The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kemampuan Martin



Di sebuah ruangan sempit, seorang pria bertubuh kecil , berambut gimbal dan berkulit cokelat sedang duduk di depan laptopnya.


Dia terlihat angkuh sambil menengak minuman sodanya dan kemudian melempar kalengnya begitu saja.


Seringai jahatnya mengembang tiap kali notifikasi muncul di laptopnya.


“Hehehe…” Dia terkekeh geli. “Orang-orang bodoh! Sampai kiamat pun, kalian nggak akan bisa menembus pertahananku!” ejeknya.


Namun 30 menit kemudian, seringai itu berubah jadi kepanikan. Bulir-bulir keringat membasahi dahinya. Jari jemarinya bergerak kewalahan bergantian dari keyboard laptop dan komputernya.


“Si*lan…si*lan!!” Makinya berulang-ulang.


Beberapa menit kemudian, dia menendang kaki meja hingga laptopnya terjatuh. “Mati aku!! Aaarghh!!” Pria itu menjambak rambutnya frustasi.


Tak berselang lama, dia segera Menghapus data-data komputernya, membereskan laptopnya dan bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.


****


“Bagaimana? Ketemu?” tanya Dimas begitu menjawab panggilan telepon Dirga.


“Dia menghilang, Presdir. Tidak ada tanda-tanda apa pun disini.” Jawab Dirga menahan emosi.


Berkat Martin, mereka bisa menemukan alamat si pembuat artikel tersebut. Tapi sampai disana, rumah itu telah kosong.


Dirga dan anak buahnya sudah menyusuri area sekitar, tapi tak juga menemukannya. Beruntung, Martin mengenali sosok dibalik si pembuat artikel tersebut.


Namanya Jason. Dia dikenal di dunia hacking sebagai ‘Shadow Hacker’. Kemampuannya meretas dan membobol sistem pertahanan sangat mengerikan.


Dia hobi mencuri data-data perusahaan besar dan menjualnya secara illegal. Akibatnya dia harus mendekam di penjara selama beberapa tahun. Martin mengira, penjara akan membuatnya jera. Tapi ternyata, Jason malah berbuat ulah lagi.


“Cari dia sampai dapat. Bawa hidup-hidup.” Perintah Dimas sebelum menutup teleponnya.


“Dia pasti masih belum jauh.” Sahut Martin santai sambil menyesap tehnya.


Dimas menolehkan kepalanya, memandang Martin takjub. Siapa yang menyangka kalau di balik tampilannya yang cupu, ternyata menyimpan kemampuan meretas yang menakjubkan.


Dimas tak habis pikir, bagaimana bisa Martin menyia-nyiakan bakatnya seperti ini? Dimas jadi tertarik untuk merekrut Martin ke dalam perusahaannya.


“Jangan lihat saya seperti itu. Saya nggak akan pernah bergabung dengan perusahaan manapun.” Tolak Martin tiba-tiba.


Dimas tersipu malu menyadari niatnya ketahuan oleh Martin. Agaknya selain pintar, Martin ini memiliki jiwa penerawang. Dia bisa tahu jalan pikiran orang tanpa menatap matanya.


Dimas menghembuskan napas panjang. “Yah…mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Kalau pada akhirnya saya harus mundur dari perusahaan ini, tidak masalah. Yang terpenting, Selena tidak meninggalkan saya. Itu sudah cukup.” Tandasnya.


Martin mengamati Dimas lamat-lamat. Senyuman tipis terukir di bibirnya. “Selena beruntung memiliki suami yang mencintainya seperti Anda.”


Dimas tertawa getir. “Ya, tapi saya juga memberinya luka. Ironis bukan?”


Martin menghabiskan tehnya, lalu berpaling menatap Dimas. Raut wajahnya terlihat serius. “Sebelumnya, saya minta maaf. Tapi apa Anda mengenal Leon?”


“Leon? Maksudmu Leon dari perusahaan SPYROGAMES?”


Martin mengganguk. Alasannya bertanya, karena dia memiliki perasaan aneh tiap kali melihat Leon. Apalagi saat acara pertemuan club millionare itu, Martin menyadari kalau Leon selalu mengamati Selena.


Selain itu, Martin sempat melihat Leon menyelinap masuk ke tangga darurat dan tak berselang lama Nayra dan Dimas menyusul masuk.


“Jadi, Leon yang memotret foto buram itu? Br*ngsek!” Dimas menggertakan giginya.


Martin menggeleng. “Kita masih belum tahu. Itu hanya asumsi saya saja. Yang terpenting sekarang Anda harus segera menemukan Jason. Karena tak mungkin ia melakukan semua ini, jika tak ada yang menyuruhnya.” Tukas Martin kesal. “Gara-gara ulahnya, Gina jadi ikut kesusahan!”


Dimas berpikir sejenak. Kalau memang ini semua ulah Leon, apa tujuannya? Dia dan Leon memiliki pasar yang berbeda. Dimas property sementara Leon perusahaan game. Aneh rasanya kalau Leon mengganggap Dimas sebagai saingan bisnisnya.


Apa mungkin…karena Selena? Tapi masa iya, Leon sebegitunya berniat memporak-porandakan perusahaannya hanya karena masalah pribadi?


Kalau memang iya, berarti Dimas tak boleh mengganggap enteng Leon. Mana ada yang tahu kan, apa lagi yang bakalan pria itu lakukan? Sepertinya Dimas harus menambah ekstra pengawalan untuk Selena.


Tok..tok..tok..


Terdengar suara ketukan di pintu. Belum sempat Dimas mempersilahkan masuk, pintu itu sudah terbuka.


“Pak Presdir! Anda harus lihat ini!” Tiba-tiba Mira, menyeruak masuk dengan raut wajah memucat.


Dimas sebenarnya ingin memarahi salah satu anggota team sekretarisnya itu, tapi urung melihat Mira yang terlihat shock. Tangannya bahkan terlihat bergetar saat memencet remote TV.


Perhatian Dimas dan Martin kini terpaku sepenuhnya pada layar TV berukuran 32inc yang tertempel di pojok ruangan. Dimas memang sengaja memasang TV di ruangannya, sekedar untuk memantau perkembangan saham perusahaannya.


Dimas membolakan kedua matanya tak percaya. Di layar TV kini terpampang wajah Nayra sedang menunduk. Bulir bening menetes dari wajah cantiknya. Dia terisak, sambil sesekali mengusap ujung matanya.


Suaranya terdengar bergetar menjelaskan kronologi semua kejadian yang terjadi. Di ujung penjelasannya, dia berdiri. Membungkuk 90 derajat. Dan kemudian bergegas pergi diikuti kilatan lampu flash kamera dari puluhan reporter.