Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 60



Nenek Zubaedah pulang dari rumah sakit dengan berbagai macam pikiran berkelebat di kepala.


"Kek, bagaimana ini?"


Tanyanya sambil menggenggam tangan suaminya saat mereka sedang berada di dalam lift rumah sakit.


"Bagaimana apanya?"


"Itu tadi Zein, mantan pacar Luna dulu, Kakek ingat kan?"


"Ya...mau bagaimana lagi mungkin sudah waktunya mereka bertemu...."


"Sudah waktunya bagaimana? Kakek ingat bagaimana dulu dia menghancurkan Luna, anak kita, dan sekarang setelah semuanya baik-baik saja, dia muncul seenaknya...Saya yang merawat Pamela sejal kecil rasanya nggak rela..."


"Kalau Nenek nggak rela berarti belum ikhlas ngrawat Pamelanya..."


"Kakek ini, malah belain orang lain! Huft..."


Nenek Zubaedah melepaskan gandengan tangannya lalu melangkah mendahului Kakek Husein. Seperti pasangan abg yang sedang ngambek. Apa boleh buat. Nenek Zubaedah harus memikirkan masalah ini sendiri. Suaminya yang selalu bersikap datar dalam menanggapinya tidak bisa diandalkan. Dia harus bicara dan mencari tahu masalah ini pada Luna anaknya. Yah, meskipun untuk bicara pada anak sendiri pun dia harus bersabar, menunggu Luna yang super sibuk untuk meluangkan waktunya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Luna sudah duduk di meja makan untuk menanti sarapan. Hal yang jarang terjadi, tapi paling dinanti semua anggota keluarga. Terutama Nenek Zubaedah yang sedang ingin membicarakan perkara penting ini.


"Luna, tumben pagi-pagi ikut sarapan? Sedang tidak ada acara kamu?"


Tanya Nenek berbasa-basi.


"Tidak, aku sudah mengosongkan jadwalku. Nanti akan menjemput Pamela pulang dari rumah sakit..."


"Oh iya, Pamela sudah boleh pulang ya? Nanti biar Ibu temani..."


"Ya Bu, nanti setelah sarapan kita berangkat sama-sama..."


"Kak, aku mau ikut juga donk dari kemaren belum sempat jenguk Pamela, di kerjaan sibuk banget nggak enak kalau mau izin..."


"Nggak papa, tenang aja, Pamela pasti ngerti kok kalau tante kesayangannya sibuk...kamu tunggu aja di rumah..."


"Ya Chika, kamu tunggu saja di rumah, nggak enak di rumah sakit ramai-ramai, sudah mau pulang juga Pamelanya..."


"Ya udah deh, aku mau lanjut bobok cantik aja..."


Jawab Chika akhirnya sambil berlalu dari meja makan. Tanpa sadar Nenek Zubaedah menghembuskan nafas lega. Dia benar-benar butuh waktu berdua dengan Luna.


"Ayo Bu, kita berangkat sekarang..."


"Ya, biar Ibu siap-siap sebentar..."


"Ok, aku tunggu di depan ya..."


Akhirnya mereka berangkat bersama dalam satu mobil. Duduk bersebelahan dalam satu mobil dengan Ibunya adalah hal yang cukup jarang terjadi. Biasanya Luna hanya pergi dengan sopir atau managernya.


"Luna, ada hal serius yang ingin Ibu tanyakan padamu..."


"Ya, tanyakan saja langsung, aku kan anak Ibu, kenapa bicara seperti itu?"


Luna menanggapi dengan santai.


"Ini berhubungan dengan Ayah biologis Pamela. Tolong jawab dengan jujur. Kemarin aku bertemu dengan Zein di ruang perawatan Pamela. Pamela bilang dia teman Ibunya. Apakah kau sudah mulai berhubungan lagi dengan Zein?"


Luna terkejut dengan pertanyaan Ibunya. Tapi kemudian segera bisa menguasai diri karena memang sudah mempersiapkan diri untuk keputusan besar ini.


"Aku juga berencana membicarakan ini dengan Ibu. Aku tidak berhubungan lagi dengan Zein. Dia menemui Pamela tanpa sepengetahuanku. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Rasanya berat untukku, tapi demi kebaikan Pamela, sepertinya sudah saatnya kita mengungkap kebenaran ini Bu. Sejak dulu Pamela selalu penasaran dan merindukan sosok Ayahnya. Jika memang sudah begini jalannya, aku akan berusaha mengikhlaskan..."


"Ah, bagaimana ini? Kenapa masalah sebesar ini kamu tidak memberi tahu Ibu? Selama ini Ibulah yang merawat Pamela..."


"Aku juga belum lama tahu Bu, ini juga berat untukku, seperti membuka luka lama, tapi bagaimanapun Zein Ayah Pamela..."


"Luna, aku takut dia merebut Pamela dari kita, kamu tahu kan keluarganya pengusaha berpengaruh di negeri ini? Dan sekarang posisinya pun sudah semakin tinggi..."


"Ya Bu, aku tahu, nanti biar kupikirkan lagi bagaimana baiknya. Ibu sebentar lagi kita akan sampai, kita bicarakan lain kali ya Bu..."


"Ya, ini terasa mendadak bagiku..kita bicarakan lain kali saja..."


Mobil berhenti di lobby rumah sakit untuk menurunkan Luna dan Nenek Zubaedah. Mereka segera sibuk mengurus kepulangan Pamela. Entah kapan lagi ada kesempatan untuk bicara berdua dengan Luna.