
Pamela pergi dari rumah tanpa rencana dan tujuan. Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Pamela merapatkan jaketnya dan terus melangkah dengan hanya berbekal tas ransel di punggungnya, ponsel, dan beberapa lembar uang di dompetnya.
"Lain kali datanglah ke apartemenku, aku tinggal sendirian disana..."
"Daddy, apa kau tidak merasa kesepian tinggal sendirian?"
"Mungkin, tapi aku sudah terbiasa...Dan aku akan merasa senang jika kau mau menginap beberapa hari..."
Itu adalah percakapan terakhir mereka tadi pagi sebelum meninggalkan hotel. Dan sepertinya, Pamela membutuhkan tawaran itu sekarang.
Daddy, tolong beritahu aku alamat apartmenmu. Aku membutuhkannya sekarang.
Pamela mengirimkan pesan itu pada Daddy Zein. Untunglah tak berselang lama pesan itu langsung mendapatkan balasan. Pamela langsung memesan taksi online menuju ke alamat itu.
Daddy, aku sudah di lobby apartemenmu, tolong jemput aku ya...
Pamela mengirimkan pesan lagi pada Daddy-nya. Pamela malas jika harus bertanya-tanya di resepsionis, karena urusannya bisa panjang.
Ok, tunggu sebentar, aku sedang di minimarket.
Untunglah Daddy Zein cepat meresponnya. Orang itu benar-benar bisa diandalkan. Tidak berselang lama Daddy Zein datang dengan menenteng sebuah tas kresek berukuran besar. Belanja apa saja dia sebanyak itu?
"Ayo Pamela, kita langsung naik ya, ini sudah malam!"
"Ya Daddy..".
Merekapun masuk ke dalam lift. Dan Pamela berjalan mengekor di belakang Daddy Zein menuju unit apartement Daddy.
"Kenapa datang malam-malam begini? Kamu kabur dari rumah ya?"
Tebak Daddy Zein yang dijawab anggukan oleh Pamela.
"Kabari orang tuamu, mereka pasti khawatir dan mencarimu! Bilang kalau kamu menginap di rumah temanmu, atau urusan kita bisa panjang nanti!"
"Baik Daddy..."
Mommy, tidak usah mencariku, aku menginap di rumah Vanessa malam ini...
Dan tentu Vanessa juga mengabari Vanessa untuk bekerja sama.
Nes, kalau Mommy atau Nenekku menghubungimu, tolong bilang kalau aku menginap di rumahmu ya...thanks
Dua pesan itu terkirim ke tujuan masing-masing. Pamela bisa sedikit bernafas lega sekarang. Semoga saja tidak ada masalah.
"Apa kamu sudah makan?"
"Tadi aku hanya makan jagung bakar Daddy..."
"Baiklah, aku akan masak untukmu, apa makanan yang kamu sukai?"
"Apapun aku suka Daddy, Daddy bisa masak?"
"Suka!"
Beberapa saat Daddy Zein sibuk mengolah masakan di dapur. Daddy membuat spaghetti dengan saos bolognaise instan dengan toping daging giling dan sosis panggang. Itu adalah menu praktis favoritenya jika sedang malas membeli makanan diluar.
"Sudah siap! Ayo kita makan sama-sama..."
Merekapun makan berdua dengan lahap.
"Enak Daddy!"
"Tentu saja, lain kali kau juga harus belajar masak. Mau ku ajari?"
"Tidak usah Daddy..."
"Kenapa?"
"Di rumah sudah banyak pelayan, nanti apa gunanya mereka?"
"Dasar anak manja, siapa yang mengajarimu bicara begitu?"
"Mommy!"
"Ayo, cepat habiskan makananmu dan segera tidur, besok kamu harus pergi ke sekolah kan?"
"Entahlah Daddy..."
"Kenapa?"
"Aku malas pergi ke sekolah..."
"Eh, tidak boleh begitu, anak manis harus sekolah dan belajar yang rajin supaya jadi anak pintar..."
"Untuk apa jadi pintar? begini saja aku sudah dapat uang..."
"Pamela!!"
"Ya Daddy, baiklah..aku akan tidur.."
Kenapa Daddy jadi marah, apa aku salah bicara?
Pamela pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu menghampiri Daddy.
"Aku tidur dimana Daddy?"
"Tidur bersamaku, aku cuma punya satu tempat tidur!"
Malam itu mereka kembali tidur bersama sambil berpelukan.