The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Harapan Leon



Aleron mengernyit bingung saat melihat kesibukan di mansionnya. Tidak biasanya cucunya - Leon, berada di mansion siang hari seperti ini. Terlebih lagi pria itu terlihat sibuk mengatur tata letak ruangan sambil mengamati intens para pelayan yang sedang berbenah.


“Leon, ada apa ini? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Aleron.


“Loh, Grandpa masih di Jakarta? Aku kira sudah berangkat ke Vancouver.”


“Sebentar lagi Grandpa ke bandara. Tapi jelaskan dulu ada apa ini? Kenapa kamu mengubah mansion?”


“Ada temanku yang mau makan malam disini. Mansion ini terlihat gelap jadi aku mengubahnya supaya sedikit cerah.”


“Teman? Siapa temanmu?” tanya Aleron penasaran. Karena seingatnya, Leon tak pernah mengijinkan satu orang pun temannya untuk berkunjung ke mansion.


Leon tersenyum penuh arti. “Adalah. Nanti akan ku kenalkan dengan Grandpa.”


“Laki-laki atau perempuan?” Desak Aleron.


“Grandpa pergi saja ke bandara. Jangan mengkhawatirkanku.” Gerutu Leon kesal.


“Yasudah.” Aleron mengalah, tak ingin mengusik kesenangan cucu lelaki satu-satunya itu. “Grandpa pergi dulu. Tapi ingat, hati-hati selalu.”


Leon hanya mengangguk sambil berlalu pergi.


****


Malam harinya, Leon menjemput Selena di apartement. Seketika dia terdiam membeku saat melihat Selena berjalan keluar dari unitnya.


Wanita itu tampil cantik dengan sheath dress merah selutut. Rambut hitamnya tergerai dengan sedikit curly di bagian bawahnya. Make up bold sengaja ia pulaskan di wajahnya.


“Mau melamun sampai kapan?” tanya Selena yang mulai risih ditatap intens oleh Leon.


“Ah. Maaf. Hari ini kamu sedikit berbeda.” Jawab Leon malu-malu.


“Berbeda gimana? Riasanku jelek ya?” tanya Selena sambil memeriksa pantulan wajahnya di kaca lift. “Hari ini, aku mencoba riasan baru,” tambahnya sambil menatap Leon.


Leon terkesiap ketika mata mereka saling bertubrukan. Pria itu berdehem, berusaha menetralkan debaran jantungnya.


“Kamu selalu terlihat cantik, Sel. Bahkan tanpa memakai riasan sekali pun,” ungkap Leon jujur. Ada pancaran ketulusan yang tersirat dari matanya.


Selena mematung beberapa saat. Hatinya tiba-tiba berdenyut perih. Selena tersenyum getir, memalingkan pandangannya.


Haruskah aku menyakitinya sejauh ini?


****


Perjalanan dari apartement menuju mansion Leon ternyata lebih lama 20 menit dari yang seharusnya. Biasanya Leon akan mengumpat sepanjang perjalanan, tapi kali ini ia malah tersenyum senang.


Dia bahkan tak memaki saat seorang pengendara motor nyaris menghancurkan spionnya. Setelah satu jam berkendara, mereka tiba di mansion Leon.


“Selamat datang di mansion keluargaku,” Leon membuka pintu penumpang lalu mengulurkan tangannya, membantu Selena keluar dari mobil.


Selena mengerjap, terpukau menatap bangunan megah di depan matanya. Bangunan 4 lantai itu tampak memesona dengan design interior Eropa classic.


Tanpa sadar Selena sampai menahan napasnya saat Leon mengajaknya masuk. Ruangan besar nan megah berdominasi warna putih gading langsung menyapanya begitu pintu terbuka.



(source : Pinterest)


.


.


“Aku kira ruang makan ada di lantai 1.” Ucap Selena saat mereka menaiki lift menuju lantai 4.


“Memang, tapi aku sudah menyiapkan sesuatu.” Sahut Leon.


Selena tak sempat bertanya lagi karena Leon tiba-tiba menarik lembut tangannya.


“Wow….”


Tanpa sadar seruan kagum terlontar dari mulut Selena. Matanya membola sementara mulutnya terbuka saking terkejutnya melihat pemandangan di depan matanya.


Tempat yang disiapkan Leon untuk makan malam mereka adalah sebuah balkon. Balkon itu telah disulap sedemikian rupa dengan sebuah meja persegi dan 2 kursi yang berhadapan di bagian tengah balkon. Kesan romantis begitu terasa karena penerangan lilin-lilin yang temaram dipadukan dengan aneka mawar di sekeliling balkon.


Yang membuat Selena semakin terpana karena ia bisa melihat keindahan langit malam tepat di atas kepalanya.


Dari atas balkon, Selena bisa melihat hampir separuh mansion. Dia tak bisa berkedip melihat betapa luasnya dan indahnya mansion milik keluarga Leon.


