
Martin menatap cemas Gina yang terus memijit pelipisnya. Mereka baru saja selesai menonton pemutaran perdana ‘UNBREAKING’ – film debut Nayra.
“Kamu sakit Hon?” Martin menaruh telapak tangannya di jidat Gina. Mengerut bingung karena suhu tubuh kekasihnya ternyata baik-baik saja.
“Nggak.”
“Tapi dari tadi aku perhatikan kamu mijat kepalamu terus. Perlu aku ambilin obat sakit kepala? Kyaknya aku nyimpen obat-obatan kemarin.” Martin menggeledah laci mobilnya.
“Nggak usah. Percuma, sakit kepalaku nggak bakalan bisa diobatin,” keluh Gina.
Tangan Martin yang sudah bersiap mengulurkan sekaplet obat sakit kepala langsung terhenti. “Maksudnya gimana? Sakit kepala macam apa yang nggak bisa diobatin?”
“Nggak tahulah, Hon. Nyerah aja deh aku.” Gina kembali memijat pelipisnya.
Sekelebat pikiran buruk menghantam pemikiran Martin. Dia lantas melempar obat tersebut dan memeluk erat Gina. Air matanya seketika menetes.
“Jangan ngomong kayak gitu! Aku nggak suka!!” Martin mengeratkan pelukannya, “sejak kapan kamu tahu penyakitmu? Kenapa nggak pernah cerita sama aku?”
Belum sempat Gina membantah, Martin keburu mengurai pelukannya dan menangkup wajah Gina, “keluargaku punya kenalan dokter hebat. Dia praktek di rumah sakit yang ada di Kanada. Ayo, kita kesana. Kamu nggak usah mikir apa-apa, biar aku yang urus semuanya. Jangan khawatir, aku akan terus ada di samping kamu.”
“Stop! Stop!” Gina mengangkat tangannya. “Omongan kamu mulai ngaco. Siapa yang kamu pikir sakit?!” sembur Gina kesal.
“Terus tadi kamu bilang apa? ‘Ayo,kita kesana?’ Maksudmu, ke dokter kenalan keluargamu itu? Kamu berharap aku cepat mati ya?!”
Emosi Gina meletup. Kuku tajamnya menekan-nekan dada Martin. “Keterlaluan banget kamu!” umpatnya.
Martin kelimpungan, tangannya sibuk bergerak-gerak menyanggah rentetan kalimat Gina. “Bukan gitu maksudku, Hon. Aku pikir …..”
“Kamu pikir apa, hah?!” potong Gina kesal. “Kamu pikir aku penyakitan?! Itu maksudmu kan?! Bisa-bisanya mikir kayak gitu!!”
“Maafin aku, Hon…… Habisnya kamu bilang sakit kepalamu nggak bisa di sembuhin.”
“Kepalaku itu sakit mikirin Vino sama Nayra, tahu!” semprot Gina.
Martin menghela napas lega, “aku kira soal apa.”
Gina mendelik kesal mendengar ucapan Martin, “Kamu nggak ngerasain ada di posisi aku sih!”
Martin tidak menjawab. Dia malah menyalakan mesin mobil dan mendengarkan Gina berkeluh kesah sepanjang perjalanan pulang mereka.
“Menurutku nggak ada yang perlu kamu khawatirkan deh, Hon. Justru reputasi Nayra bakalan bagus kalau masyrakat tahu siapa pacarnya sekarang.” Martin baru mengeluarkan suaranya setelah Gina selesai berbicara. “Benar apa yang dibilang Selena.”
“Dari yang aku lihat, penggemar Nayra juga sering jodoh-jodohin dia sama lawan mainnya. Jadi, apa masalahnya?” tambah Martin heran.
Sebenarnya Gina juga membenarkan perkataan Selena. Alvino bukanlah pria sembarangan. Ia adalah cucu pendiri Lippen Group.
Lippen Group sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Mungkin saja citra Alvino sebagai generasi ketiga keluarga Lippen Group bisa menguntungkan reputasi Nayra juga.
“Tapi Hon, di kontrak Nayra , ada beberapa brand yang mengharuskannya menghindari skandal kencan. Biaya penaltinya lumayan besar.” Keluh Gina setelah teringat beberapa peraturan di kontrak Nayra.
