The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Rahasia Kecil



Alvino menatap malas buku menu di tangannya. Dia hanya membolak-balik halamannya tanpa berniat membacanya.


“Tolong, 2 cangkir americano,” pinta Gina kepada seorang pelayan berompi hitam.


Pelayan itu mengangguk dan berlalu setelah mencatat pesanan Gina.


“Vin, lihat gue.”


Alvino menoleh dengan acuh. “Kenapa?”


“Lo...baik-baik aja?” tanya Gina dengan nada lirih.


Alvino tersenyum tipis. “I’m fine. Why?”


“Really?”


Alvino mengangguk seraya memamerkan senyum lebarnya. “Yep. Emang kenapa lo tanya kayak gitu?”


“Don’t lie. I know , you not okay.”


Alvino tertegun. Senyum lebarnya kini menghilang , berganti dengan kemuraman di raut wajahnya.


Sempat ada keheningan di antara mereka berdua , sebelum akhirnya Alvino memecah kesunyian dengan pertanyaannya.


“Sejak kapan lo tahu?”


“Sejak semester 2.”


Alvino tertawa pahit. “Semester dua? Wow, Lama juga ya,” kekehnya.


Gina terdiam. Tak berniat menanggapi sarkasme Alvino. Alih-alih ikut tertawa, Gina hanya menggengam tangan Alvino. Si pemilik tangan hanya membuang muka.


Mengalihkan pandangannya dari Gina namun tangannya tidak menepis genggaman Gina. Tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka berdua. Sampai pelayan datang membawa pesanan mereka.


“Mau karaoke?” usul Gina. “Kebetulan Martin lagi senggang juga.”


Alvino menyeruput kopinya. Lalu mengangguk. “Boleh."


**********


Di sebuah studio foto, Nayra terlihat sedang berpose di bawah arahan seorang fotografer berpenampilan nyentrik.


“Terakhir ya. One two three. Oke , finish!!” teriakan nyaring fotografer berbarengan dengan kilatan flash diikuti tepukan tangan dari para staff menandakan kalau pemotretan itu telah berakhir.


“Luar biasa. Kamu selalu bikin saya kagum, Nay! Seharusnya dari dulu kita sudah bertemu,” puji sang fotografer.


Nayra tersipu malu. “Justru Kakak yang selalu buat saya kagum. Karya Kakak selalu fantastis.”


Fotografer itu tertawa senang. Rambut pendek neonnya ikut bergerak-gerak setiap kali fotografer itu tertawa.


Nayra sempat terperangah ketika pertama kali melihat secara langsung rambut yang menjadi ciri khasnya itu. Warnanya campuran antara hijau, biru dan pink terang -- sekilas mengingatkan Nayra pada warna permen yang dulu sering ia cicipi.


Setelah bercakap-cakap sejenak, Nayra pamit pulang dan segera pergi menghampiri Jay yang sudah menunggunya di dalam van.


“Apa jadwalku selanjutnya, Kak?” tanya Nayra sambil memasang seat-belt di pinggangnya.


Jay memeriksa ponselnya sejenak, lalu menggeleng. “Tidak ada.”


Nayra tersenyum senang. Tangannya merogoh tas oranye kecil dan mengambil ponselnya. Sejenak, dia terlarut dalam layar ponsel dengan tangan yang sibuk mengetik-ketik di atasnya.


“Kak!” Nayra tiba-tiba berseru, mengagetkan Jay yang sedang mengemudi. “Antar aku ke apartemennya Dimas. Sekarang!”


Jay sontak menghentikan laju mobilnya, beruntung saat itu lampu merah berada di atasnya. “Apa kamu gila, Nay?” desis Jay sembari mendelik ke belakang. “Dimas itu sudah menikah!”


“Aku tahu,” Nayra menyilangkan tangannya di dada. Mukanya terlihat kesal karena Jay mengingatkannya akan status Dimas yang sudah menikah. “Sudahlah. Kakak ikutin saja permintaanku. Ini juga keinginan Dimas kok.”


“Pokoknya, aku tidak mau ikut campur ya!” tegas Jay dengan cepat saat Nayra hendak turun dari van.


Nayra mengacungkan jempolnya lalu melesat pergi memasuki lobi sebuah apartemen.


