
Luna menatap lekat-lekat wajah putrinya yang sedang tertidur pulas. Meski dihiasi luka, tapi wajah Pamela terlihat sedikit tersenyum dan begitu damai. Ah, begitu banyak hal yang dia lewatkan dalam perkembangan buah hatinya. Ibu macam apa dia?
Pamela lalu menggeliat dan membuka matanya, dan menemukan Mommy duduk disampingnya membuatnya langsung tersenyum.
"Mommy?"
"Ya sayang, ada apa? Apa ada yang sakit? Bilang sama Mommy!"
Pamela menggeleng.
"Nggak Mommy, aku udah nggak papa...Mommy nggak kerja?"
"Kenapa Mommy harus kerja, kalau anak cantik Mommy sedang sakit begini?"
Kebetulan Luna sedang tidak ada pekerjaan yang mengharuskan dirinya tampil secara live. Hanya ada beberapa meeting yang masih bisa ditunda dan Luna memilih meminta izin.
"Mau makan sayang? Mommy suapi ya?"
Pamela memandang kotak makanan yang ada di meja nakas. Makqnan dari rumah sakit dengan menu lengkap dan sehat. Tapi Pamela merasa tidak berselera.
"Aku nggak pengen makan itu Mommy..."
"Ah iya, makanan rumah sakit biasanya hambar dan tidak terlalu enak, jadi kamu sedang ingin makan apa? Mommy pesankan online saja ya?"
"Aku mau burger boleh mommy, yang dagingnya tebal dan sausnya banyak itu Mommy..."
"Baiklah, Mommy pesankan dulu, tapi nanti kamu habiskan ya?"
"Aku pengen makannya bareng sama Mommy, enak lo Mommy, Mommy juga harus makan..."
"Kamu ini! Bilang saja ingin menggagalkan diet Mommy! Dasar anak nakal! Baiklah, kali ini Mommy akan menuruti permintaanmu, asal kamu cepat sembuh..."
"Hehehe..."
Pamela paling suka menggoda Mommy seperti ini. Terasa akrab dan hangat.
"Pamela, apa kamu sudah siap cerita pada Mommy?"
Senyuman Pamela langsung pias, berganti dengan kegugupan. Bagaimana dia harus memceritakan pada Mommy?
"Ceritanya panjang Mommy..."
"Ceritakan pelan-pelan, Mommy punya banyak waktu untuk mendengarkanmu..."
Pamela kemudian malah terisak.
"Kenapa malah menangis?"
"Kesalahan apa? Apa maksudmu sayang? Ceritakan pelan-pelan...Mommy tidak akan memarahimu..."
Luna sangat berhati-hati dalam bersikap pada Pamela, sebab dia sadar, dirinya bukan Ibu yang baik dan tak selalu ada untuk Pamela. Sebagai seorang Ibu dirinya banyak salah dan kekurangan. Yang diharapkan dari Pamela hanyalah agar anaknya mau jujur dan mempercayainya.
"Aku menjadi sugar baby Mommy....maafkan aku..."
"Apa? Bagaimana bisa kamu melakukannya? Kenapa kamu sampai melakukannya?"
"Aku merasa kesepian Mommy!"
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Luna tidak pernah terfikir kalau putrinya sampai terjerumus dalam lingkaran itu.
"Astaga sayang, bagaimana mungkin?"
Dimata Luna selama ini Pamela adalah gadis manis yang polos.
Pamela hanya menunduk. Lalu ponsel Luna berbunyi.
"Pesanannya sudah datang, biar Mommy ambil dulu dibawah..."
Luna bergegas mengambil makanan, lalu kembali lagi ke ruang perawatan Pamela.
"Ayo kita makan, tadi kamu janji akan menghabiskan burger kan? Tidak usah dipikirkan, nanti kapan-kapan kita bicarakan lagi..."
Luna membuka bungkus makanan dan menyerahkan burger yang setengah terbuka agar mudah disantap Pamela.
"Makan yang banyak, Mommy akan makan juga menemanimu..."
Ah, Mommynya benar-benar tidak marah? Pamela lalu menggigit burgernya. Enak! Mommy pun makan dengan lahap. Sejenak mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Makanan Pamela habis lebih dulu. Pamela lalu meminum air putih dan mulai ingin bercerita lagi. Kapan lagi waktu yang tepat kalau bukan sekarang? Jarang-jarang Mommy punya waktu untuknya.
"Yang kemarin ada disini, Daddy Zein adalah sugar daddy-ku. Aku lihat Mommy dan Daddy Zein saling bertegur sapa, apa kalian saling mengenal?"
"Uhuk..uhuk..."
Luna yang masih makan jadi tersedak.
"Maaf Mommy, aku nggak bermaksud membuatmu kaget lalu tersedak..."
Namun kemudian ada seseorang mengetuk pintu dari luar dan masuk keruang perawatan Pamela.
"Selamat siang Pamela, bagaimana kabarmu?"
Luna dan Pamela bersamaan menoleh dan menatap pada pria itu.