“Lagian enggak semua fans setuju idolanya berkencan. Kamu pernah dengar, fans berubah jadi antis gara-gara skandal kencan idolanya? Biasanya fans seperti itu yang justru nyeremin. Karena sakit hati, mereka jadi tega buat memfitnah idolanya sendiri,” tambahnya.
Martin terdiam. Memang benar apa yang diucapkan Gina, sudah banyak kasus postingan anonim di internet yang ternyata setelah di telusuri merupakan berita hoax.
Gara-gara satu postingan hoax tersebut, karier yang sudah dibangun bertahun-bertahun, hancur dalam sekejap. Banyak artis/idola yang sudah mengalaminya. Dan sebagian besar dari mereka harus berjuang lagi menata kariernya dari bawah.
Martin meratap cemas membayangkan jika Nayra mengalami hal yang sama. Dia jadi ikut merasakan kegundahan Gina yang notabene merupakan CEO DPS Entertainment. Tapi di sisi lain, Martin tidak suka mendapati kekasihnya ikut stress mengurusi masalah percintaan orang lain.
“Nanti aku omongin Alvino supaya lebih berhati-hati. Kamu jangan terlalu khawatir. Aku yakin mereka berdua pasti sudah antisipasi duluan.” Martin mengelus rambut Gina dengan pandangan mengarah lurus ke jalanan.“Sekarang kita cari makan aja, yuk.”
Gina hanya mengangguk,“aku mau makan sushi,” ucapnya sambil memejamkan mata.
“Siap. Kalau gitu kita ke arah Kemang aja ya?”
“Terserah kamu. Aku ikut aja, Hon. Lagi males mikir.”
Martin terkekeh geli sambil memilin tangan kanan Gina dan mengecupnya lama. “Love you, Hon.”
“Heem..” Gina hanya menyahut pendek tanpa berniat membuka matanya.
.
.
Kegalauan Gina terlupakan sejenak berkat sushi-sushi cantik yang tersaji di depan matanya. Bibirnya yang sejak tadi tertekuk, langsung melengkung lebar.
Mulutnya mengunyah penuh, tak dibiarkan kosong barang sedetik pun. Dia bahkan menandaskan 3 porsi sushi sendirian.
Martin tersenyum senang, tidak sia-sia dia berjibaku dengan kemacetan kota Jakarta. Sambil mengaduk kuah ramen, dia mengerling saat menyadari Gina tengah memandanginya… ah ralat, lebih tepatnya kekasihnya kini menatap intens mangkuk ramen miliknya.
“Kamu mau?” tawar Martin yang langsung diangguki Gina. “Yaudah, kamu makan deh.” Martin mendekatkan mangkuk ramennya ke depan Gina.
Senyum Gina mengembang, tanpa menunggu lama, mulutnya kembali sibuk bekerja. Martin menopangkan wajahnya, menatap heran kekasihnya. Belum pernah dia melihat Gina makan selahap ini. Lagi-lagi pikiran aneh memenuhi fantasinya.
Hamil?
Jawaban klise semua orang tiap kali melihat seseorang mendadak merubah ***** makannya. Martin langsung menggeleng-gelengkan cepat kepalanya. Meraka selalu memakai pengaman setiap kali melakukannya.
Tapi tunggu… sepertinya dia pernah melakukannya tanpa itu. Martin langsung meluruskan punggungnya. Berusaha mengingat-ingat kejadiannya. Seketika itu juga dia teringat, kalau mereka pernah melakukannya tanpa pengaman sekitar sebulan yang lalu.
Martin segera menepis pemikiran ngawurnya.
“Kamu kenapa, Hon?” akhirnya Gina mengeluarkan suaranya juga setelah ‘bertarung’ dengan makanan cukup lama.
“Kok wajahmu tegang?”
“Udah makannya?” Martin mengalihkan pembicaraan, matanya melirik mangkuk ramen yang kosong. “Mau tambah sesuatu lagi?”
Gina menggeleng lalu menyeruput ocha dinginnya, “enggak. Aku kenyang. Tapi kamu malah nggak jadi makan, Hon. Maaf ya,” Cicitnya pelan.
“Enggak apa-apa. Aku jadi ikut kenyang liatin kamu makan. Kita pulang sekarang?”
“Oke.”
.
.
