
Luna tidak bisa menyembuyikan rasa terkejutnya. Luna sudah sedikit bersiap jika dalam pertemuan ini Zein akan membicarakan tentang hubungan mereka, seperti sebelumnya. Tapi Luna tidak menyangka bahwa Zein akan langsung memintanya untuk menikah.
"Apa maksudmu?"
"Ayolah Luna, kau tahu apa maksudku...tolong jawablah, apa kau juga mencintaiku atau ada pria lain di hatimu? Kalau memang ada pria lain aku akan mundur..."
"Aku tidak punya kekasih!"
Jawab Luna dengan gugup. Hatinya benar-benar kacau sekarang.
"Tapi bukan berarti aku akan menerimamu!"
"Jadi kau baru saja menolakku?"
"Bukan begitu..."
Ah, Luna benar-benar seperti perempuan bodoh sekarang. Kenapa dia jadi tidak punya pendirian?
Luna menyadari, ada sesuatu yang perlahan-lahan tumbuh di hatinya saat bertemu kembali dengan Zein. Selama ini hati Luna tertutup oleh kebencian pada Ayah dari anaknya itu. Tapi saat mendengar penjelasannya Zein, kebencian itu langsung memudar dan berganti dengan simpati. Dan perlahan-lahan saat melihat kebaikan dan kesabaran Zein selama mereka menyelesaikan masalah Pamela, Luna semakin merasa terkesan. Namun Luna berusaha memungkirinya dan menepis jauh-jauh perasaan yang mulai tumbuh, sebab Luna tak ingin mengulang luka di masa lalu. Tapi saat kemarin, di acara ulang tahun Pamela Zein malah mengungkapkan keinginannya untuk menjalin hubungan lagi, hatinya langsung porak poranda. Perasaan marah, bingung, dan malu bercampur menjadi satu. Mengapa jalan hidupnya harus seperti ini?
"Luna, aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi tolong jujurlah. Tanyakan pada dirimu sendiri tentang perasaanmu? Apa kau masih mencintaiku?"
"Apa ini tidak terlalu cepat, kau baru saja datang di kehidupan kami lagi dan sekarang kamu langsung mengajakku menikah?"
Luna memandang Lurus dan mulai mencerna kata-kata Zein.
"Tapi semua terserah padamu, akan aku terima apapun keputusanmu dan aku akan menghormatinya. Bahkan kalau kau tidak mau menemuiku lagi setelah ini..."
Luna merasa belum siap. Tapi juga tak rela jika harus melepaskan Zein.
"Beri aku waktu..."
Jawab Luna akhirnya.
"Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau yakin akan jawabanmu...tolong pikirkan ini baik-baik. Aku akan berdoa untuk kebaikan kita bertiga di masa depan, apapun itu...aku akan menerimanya. Sekali lagi, terimakasih banyak telah memberiku kesempatan...aku akan menunggu kabar darimu"
Zein lalu membayarkan tagihan mereka lalu pergi meninggalkan Luna yang masih mematung.
Usai kepergian Zein, Luna masih enggan beranjak dari tempatnya. Luna lalu memesan minuman lagi untuk menemaninya menghabiskan waktu disana. Luna ingin sejenak punya waktu berfikir untuk merenungkan hidupnya. Dulu dia pernah sangat berharap akan sosok pendamping yang akan melengkapi hidupnya. Semua impian dan cita-citanya telah terwujud. Melewati jalan terjal berliku, menghadapi berbagai macam rintangan dengan segala suka dan duka. Kini apapun yang dia inginkan bisa dia beli dengan mudah. Tapi tidak dengan cinta. Paras cantik dan harta berlimpah tak lantas membuatnya mudah menemukan cinta sejatinya. Sebab yang kerap ditemuinya hanyalah kepalsuan, hingga akhirnya Luna memilih pasrah, menikmati hari-harinya tanpa memikirnya cinta.
Namun sekarang disaat dirinya sudah tidak mengharapkan apa-apa, tiba-tiba pangeran dari masa lalunya datang menawarkan manisnya asmaran. Pangeran yang dulu pernah membuatnya melayang tinggi, lalu menghempaskan dirinya ke jurang terdalam, sampai hidupnya sempat porak poranda.
Tapi kini, setelah sekian lama berpisah, bahkan mereka sama-sama masih sendiri. Apakah kali ini akankah takdir berbaik hati menyatukan mereka berdua?