan memanggil dengan nama masing-masing. Setelah saling menyapa , perhatian mereka kini tertuju pada Selena.


Selena terlihat masih canggung ketika Goenawan dan Vivi menyapanya dengan ramah. Kecanggungan Selena sedikit mencair ketika makan malam dimulai.


“Jadi, kapan kalian akan siap meresmikan hubungan kalian berdua?” Goenawan tiba-tiba bertanya sambil menatap Dimas dan Selena bergantian.


Ha? Selena sampai tersedak mendengarnya. Sebuah gelas berisi air tiba-tiba berada di depannya. Tanpa banyak pikir Selena segera meminumnya. Dia cukup terkejut saat tahu kalau Dimas yang tadi memberikannya air.


“Pelan-pelan makannya, Nak” ujar Mama yang membuat Selena tersenyum malu.


“Pi , Dimas dan Selena masih tahap pengenalan. Terlalu cepat untuk peresmian” ujar Dimas , “benar kan, Sel?”


Selena yang masih kaget langsung mengangguk , “iya Om. Kami masih butuh penyesuaian.”


“Loh, tapi kalian kan dari dulu sudah saling mengenal. Mau mengenal berapa lama lagi?” tanya Vivi.


“Maaf tante. Tapi saya sama sekali tidak mengingat Kak Di....”


Perkataan Selena terputus karena tiba-tiba Goenawan langsung memotong ucapannya , “baiklah..baiklah.. kalau memang kalian butuh waktu silahkan. Tapi ada syaratnya.”


Goenawan tersenyum jahil seraya menunjuk Selena dan Dimas bergantian ,


“Syaratnya adalah kalian harus meluangkan waktu bersama setiap akhir pekan dan hari libur. Lalu kita sekeluarga akan mengadakan liburan bersama minimal sebulan sekali."


Tentu saja Dimas dan Selena memprotes keras ide tersebut, tapi Goenawan tidak bergeming. Terlebih lagi ide tersebut juga disetujui oleh Vivi dan Mamanya. Maka harapan satu-satunya hanya Raymond. Selena menatap adiknya dengan tatapan memelas. Tapi Raymond justru nyengir sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


Dasar adik durhaka! Katanya tadi mau bantuin!