Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 106



Setelah hampir enam bulan menunggu, akhirnya rumah impian mereka siap ditempati. Rumah dengan design unik yang modern juga minimalis, punya taman dan kolam air mancur di bagian tengah, rooftop yang cozy, juga halaman belakang yang luas ditanami pohon buah-buahan. Benar-benar impian yang menjadi kenyataan. Baik Zein, Luna, maupun Pamela sangat puas dan terkesan dengam rumah yang akan mereka tinggali itu. Tentang furnitur dan design interior, Zein menyerahkan sepenuhnya pada Luna, karena perempuan itu adalah ratu yang berkuasa sepenuhnya di dalam rumahnya. Dan Pamela cukup merasa puas diizinkan untuk memilih design dan perabot untuk kamarnya sendiri. Luna sendiri tidak suka design yang terlalu girly, Luna lebih suka design minimalis dengan dominasi warna hitam, abu-abu, dan putih untuk mengisi rumahnya. Dan Zein pun sangat suka dengan pilihan Luna. Terlihat simple, sekaligus elegan. Selera Luna memang sangat berkelas.


Enam bulan tinggal bersama keluarga Luna, Zein merasakan kehangatan keluarga yang telah lama dirindukannya. Nenek Zubaedah selalu memperhatikan makanan dan kesehatannya. Sedangkan Kakek Husein sering mengajaknya mengobrol di malam hari sambil menemaninya minum kopi. Tapi bagaimanapun juga, Zein harus memulai hidup barunya bersama keluarga kecilnya. Keluarga kecil yang telah lama ia impikan dan sekarang mimpinya telah menjadi kenyataan.


Maka pagi itu mereka sedang bersiap-siap untuk pindahan. Tidak banyak sebenarnya yang mereka bawa dari rumah itu. Hanya pakaian dan barang-barang pribadi saja. Sebab untuk semua furnitur dan peralatan rumah tangga semua sudah di beli baru. Sedangkan barang-barang yang lama tetap mereka tinggalkan, sebab pasti nantinya mereka akan sering berkunjung kemari bukan?


Pagi-pagi sekali hidangan lengkap sudah tersaji di meja. Masakan rumahan yang masih hangat, dimasak oleh para ART yang telah bekerja lama di rumah Luna. Ada nasi, opor, sup, rendang, sate, ayam goreng, lalap, dan sambal. Menu yang terlampau lengkap sampai bingung untuk memilihnya. Tapi kali ini mereka tidak akan makan di meja itu, melainkan di karpet yang sudah di gelar di ruang tamu. Sebab kali ini semua penghuni rumah akan ikut menikmati jamuan, termasuk para ART dan semua pekerja, jadi meja makan itu tak akan cukup.


"Apa ini tidak berlebihan Bu? Lagi pula kami tidak pindah jauh, pasti nanti masih sering mampir..."


"Tidak apa-apa, cuma syukuran kecil-kecilan dengan orang serumah ini...sekali-sekali, Ibu doakan semoga rumah tangga kalian langgeng, sakinah, mawaddah, warahmah, sampai maut memisahkan. Pamela bagi Ibu sudah seperti anak sendiri, tapi pasti Pamela akan lebih bahagia kalau bersama kalian orang tuanya..."


Acara hari itu diisi dengan syukuran dan pengajian dengan mengundang ustadz yang sering mengisi pengajian di masjid komplek. Selain itu keluarga Luna juga sudah menyiapkan banyak bingkisan untuk para tetangga, anak yatim, juga tetangga dekat di rumah baru Luna dan Zein nanti.


Setelah acara pengajian selesai, Luna, Zein, dan Pamela berpamitan pada Kakek dan Nenek, juga seluruh penghuni dirumah. Suasana haru pun langsung menyeruak kala mereka berpamitan dan saling memeluk.


Zein, Luna, dam Pamela berangkat dalam satu mobil. Sementara di belakang mereka sebuah mobil box mengikuti dengan membawa barang-barang mereka.


Hari yang cukup panjang dan melelahkan. Setelah sampai di rumah baru, bersama-sama mereka menata barang-barang. Belum terlalu rapi, hanya sekedarnya saja, sebab mereka bertiga sama-sama sudah terlalu lelah. Dan akhirnya ketiganya tertidur bersama di atas permadani tebal yang ada di ruang tengah.