
Leon sedang membaca laporan di sebuah file hitam ketika pintu ruangannya diketuk. Begitu dia berseru mempersilahkan masuk , Anna , asistennya mucul dari balik pintu. Setelah Anna menyampaikan sesuatu , Leon beranjak berdiri sambil merapikan jas hitamnya.
Pintu ruangannya kembali terbuka. Dan kali ini muncul seorang wanita cantik , bertubuh tinggi dan mengenakan off-shoulder dress berwarna merah yang membentuk lekuk tubuhnya. Wanita itu berjalan dengan anggun menghampiri Leon.
Leon mengulurkan tangan kanannya yang disambut oleh wanita itu. Sambil mengaitkan tangannya di lengan Leon , wanita itu mulai melangkah keluar menuju ke sebuah ruangan, bersama dengan Leon.
Ruangan yang dituju ternyata adalah sebuah hall yang cukup luas. Wanita itu mendongak dan takjub melihat lampu-lampu kristal yang menjuntai indah di langit-langit.
Dia sedikit tegang saat melihat para tamu yang hadir disana. Karena sebagian besar yang hadir disana adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh besar di industri hiburan.
Seakan mengerti , Leon berbisik rendah di telinganya ,"Santai saja.”
Wanita itu mengangguk walau tangannya tetap saja terasa sedikit gemetar.
Bak berjalan di red carpet , mereka saling melemparkan senyum ketika para tamu menyadari kemunculan mereka berdua. Leon dan wanita itu berjalan hingga ke tengah hall. Begitu langkah Leon terhenti , lampu digelapkan dan hanya ada lampu sorot yang menyoroti mereka berdua.
Leon tersenyum simpul , mengedarkan pandangannya sejenak ke sekeliling ruangan sebelum mulai berbicara menggunakan sebuah microphone.
“Terimakasih untuk kalian semua yang mau datang ke acara peluncuran game terbaru kali ini.
Dan ijinkan saya selaku CEO dari SpyroGames , memperkenalkan secara resmi Brand Ambasaddor perusahaan kami yang terbaru.
Tolong beri tepuk tangan yang meriah untuk wanita tercantik kita malam ini , Nayra Teona!”
Nayra yang sejak tadi berdiri di samping Leon , tersenyum anggun ke arah para tamu. Dia tak lagi tegang karena para tamu disana menerimanya dengan baik. Mereka semua bahkan mulai ‘berebut’ ingin berkenalan secara langsung dengan Nayra.
**********
“Apa yang kamu lakukan disini?” suara Leon membuyarkan lamunan Nayra yang sedang terdiam berdiri di pojok ruangan.
Nayra tersentak. Dia memutar sedikit badannya dan mendapati Leon yang sedang berdiri disampingnya dan menatap lurus ke arah keramaian tamu yang sedang berdansa.
“Ah maaf Pak. Saya hanya sedang berpikir. " Nayra kembali memutar badannya dan juga ikut memandang lurus.
Mereka berdua sempat terdiam beberapa detik. Sebelum akhirnya Selena memulai pembicaraan terlebih dulu.
“Pak , boleh saya bertanya sesuatu?”
Leon menoleh , “silahkan.”
“Kenapa Anda tetap memilih saya untuk bekerjasama dengan perusahaan Anda , padahal saya baru saja melakukan sebuah skandal besar?”
Sebenarnya sejak mendapat tawaran kontrak, Nayra bertanya-tanya dalam hati. Kenapa perusahaan sebagus ini mau menjadikan dia sebagai brand ambasaddornya? Sementara masih banyak model dan aktris cantik yang jauh di atas Nayra. Apalagi Nayra juga baru terjerat skandal.
“Skandal? Huh...,” Leon mendengus. “Kenapa mencintai seseorang bisa disebut skandal?”
Jawaban Leon membuat Nayra tercengang. Dia menoleh menatap Leon , berpikir kalau pria itu sedang bercanda dengannya. Tapi pancaran mata Leon terlihat serius.
Baru kali ini ada orang yang membelanya , selain kak Jay tentunya. Apalagi ucapan tersebut terlontar dari mulut Leon yang kedudukannya menurut Nayra hampir sama dengan Gina.
Tidak hanya itu saja Leon bahkan juga menyemangatinya dan mendukung percintaannya. Walaupun di akhir nasihatnya , dia tetap menyarankan Nayra berhati-hati agar tidak merusak citranya sebagai publik figure.
Mendengar semua perkataan Leon , membuat mata Nayra menjadi sedikit berkabut. Dia memalingkan muka untuk menyeka ujung matanya dan kembali menoleh ke arah Leon. Sebuah senyuman terukir di wajah cantiknya. Beban di hatinya juga terasa menjadi sedikit berkurang.
“Terimakasih pak. Saya jadi merasa sedikit lega,” ujar Nayra tulus.
Leon tersenyum , “baguslah. Kalau kamu ada masalah , jangan pernah dipendam. Ceritakan kepada orang terdekatmu. Yang saya tahu...,” Leon menundukkan kepalanya sedikit sehingga mulutnya sejajar dengan telinga Nayra.
"Dunia hiburan itu cukup kejam. Kamu harus bermental baja.”
Nayra terkekeh melihat ekspresi Leon yang terlihat lucu saat mengucapkannya.
“Ngomong-ngomong Pak. Apa sekarang ini anda juga sedang merasakan cinta?” tanya Nayra tiba-tiba.
Seukir senyuman di wajah Leon sudah mampu menjawab pertanyaan Nayra.
“Pasti dia sangat cantik," puji Nayra.
“Ya..dia cantik. Sangat cantik...,” gumam Leon. Matanya menerawang ke depan seakan-akan wanita yang dicintainya tengah berdiri disana.
“Nah...Kalau begitu mari kita berjuang bersama Pak!” ujar Nayra sambil mengepalkan tangannya seakan memberi semangat.
“Iya! Ayo berjuang!” balas Leon sambil tertawa kecil. “Sekarang, apa perasaanmu sudah jauh lebih baik? Mau menemani saya mencoba beberapa hidangan disana?”
Nayra mengangguk cepat. Dia berjalan beriringan bersama Leon sambil mengobrol dengan tamu yang mereka temui. Hingga acara malam itu berakhir , senyuman tidak pernah memudar dari wajah Nayra.
Begitu acara usai , Nayra cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju van hitam miliknya. Seperti biasa , disana Jay sudah menunggu di dalam mobil.
“Kak , kita ke tempat Dimas ya!” seru Nayra begitu masuk ke mobil.
“Memangnya dia ada disana?” tanya Jay heran.
Nayra mengangkat bahu , “entah. Tapi tidak ada salahnya mencoba kan?”
“Yasudah, terserah kamu saja” balas Jay sambil mengarahkan mobil keluar dari parkiran. “Tapi kalau tidak ada , kita harus segera pulang. Sekarang ini Bu Gina sedang mengawasi kita”.
Nayra mengangguk , “iya Kak.”
Sepanjang perjalanan jantung Nayra berdebar-debar. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Dimas. Ingin memeluknya dan meminta maaf. Dan juga ingin mengatakan betapa ia sangat mencintainya.
Kalaupun ternyata Dimas tidak memaafkannya , Nayra sudah bertekad tidak akan pernah menyerah. Sesuai dengan ucapannya kepada Leon , dia akan berjuang untuk karier dan cintanya.