
“Pokoknya sekali nggak tetap nggak!!” Tegas Dimas.
“Memangnya kamu punya cara lain?” Selena bersidekap sambil menatap tajam Dimas yang terdiam. “Nggak ada ‘kan?!” Timpalnya.
“Saat ini memang belum ada. Tapi pasti ada.” Pungkas Dimas. “Udahlah jangan bahas ini dulu. Aku lagi nyetir.”
Selena mendengus kesal sambil membuang muka. Tangannya masih tersilang di dadanya. Dia sama sekali tak menoleh ke arah Dimas. Pandangannya diarahkan ke sebelah kiri, menatap kemacetan kota Jakarta dari jendela penumpang.
Dimas menghembuskan napas gusar. Tangan kirinya mengelus puncak kepala Selena sementara matanya menatap lurus jalanan. “Aku nggak rela dia sentuh kamu walau hanya sehelai rambutmu. Kamu cuman milik aku, Sugar.”
Selena hanya terdiam memejamkan matanya. Dia sendiri sebenarnya juga keberatan mengiyakan permintaan Aleron. Tapi ia merasa, hanya ini cara tercepat untuk bisa mendapatkan bukti keterlibatan Leon.
Tadi siang, Kakeknya Leon itu tiba-tiba mengajaknya bertemu. Karena Dimas akan ikut menemaninya, Selena bersedia menemuinya.
Tanpa diduga, Aleron ternyata muncul sambil berlinangan air mata. Dia memohon agar Selena mau menemui cucunya. Ternyata penyakit mental Leon kembali kambuh. Halusinasinya semakin parah. Dia bersikap seolah-olah Selena ada disana.
Dimas dan Selena hanya bisa bengong mendengar penuturan Aleron. Leon selalu bercakap-cakap sendirian, dia juga terkadang terlihat sedang memeluk seseorang.
Para pelayan juga dibuat ketakutan lantaran Leon bisa tiba-tiba berubah histeris kesetanan. Dia menghancurkan benda apapun yang ada di mansion. Tapi kemudian dia bisa berubah normal kmbali. Menjalankan perusahaannya seperti biasa.
****
“Sugar, boleh aku masuk?” tanya Dimas dari luar pintu kamar Selena.
“Masuk aja, Bi.” Sahut Selena tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Kamu lagi ngapain?” tanya Dimas sambil mendudukkan tubuhnya menghadap Selena yang tengah duduk selonjor di atas kasur.
“Main game.” Jawab Selena singkat.
Dimas mendesah pelan. “Kamu masih marah?”
“Nggak.”
“Bohong.” Timpal Dimas sambil mendekat ke arah Selena, menyelipkan anak rambut Selena di belakang telinganya. “Kalau nggak, liat sini dong.”
Selena menghela napas panjang. Menghentikan sejenak gamenya. “Kenapa?”
“Kamu tahu ‘kan alasan aku nggak ijinin rencana konyol ini?”
“Heem.”
“Terus kenapa masih marah? Apa jangan-jangan……….,” Dimas menatap cemas Selena, “kamu udah ada rasa sama Leon?”
Mata Selena membola, memukul pelan dada Dimas. “Amit-amit.”
Selena mendumel sambil bergidik, mengelus-elus lengannya sendiri. Dimas tersenyum senang melihat reaksi Selena. Refleks, Dimas merengkuh Selena ke dalam dekapannya.
“I miss you so bad,” bisik Dimas di telinga Selena.
Selena terkikik geli sambil melepaskan pelukannya. “Miss you,too.” Balasnya malu-malu.
Cup.
Tanpa ragu-ragu, Dimas mencium bibir tipis Selena. Wanita itu mengerjap tapi kemudian ikut menikmati ritme permainan Dimas. Hawa panas menyergap kamar bernuansa biru muda itu.
Selena merasa gerah padahal AC nya sudah mencapai batas maksimal. Selena mengeliat, tindakannya itu menarik perhatian Dimas.
“Kenapa?” tanya Dimas saat mereka berhenti, menarik oksigen sejenak.
“Gerah.” Jawab Selena.
Dia bangkit dari duduknya, berjalan mencari remote AC. Mengetuk-ketukkan remote di telapak tangannya untuk memastikan benda putih itu masih berfungsi dengan baik.
“Kalau kayak gitu justru bikin rusak beneran, Sugar.” Dimas menggeleng-gelengkan kepala, mengambil remote AC itu dari tangan Selena. Mengarahkannya tepat di depan AC. “Baik-baik aja kok ini.”
“Sekarang masih gerah?”
Selena menggeleng. “Nggak. Aneh ‘kan?”
Dimas terdiam sejenak. Matanya
memperhatikan Selena yang kembali duduk selonjor di kasur. “Kayaknya aku tahu, kenapa tadi kamu kegerahan.” Sahutnya nyengir.