Kolam renang biru terhampar cantik di bawah balkon. Taman mansion dipenuhi ragam bunga dan dedaunan yang ditata rapi. Air mancur tinggi berdesain patung Hera menjulang indah di tengah taman.


Aku baru tahu ada tempat semewah dan seindah ini di Jakarta.


“Sel..” suara bariton Leon menyadarkan Selena dari lamunannya.


Wanita itu menoleh, mendapati Leon tersenyum padanya.


“Mau sampai kapan berdiri disini? Habis makan, aku akan mengajakmu keliling mansion, kalau kamu masih penasaran,” goda Leon.


Muka Selena bersemu merah. Dia baru sadar kalau sejak tadi dia bersandar di tepi balkon.


Tak ingin Leon semakin menggodanya, Selena buru-buru beranjak dan langsung menempati sebuah kursi kosong.


Leon terkekeh geli. Dia lalu menyuruh pelayannya untuk menyiapkan makanan. Selena mengernyit saat pelayan menuangkan wine merah di gelasnya.


“Aku nggak mau minum ini.” Tolak Selena sambil menjauhkan gelasnya. “Aku mau air putih aja.”


“Wine ini nggak membuatmu mabuk. Kadar alkoholnya sangat rendah bahkan lebih rendah dari bir.”


Selena menggeleng tegas. “Pokoknya nggak.”


“Yasudah.” Leon segera menyuruh pelayannya mengambil gelas berisi wine dari meja dan mengantinya dengan segelas air.


“Loh, kalau kamu mau minum wine, nggak masalah,” Selena kebingungan melihat pelayan menyingkirkan gelas mereka berdua.


“Kamu nggak suka minum. Berarti aku nggak boleh minum .... agar bisa disukai olehmu,” timpal Leon.


Jantung Selena kembali berdenyut perih karena Leon menatapnya sambil tersenyum. Matanya mulai terasa berkabut.


“Sel?” Leon bergegas menghampiri Selena saat melihat wanita itu menundukkan wajahnya sambil membekap mulutnya.


“Kamu kenapa menangis, Sel?? Apa makanannya nggak enak?” Leon bertanya cemas. Dia bisa mendengar suara isakan Selena yang tertahan. Otaknya seketika mengurut peristiwa sebelumnya.


“Apa gara-gara aku menyajikan wine? Maafin aku, Sel.


Ku kira makan malam seperti ini bakal cocok dengan segelas wine. Tolong jangan menangis. Aku nggak bisa melihatmu menangis ...” pinta Leon sendu sambil berlutut, mengenggam erat tangan Selena.


Selena mengusap ujung matanya. Dia memandang Leon lalu tertawa kecil. “Bukan. Aku menangis karena tiba-tiba teringat sesuatu. Maaf ya, kalau membuatmu kaget.”


Leon memicingkan matanya. Tak percaya begitu saja. “Benar bukan gara-gara wine tadi?”


Selena mengangguk. “Benar.”


Leon menghela napas lega. “Syukurlah. Tapi apa yang kamu pikirkan sampai kamu terisak seperti tadi? Apa kamu ….. teringat Dimas?” tanya Leon yang sudah kembali ke kursinya.


Selena menggeleng. “Bukan, kok. Malah saat ini aku nggak memikirkan dia sama sekali. Sudah, tidak usah membahasnya. Aku sudah lapar ...," Selena mengerucutkan bibirnya, meminta persetujuan Leon agar segera memulai santap malam mereka.


Leon tersenyum geli melihat paras menggemaskan Selena. Mereka berdua akhirnya memulai makan malam mereka. Lagi-lagi Selena merasa sedih saat tanpa sengaja mempergoki Leon tengah menatapnya dengan penuh cinta.


Setelah makan, Leon mengajak Selena berkeliling mansion. Selena sedikit risih karena Leon juga mengenalkannya kepada semua pelayan di dalam mansion. Apalagi para pelayan menganggapnya seperti calon istrinya Leon.


.


.


“Aku tanya sekali lagi. Apa kamu serius mau masuk ke dalam?” tanya Leon memastikan. Saat ini mereka tengah berada di depan sebuah ruangan berpintu cokelat di lantai 2.


Selena mengangguk pasti. “Iya.”


Leon meremas tangan Selena, menatapnya lembut. “Tapi berjanjilah. Setelah kamu melihatnya, tolong jangan membenciku. Atau ketakutan melihatku. Karena di dalam sini, ada semua kegilaanku padamu," desak Leon cemas.


"Berjanjilah dulu, Sel."


Selena menelan salivanya. Mulutnya terbuka ragu-ragu. “Aku…. berjanji.” Sahutnya sambil memegang anting birunya.


Leon menatap intens Selena, memastikan kalau wanita itu tak berbohong. Setelah dirasa benar, dia mulai menekan sandi pintunya.


“Semoga setelah ini kamu nggak akan meninggalkanku, Sel.” Harap Leon sambil membuka pintu lebar-lebar.