Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 81



Menikah. Kenapa semua orang menyuruhnya menikah. Apakah dirinya terlihat semenyedihkan itu hanya karena belum menikah di usianya yang terlalu matang ini? Padahal selama ini Zein merasa hidupnya baik-baik saja meski tanpa kekasih. Dan kini hidupnya semakin baik setelah bertemu dengan Pamela. Tapi kenapa anak ingusan itu justru ikut-ikutan menyuruhnya menikah juga?


Tapi kemudian, Zein teringat percakapannya dengan mendiang Ayahnya di saat-saat terakhir sebelum beliah jatuh sakit dan kemudian wafat.


"Menikahlah Zein, apalagi yang mau kamu cari? Usiamu sudah sangat matang. Pekerjaan, harta, dan kesenangan dunia tidak berarti apa-apa tanpa kehadiran keluarga...."


"Kan aku masih punya Ayah, kita tetap bisa menghabiskan waktu bersama walaupun hanya berdua...."


"Huh, omong kosong! Siapa yang suka hidup berdua saja denganmu begini! Dasar anak tidak berguna. Aku menghabiskan masa mudaku dengan bekerja keras membesarkan perusahanan, bercucuran darah dan air mata! Lalu sekarang anakku satu-satu malah bersikeras hidup melajang. Lalu siapa nanti yang akan mewarisi perusahaan ini?"


" Yah, Ayah ingat dulu aku pernah punya anak dengan kekasihku? Maksudku mantan kekasihku waktu itu?"


"Tentu saja, gosipnya menyabar kemana-mana tapi kau tak mau mengakuinya!"


"Bukan aku tidak mengakui, keadaan yang tidak memungkinkan waktu itu Yah..."


"Aku tahu, maafkanlah Ibumu untuk hal itu. Dia sudah menyesal dan semoga sekarang dia tenang di alam sana. Mungkin tidak lama lagi aku akan menyusulnya..."


"Jangan bicara begitu Yah. Ayah pasti akan panjang umur..."


"Zein kau harus bisa membawa anak itu kemari...bujuklah Ibunya...aku ingin bertemu dengannya..."


"Ya Ayah, aku juga ingin menemuinya. Aku akan mencarinya lagi kalau waktuku senggang nanti..."


"Ya Ayah aku tahu itu..."


"Maka menikahlah, hidup akan lebih bermakna kalau kita punya keluarga untuk berbagi suka dan duka..."


"Aku...hanya merasa belum bertemu orang yang tepat yah..."


"Kau sudah dewasa, aku tidak bisa memaksamu, ku doakan semoga kau segera bertemu belahan jiwamu..."


"Terimakasih banyak Ayah..."


Itu adalah percakapan panjang mereka yang teakhir sebelum Ayahnya jatuh sakit dan kemudian wafat. Tersirat penyesalan bahwa Zein belum sempat mengabulkan keinginan Ayahnya untuk bertemu Pamela.


Tapi hidup harus tetap berjalan. Zein mulai memikirkan pesan Ayahnya untuk mencari pendamping hidup. Dan karena hal itu jugalah dia menyetujui usul gila Hartono untuk mencari sugar baby hingga akhirnya dirinya bisa bertemu dengan Pamela dan kemudian cepat atau lambat dia kembali berhadapan dengan Luna dan keluarganya.


Zein tidak menyangka kalau dia harus bertemu Luna lebih cepat dari perkiraannya. Berhadapan dengan Luna lagi setelah sekian lama membuat pikirannya campur aduk. Perempuan itu masih cantik. Bahkan sangat cantik di usianya yang terbilang tak muda lagi. Pastilah berkat perawatan kecantikan kelas satu yang selalu dipakainnya demi menunjang karir keartisannya. Dalam hati Zein turut mengagumi kesuksesan Luna yang bisa bertahan bahkan semakin bersinar meski pernah terjerat gosip miring kala itu. Luna adalah potret wanita tangguh dan pejuang untuk keluarganya. Zein sangat lega bahwa Pamela memiliki kehidupan yang sangat baik, meski selama ini tumbuh tanpa tanggung jawabnya baik secara moril dan materil. Namun bergelimang dengan materi tak lantas menjadikan hidup sempurna. Zein tahu pasti bahwa kenekatan Pamela untuk mencari sugar daddy didorong perasaan kesepian dan mungkin pelampiasan akan kemarahannya yang terpendam. Zein sempat menimpakan kesalahan itu pada Luna, yang dipikirannya kala itu tak becus menjadi Ibu. Tapi melihat wajah cantik Luna, Zein tahu tersirat rasa lelah dan beban yang begitu berat. Dan perasaan bersalah kembali menghantamnya. Dirinyalah yang lebih bersalah karena telah menimpakan beban berat pada Luna seorang diri selama ini. Namun Zein tahu jarak diantara mereka sangatlah lebar sekarang. Kisah yang dulu tak selesai harus direlakannya. Dia cukup tahu diri untuk menjaga, urusan diantara mereka hanyalah tentang Pamela sekarang.


Namun perasaan simpatik kembali hadir saat melihat Luna dilecehkan seorang pejabat di sebuah hotel di Surabaya kala itu. Meski Luna bersikap santai dan tak terlalu ambil pusing karena hal semacam itu memang kerap terjadi katanya. Tidak, Luna tidak boleh hanya terbiasa dengan hal itu. Luna membutuhkan seorang sosok pelindung. Meski sosok itu pasti bukanlah dirinya. Zein hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kehidupan mantan kekasihnya itu. Sungguh Zein ingin Luna hidup bahagia meski tanpa dirinya.


Dan kemudian Zein kembali terkejut saat kemarin Pamela menyampaikan tentang keinginannya yang mustahil : memiliki keluarga yang utuh. Apakah masih mungkin?