
"Nes, serius ini udah nggak bisa dibatalin?"
"Kan lo tau sendiri kita udah tanda tangan kontrak, lagian kenapa lo tiba-tiba berubah pikiran begini? Kan kemaren-kemaren lo sendiri yang ngotot!"
"Lagian mana gue tahu bakal begini jadinya.."
"Begini gimana? Jangan bilang sekarang lo tiba-tiba udah punya gebetan?"
"Yah, something like this lah, gue cuma takut bakal ngecewain seseorang..."
"Bisa diperjelas yang lo maksud seseorang itu siapa?"
"Ceritanya panjang Nes, besok-besok pasti bakal gue ceritain, sekarang yang penting gimana caranya kita bisa lepas dari mucikari itu?"
"Nggak bisa Mel, kita kan udah terlanjur tanda tangan kontrak, lagian ini kan bisnis ilegal, bisa bahaya kalau kita macam-macam..."
"Meskipun gue bisa bayar?"
"Kalau di kontraknya sih tetap nggak bisa, lagian setau gue jaringan yang di kelola Bu Meisya udah lumayan besar dan pelanggannya semua kalangan elite, jadi pasti ada bekingan aparatnya, kecuali..."
Kalimat Vanessa terhenti mengambang, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Kecuali apa Nes?"
Pamela bertanya tidak sabar.
"Kecuali pihak calon sugar daddy yang kurang berkenan dan membatalkan, jadi.."
"Jadi gimana Nes? Gue harus gimana?"
"Jadi satu-satunya cara yang bisa lo lakuin adalah dandan sejelek dan seculun mungkin dan bertingkahlah senyebelin dan seabsurd mungkin, biar calon sugar daddy lo ilfill sendiri..."
"Bisa di coba sih, tapi gimana kalau om-om nya nanti tetep suka sama gue? secara gue kan udah cantik alami dari lahir?"
"Yaelah Mel, udah begini masih narsis aja lo!"
"Hehe, jadi kapan neh kita bakal nemuin calon-calon daddy gula-gula itu? Biar gue siapin penampilan sejelek-jeleknya.."
"Sabtu ini kita harus temuin mereka di Hotel Adipura..."
"Hah, langsung ke hotel Nes?"
"Idih udah nggak sabar ya mau adegan mes um? Di restonya Mel, bukan di kamar, tapi kalau habis itu mau langsung lanjut kamar ya terserah lo sama sugar daddy lo sih!"
"Oh, kirain..hehe"
"Ayolah cuz, bareng gue aja, sopir gue udah nungguin tuh.."
Untuk sementara waktu Pamela memilih untuk rileks, menenangkan hati dan pikiran, sebelum hari yang menakutkan itu benar-benar tiba. Satu kesalahan konyol yang mungkin akan disesalinya seumur hidup. Apakah dia benar bisa meloloskan diri? Entahlah.
Pamela memilih menepis jauh-jauh kemungkinan buruk itu dari benaknya. Sekarang waktunya bersenang-senang. Pamela pergi makan direstoran jepang favoritnya, memesan sushi dan ramen, lalu menghabiskannya sendiri. Lalu Pamela juga pergi ke salon, mengambil paket spa lengkap. Sejenak pening di kepalanya mulai berkurang, dihayatinya pijatan lembut sang terapis yang terasa nyaman di punggungnya. Ah, setelah ini mungkin dia akan melewati hari-hari yang berat.
Tanpa terasa hari telah berganti. Nanti malam adalah waktu yang dijanjikan untuk pertemuan pertama mereka.
Mel, are you ready?
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Vanessa. Pamela lalu mengetikkan balasan
Yups, bentar gue pamit nenek dulu, terus cuz ke rumah lo!
Pamela sudah berdandan spesial hari ini, dengan wajah polos tanpa makeup dan rambut yang sedikit berantakan karena sengaja tidak disisir. Pamela memilih memakai rok panjang batik yang warnanya sudah pudar dan kaos melar bergambar hello kitty yang biasa dipakainya sehari-hari. Menurutnya penampilannya mungkin mirip gadis desa lugu. Mungkin dengan begini si Om akan merasa kasihan dan kurang berselera.
"Nek, Pamela pergi dulu, mau ngerjain tugas dirumah Vanessa..."
"Hati-hati di jalan, salam buat Ibunya Vanessa...itu baju emang nggak ada yang lain Mel?"
"Nggak papa nek, cuma di rumah doang kok ngerjain tugasnya..."
Tanpa kendala berarti Pamela pun meluncur ke rumah Vanessa dengan diantar sopirnya. Dari rumah Vanessa rencananya mereka akan naik taksi online saja.
"Lo mau ngelon*te kenapa tampangnya jadi kayak gembel begini?"
Pekik Vanessa yang kaget dengan penampilan Vanessa.
"Udahlah nggak usah banyak cincong, namanya juga usaha..."
Vanessa lalu cekikikan sambil mengamati penampilan sahabatnya.
"Tar dikira pemulung kita dilarang masuk hotel lagi!"
"Ya bagus kalau begitu, sekalian bisa buat alasan kabur..."
"Kabur tidak semudah itu neng!"
"Ya udah yuk buruan berangkat, gue udah nggak sabar buat akting biar si om-om itu ilfeel"
Tidak berselang lama taksi online yang dipesan Pamela pun datang. Mereka berangkat dengan hati berdebar. Seperti apa rupa lelaki mapan yang akan menjadi "Bos" nya nanti?