“Hon, ada es krim turki!” tiba-tiba Gina menunjuk kedai kecil di kiri jalan. “Aku mau kesana. Bisa puter balik nggak?”
“Bentar, Hon. Aku lihat dulu.” Martin melirik spion. Jalanan Kemang yang tak terlalu luas di tambah banyaknya kendaraan yang melintas, membuatnya kesulitan memutar mobil, “kayaknya susah, Hon. Palingan kalau mau, kita keluar dulu.”
“Yah…” Gina mendesah muram. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.
“Kamu kepengen banget ya?”
Gina mengangguk lesu.
Martin terdiam memikirkan solusinya. Matanya kemudian melihat sebuah distro di kiri jalan. “Kita numpang parkir disana aja terus jalan kaki ke tempat es krimnya, gimana?”
Gina langsung menggangguk cepat sambil tersenyum lebar, “boleh.”
Karena di depan distro, sudah tergantung tulisan ‘Parkiran hanya untuk pengunjung distro’. Martin dan Gina pun terpaksa masuk ke dalamnya terlebih dulu dan membeli 2 buah kaus couple berwarna hitam. Lalu setelah itu, mereka berjalan menuju kedai es krim turki.
“Enak Hon?” Martin melirik Gina yang sibuk menjilat es krimnya.
Gina hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Melihat Gina yang tiba-tiba meminta es krim, semakin menguatkan kecurigaan Martin. Pria itu menyetir sambil terdiam. Memikirkan bagaimana baiknya memulai topik pembicaraan tersebut.
“Hon..” akhirnya setelah cukup lama berpikir, Martin mulai membuka suaranya. Terlebih Gina juga sudah selesai memakan habis es krimnya.
“Ya, kenapa Hon?”
“Ada yang kamu rasa berbeda nggak di badan kamu akhir-akhir ini?” tanya Martin lugas.
Alis Gina mengerut bingung, “maksudnya?”
“Misalnya … kayak.. mual atau pegal? Atau mungkin tiba-tiba kamu kepengen makan sesuatu yang sebelumnya nggak pernah kamu makan.”
Gina memiringkan sedikit kepalanya. Mulai menggali ingatannya. “Kemarin sempet sih mual-mual,” ungkapnya jujur. “Tapi kayaknya cuman masuk angin deh.”
CKITTT….
Martin sontak menepikan mobilnya ke pinggir. Gina yang hampir terbentur dashboard serta merta langsung mengomel.
Martin buru-buru meminta maaf dan mengutarakan kecurigaannya. Gina langsung panik, dia baru tersadar kalau bulan ini dia belum mendapatkan menstruasinya.
Mereka berdua segera mencari apotik dan memborong beberapa alat tes kehamilan sekaligus. Sesampainya di apartemen, Gina langsung menuju kamar mandi sementara Martin menunggu dengan perasaan berdebar di luar pintu.
“Gimana?” Martin bertanya begitu Gina keluar dari kamar mandi.
“Negative Hon,” Gina nyengir seraya menunjukkan hasil tesnya. Martin mengambilnya dan melihat 1 garis di alat tersebut.
Berbanding terbalik dengan Gina yang tersenyum lega, Martin justru merasa sedih. Entah kenapa, ia ingin sekali melihat 2 garis di alat tersebut.
.
.
“Hon…” Martin mengelus rambut Gina yang tengah menyandarkan kepala di dadanya sambil duduk bersantai di sofa.
“Heem…”
“Hon…” panggil Martin lagi saat melihat Gina tak juga melepaskan pandangannya dari layar TV.
Merasa aneh dengan intonasi Martin, Gina pun menegakkan punggungnya dan mendapati ekspresi serius di pria yang telah menjadi pacarnya selama hampir 6 tahun tersebut.
“Kamu kenapa Hon?”
Martin tidak menjawab. Dia malah bangkit dari duduknya dan pergi keluar begitu saja.
Beberapa menit kemudian, dia kembali lagi ke apartement dengan sesuatu di tangannya.
"Hon!!!"
Gina yang sempat kesal karena diacuhkan Martin , seketika memekik kaget lantaran Martin tiba-tiba saja berlutut dengan satu kaki kaki sambil mengulurkan sebuah cincin berlian putih kepadanya.
“Will you marry me, Gina Evania Angelic Hartono?”