Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 99



Kali ini Zein sudah berani menjemput Luna kerumahnya saat mereka akan jalan berdua. Sebelumnya mereka selalu bertemu ditempat. Luna tak mau dijemput karena takut orang tuanya akan berfikir macam-macam. Dan Zein pun mengerti dan tidak pernah memaksa. Bagaimanapun juga kisah masa lalu mereka mungkin masih meninggalkan trauma bagi keluarga Luna. Tapi kini status Zein sudah semakin jelas sebagai calon suami Luna. Hanya selangkah lagi menuju jenjang pernikahan. Ayah dan Ibu Luna sudah kembali menyambutnya ramah sebagai calon menantu. Pergi berdua beberapa kali pasti bukan masalah lagi. Apalagi merela memang perlu mengurus segala keperluan bersama-sama.


Seperti biasa mereka masih saja saling malu-malu. Perpisahan yang amat lama membuat mereka seperti orang baru, yang baru bertemu lalu saling jatuh cinta. Semua terasa indah tapi masih sungkan dan malu.


"Kamu cantik sekali waktu lamaran kemarin..."


Kata Zein memecah keheningan. Entah mengapa Zein ingin saja mengungkapkan kekagumannya pada calon istrinya.


"Apa sekarang aku tidak cantik lagi?"


"Kau selalu cantik, tapi kemarin riasanmu sangat cocok, mungkin semacam aura pengantin. Aku jadi tidak sabar melihatmu di pelaminan nanti..."


Beberapa saat Luna diam karena tidak ingin menanggapi pujian itu. Luna terlalu malu dan ingin menutupi kegugupannya.


"Soal pertengkaran kita tempo hari, apa kau menginginkanku berhenti bekerja di dunia hiburan?"


Luna akhirnya mendapat bahan untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, maaf...aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu. Asal kau bisa menjaga kesehatan dan keselamatanmu. Mungkin nanti aku ingin menemanimu atau setidaknya menjemputmu kalau kau ada acara hingga larut malam..."


"Hmm, terserah kau saja...aku hanya ingin kau mengerti, tidak mudah bagiku untuk melepaskan karir yang ku rintis dengan susah payah..."


"WO saja dulu, kita belum mempersiapkan apapun padahal orang tuaku ingin kita menikah paling tidak tiga bulan lagi..."


"Haha, baiklah, menikah besok pun aku siap. Rasanya sudah tidak sabar!"


Zein terkekeh dan semakin bersemangat mengemudikan mobilnya menyusuri padatnya lalu lintas kota di pagi hari yang cerah ini. Disampingnya sekarang, tengah duduk sang pujaan hati dan tidak lama lagi mereka segera menikah. Zein benar-benar merasa jadi lelaki paling beruntung.


Zein sebenarnya sudah siap, jika mereka harus mengadakan pesta megah seperti para artis seprofesi Luna dan diliput wartawan. Tapi ternyata Luna malah berfikir sebaliknya. Luna ingin acara yang khusuk dan private hanya untuk keluarga dan orang terdekat saja. Setelah akad dan resepsi selesai barulah Luna akan mengumumkan pernikahan mereka pada para wartawan.


"Begitu juga bagus, lakukanlah yang kamu inginkan...."


Mereka akhirnya sepakat menggelar acara pernikahan di sebuah villa di puncak. Tidak terlalu jauh dari jakarta tapi cukup sejuk dan indah. Luna ingin acara akad nikah yang khusyuk dan khidmad di masjid dengan dihadiri keluarga dan sahabat dekat. Lalu dilanjutkan dengan resepsi bertema garden party yang private tapi romantis.


WO yang mereka kunjungi adalah WO terbaik di Ibu kota yang biasa dipakai oleh para artis dan pejabat. Tidak sulit bagi mereka untuk mengimplementasikan keinginan Luna yang cukup sederhana. Tapi kemudian Zein menambahkan pesan.


"Acara yang kami adakan memang hanya mengundang sedikit tamu, tapi kami ingin semuanya terkesan eksklusif dengan layanan nomor satu!"


Pihak WO pun menggaris bawahi pesan Zein dan berjanji tidak akan membuat mereka kecewa. Berbeda dengan kebanyakan pengantin wanita yang cerewet dan sangat detail, Luna justru memilih mempercayakan semuanya pada pihak WO karena dirinya tak ingin pusing. Pernikahan ini cukup mendadak dan masih banyak job yang harus diselesaikannya. Luna ingin menggunakan waktunya seefisien mungkin.


Akhirnya Luna dan Zein bisa pergi dengan hati tenang. Selanjutnya, waktunya berburu rumah idaman.