The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Rencana Goenawan



Selena memanyunkan bibirnya sembari menatap jendela dengan raut kesal. Sementara Dimas yang sedang menyetir di sampingnya, hanya nyengir dan berpura-pura tidak melihatnya.


“Aku kan bisa bawa mobilku sendiri!”.


Sudah kelima kalinya Selena mengulangi kalimat itu tapi tetap saja Dimas meresponnya dengan jawaban yang sama.


“Memangnya salah kalau aku ingin menjemputmu? Toh, kantor kita searah”.


“Ya,tapi kan...,” Selena hendak memprotes saat Dimas tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Hampir saja Selena terbentur dashboard jika tak mengenakan seat-belt.


“Aduh...” Selena meringis sembari memegang dadanya.


Dengan melotot, Selena menoleh cepat ke arah Dimas bermaksud untuk memarahinya. Namun urung dilakukannya, melihat pias Dimas yang pucat.


“Sel..” Dimas memanggilnya dan memalingkan mukanya menatap Selena.


“Kamar kita berdua....”.


Puk. Selena menepuk jidatnya. Hampir saja mereka melupakan hal sepenting itu. Kenapa dari tadi dia tidak ingat hal itu dan justru malah sibuk berdebat soal mobil? Bisa runyam, kalau sampai Goenawan dan Vivi tahu perihal kamar tidur mereka yang terpisah.


Tanpa dikomando, Selena dengan cepat merogoh tasnya dan mulai menelpon Bik Nini. Sementara Dimas, segera melajukan kembali mobilnya dengan lihai dan cepat, menembus kemacetan kota Jakarta.


Berkat kepiawaian Dimas mengemudikan mobil, mereka bisa sampai lebih cepat. Setengah berlari, mereka berdua langsung buru-buru menuju kamar Dimas.


Beruntung Mami dan Papi akan datang sedikit terlambat sehingga mereka berdua punya cukup waktu untuk memindahkan baju-baju Dimas ke kamar Selena.


Selesai membersihkan diri, Selena turun ke dapur -- ikut membantu Bik Nini memasak. Karena mendadak, menu makan malam yang disiapkan Selena tidak semewah yang biasa dimakan keluarga Soetedjo.


“Memangnya kamu pikir keluargaku makan nasi dicampur emas berlian?” tukas Dimas saat Selena mengungkapkan kecemasannya.


Dimas mengusap pelan rambut Selena.


“Jangan khawatir. Mereka akan makan apapun yang kamu sediakan”.


Selena tersenyum lega dan kembali melanjutkan kegiatan memasaknya sementara Dimas menyiapkan meja dan peralatan makan.


Sekitar 30 menit kemudian, pasangan Goenawan dan Vivi akhirnya datang. Selena langsung menyambutnya serta mencium punggung tangan kedua mertuanya dan memeluk mereka secara bergantian.


Sementara Dimas yang masih belum terbiasa dengan kebiasaan Selena itu hanya tersenyum simpul menyambut orangtuanya.


“Minggu ini, Papi ingin kita semua menginap di villa hijau,” ucap Papi saat mereka semua sedang bersantap.


“Dimas sibuk”. Dimas langsung menjawab dengan enteng sambil menyuap sesendok nasi ke mulutnya.


Selena buru-buru menyenggol kaki Dimas begitu melihat raut wajah Goenawan yang kesal. Sementara Vivi hanya tertawa kecil seperti sudah terbiasa mendengar penolakan dari Dimas. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benaknya.


“Yasudah kalau kamu sibuk, Mami sama Papi gak akan maksa. Kalau Selena bagaimana? Kamu bisa kan ikut kami menginap?” tanya Vivi.


Selena menganggukkan kepalanya. “Bisa, Mi. Nanti Selena ajak Mama sama Raymond juga”.


“Nah, berarti kita bisa....,” Ucapan Vivi terputus karena Dimas tiba-tiba memprotes perkataan Selena.


Selena mengangkat bahunya sambil menengak segelas air. “Kamu kan sibuk”.


Dimas membuang muka sambil berdecak kesal. Vivi diam-diam mengedipkan matanya ke Goenawan yang langsung dibalas dengan acungan jempol.


Sementara itu, Selena yang tak sadar kalau sedang dikerjain oleh Vivi, tetap tenang dan santai menikmati makan malamnya.


Sesuai dengan prediksi Dimas, kedua orangtuanya memutuskan untuk menginap semalam. Setelah mengantar Goenawan dan Vivi ke kamar tamu yang berada di bawah, Dimas dengan canggung berjalan masuk ke kamar Selena.


Dimas dan Selena memang memutuskan untuk tidur di kamar yang sama, walau Goenawan dan Vivi berada di bawah.


Mereka hanya takut kalau sewaktu-waktu, kedua orangtua Dimas tiba-tiba naik ke lantai dua.


Dia tertegun di depan pintu ketika melihat Selena yang sudah duduk di atas kasur sambil memainkan laptop di pangkuannya.


Dimas menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan berjalan dengan ragu-ragu. Tanpa bersuara, tangannya menggeser selimut dan perlahan duduk di atas kasur persis di samping Selena. Dia terduduk dengan tegak.


Matanya melirik Selena yang masih fokus memainkan laptopnya. Jengah karena dicuekin, Dimas berdeham --- membuat Selena melotot kaget.


“Apa sih?” tanyanya jengkel.


“Aku mau tidur!” Dimas memanyunkan bibirnya persis seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.


Selena bengong tak berkedip menatapnya.


Terus maksudnya gue harus ngapain? Nina boboin?


Dimas menghembuskan napas --- menyerah karena kodenya tak bisa diartikan Selena. “Lampunya terlalu terang. Aku gak bisa tidur”.


“Ooo...,” Selena manggut-manggut sambil beranjak menjauh. Mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan cahaya lampu kamar mandi yang menyusup dari balik pintu.


Dia kemudian duduk di sofa kecil dengan laptop tetap di pangkuannya dan kembali sibuk bekerja.


Dimas mendengus kesal --- dengan kasar ditariknya selimut hingga menutupi lehernya dan berbalik membelakangi Selena.


Selena baru mematikan laptopnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Direnggangkan badannya sesaat sebelum membaringkan tubuh.


Sambil terduduk di kasur, Selena memperhatikan Dimas yang tertutup selimut. Tangannya terulur --- gatal ingin menyibak benda yang menutupinya.


Namun ia dikejutkan dengan suara getaran ponsel Dimas yang tergeletak di atas nakas. Cukup lama ponsel itu bergetar dan kemudian berhenti. Namun beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali bergetar.


Selena yang penasaran akhirnya berjinjit perlahan mendekati nakas. Diliriknya sekilas Dimas yang masih terlelap. Jantung Selena berdebar kencang seiring dengan tangannya yang bergerak meraih benda pipih yang masih bergetar itu.


Mata Selena membulat kala melihat nama yang terpampang di layarnya.


“Nayra....” gumamnya pelan. Rasa pedih perlahan menjalar di dadanya ketika ia menaruh kembali ponsel Dimas di tempatnya semula.


Dipandangnya kembali wajah Dimas yang masih terpejam sambil bergumam lirih.


"Sampai kapan kita bertiga harus berada di hubungan seperti ini?".