**********


“Dia tidak kembali ke apartemennya?!” Gina memekik kaget sembari memukul dashboard mobil. Membuat Alvino yang sedang menyetir di sampingnya, tersentak kaget.


“Sekarang juga, kamu cari keberadaan dia sampai dapat!” lanjut Gina sambil menggertakan giginya.


Begitu panggilannya berakhir, Gina menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. Sambil memejamkan mata , dia tak henti-hentinya bergumam. “Pergi kemana wanita itu?”


“Siapa yang pergi, Gin?” tanya Alvino.


“Ha?” Gina membuka matanya dan menatap lurus ke depan. “Adalah. Salah satu artis gue.”


“Artis itu.... Nayra, bukan?”


Manik hitam Gina membulat dan langsung menoleh ke Alvino dengan cepat. “Lo. Tau dari mana?!” Tanyanya curiga.


“Dari.....,” Alvino berpikir sejenak, lalu melirik Gina sambil berkata pelan. “Dari TV. Soalnya artis yang bikin skandal kemarin dia kan?”


“Oh....” Gina menghembuskan napas lega sembari menyandarkan kembali tubuhnya. “Gue kira, tahu dari mana.”


Alvino cengengesan menanggapi ucapan Gina walau sebenarnya merutuki kebodohannya di dalam hati. Hampir saja dia mengatakan kepada Gina kalau ia melihat Nayra menjalani sesi terapi di rumah sakit bersama seorang pria.


**********


KANTOR SKYLOOK


Dimas sedang sibuk membaca dokumen di mejanya , ketika ponselnya berdering. Dengan sedikit kesal, tangannya mengambil benda pipih berwarna hitam yang tergeletak di sampingnya.


Alisnya berkerut melihat nomor yang tidak dikenalnya. Walaupun bingung, ia tetap menjawabnya. Setelah melakukan percakapan selama beberapa menit, Dimas mematikan sambungan itu dan menyambar jas biru dongker yang tergantung rapi di samping mejanya.


“Saya mau pergi keluar. Tolong kamu handle dulu pekerjaan saya,” perintah Dimas.


“Memangnya Presdir mau kemana?” tanya Dirga bingung.


“Urusan keluarga,” jawab Dimas sebelum menghilang di balik pintu lift.


Sesampainya di tempat tujuan, Dimas mempercepat langkah kakinya menuju ke sebuah ruangan yang dimaksud oleh penelponnya tadi. Selang 15 menit kemudian, Dimas keluar dari ruangan tersebut dengan seorang remaja tinggi berseragam abu-abu yang berjalan tertunduk lesu di belakangnya.


Cukup lama remaja laki-laki itu terdiam. Sampai akhirnya dia baru membuka mulutnya.


“Maaf merepotkan Kakak,” ujarnya pelan.


Dimas tersenyum kecil. Tangan kirinya mengusap pelan kepala remaja laki-laki itu. Sementara tangan kanannya tetap mengenggam kemudi setir.


“Tidak masalah. Hanya saja, jangan ulangi lagi. Oke?”


Raymond -- begitu remaja laki-laki itu biasa dipanggil, mengangguk pelan. Tapi kemudian gurat ketakutan tercetak di wajahnya ketika ia mengingat sesuatu.


“Kakak gak kasih tahu Kak Selena, kan?” tanyanya cemas.


Dimas menggeleng. “Tentu saja tidak. Kalau Kakak bilang, pasti saat ini ponselmu akan terus berdering,” ujar Dimas sambil tertawa kecil.


Raymond menghembuskan napas lega. Jika kakak perempuannya itu tahu bahwa ia ditangkap polisi, sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Selena pasti akan mengomelinya sepanjang hari, menceramahinya atau bahkan yang terburuk adalah memberitahu Mama.


Raymond melirik Dimas yang terlihat sedang fokus menyetir. Pilihannya menelpon Dimas memang tepat. Tapi di sisi lain, Raymond juga merasa tak enak merepotkan pria yang baru beberapa hari menjadi kakak iparnya itu.


Seakan bisa membaca pikiran Raymond, Dimas tiba-tiba berkata,"Jangan dipikirkan. Sekarang kita adalah keluarga. Masalah kamu berarti masalah Kakak juga. Dan ini akan jadi rahasia kecil kita. Setuju?"


Raymond tersenyum lebar dan mengangguk cepat.