Belum sempat Selena bertanya, Dimas sudah kembali menciumnya. “Kamu gerah karena lagi on fire.” Ledek Dimas di sela-sela ciumannya.
“On fire? Maksudnya?” Alis Selena bertautan bingung. Tapi kemudian dia mengerti maksud perkataan suaminya.
“Apaan sih,” Selena mendorong tubuh Dimas menjauh. Dia salah tingkah menyadari kebenarannya.
“Bener ‘kan?” Bisik Dimas lembut di telinga Selena.
Selena membuang muka – malu. Dia tak bisa menampik. Ciuman itu memang membuat tubuhnya kepanasan dalam arti yang lain.
Dia memang belum pernah melakukan hal seperti itu, tapi dia paham jika saat ini hasratnya minta disalurkan. Tapi…masih ada ketakutan Selena. Takut kalau pria di hadapannya akan meninggalkannya jika sudah mengambil ‘harta berharganya’.
“Kalau kamu belum siap, kita bisa lakukan lain kali.” Dimas mengusap puncak kepala Selena. Dia sadar kalau saat ini Selena masih enggan disentuhnya. “Jangan jadi beban pikiran. Aku nikah sama kamu bukan semata urusan ranjang. Lagian kita bakal berumah tangga selamanya. Aku bakal tunggu kamu sampai kamu siap. Sekarang kamu tidur gih. Besok mulai kerja lagi ‘kan?”
Selena termangu mendengar penuturan suaminya. Apa sih yang ada di otaknya? Dia bukan lagi wanita single biasa, melainkan seorang istri.
Sudah berbulan-bulan mereka menikah dan dia masih kekeuh mempertahankan kesuciannya? Selena memang bukan umat beragama yang taat, tapi dia tahu kalau yang ia lakukan adalah dosa.
“Bi…” Selena menahan tangan Dimas pelan.
“Ya, Sugar?” Dimas kembali duduk di hadapan Selena. Pria itu tampak bingung karena Selena memanggilnya sambil menundukkan pandangannya.
“Emm…itu...” Selena mengigit bibir bawahnya. Rasa malu membuatnya kebingungan berbicara.
Akhirnya setelah terdiam beberapa detik, Selena mengangkat kepalanya. Menatap lembut netra hitam Dimas. “Aku siap.”
Butuh waktu beberapa menit bagi Dimas untuk mencerna perkataan Selena. Sampai akhirnya pria itu tersenyum lebar. “Beneran? Kamu nggak kepaksa?”
Selena menggeleng. “Tapi….,” Selena merendahkan suaranya, hampir berbisik. “Pelan-pelan ya. Aku dengar katanya yang pertama itu sakit.”
“Aku akan pelan-pelan.” Ucap Dimas sambil mencium lembut bibir Selena. Menjatuhkan perlahan tubuh Selena ke kasur. “I love you, Sugar.”
“Love you, too.” Selena mendesah sambil memejamkan matanya. Jantungnya berdegup kencang saat tangan Dimas bergerak menyusuri tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, dia meringis. Rasa perih membuatnya terisak. Tapi setelah itu, dia merasakan sensasi yang lain.
Dimas menepati perkataannya, pria itu melakukannya secara pelan. Tapi sekarang justru Selena yang ingin menuntut lebih.
“Lakukan semaumu, Bi. Aku siap.” Ucap Selena lirih. Seakan mengerti maksud Selena, Dimas melakukan sesuai keinginannya. Pria itu kini bergerak cepat di atas tubuh Selena.
Peluh dan desahan membanjiri kamar Selena malam itu. Penyatuan tubuh keduanya berlangsung beberapa kali sampai keduanya kelelahan.
“Makasih, Sugar.” Bisik Dimas sambil memeluk Selena yang sudah terpejam di sampingnya.
Dimas merengkuh tubuh polos Selena ke dalam dekapannya. Lalu menutupi tubuh keduanya dengan selimut. Tak lama kemudian, Dimas ikut menyusul Selena ke alam mimpi.
Hallo Kakak-kakak author, masih kuat puasanya? Hehehe... Masih lah yaa. Gak kerasa sebentar lagi lebaran. Mau curi start duluan ah...
Minal Aidzin wal Faidzin buat yang merayakan 😇
Oh iya sebenarnya aku sudah update dari beberapa hari lalu, tapi entah kenapa, lama sekalii di review. Sampe akhirnya aku bongkar lagi karena ditolak 😂 ternyata terlalu 'hot'. Jadilah aku persingkat 😁😁
Pokoke terimakasih buat author-author yang sudah mampir dengan like dan komennya. Votenya juga boleh loh. Pasti saya tampung dengan riang gembira. Hahahaha...