Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 30



Malam itu, Pamela kembali menelpon Daddy untuk menanyakan tentang 'titik terang' yang tadi pagi dikatakan Daddy Zein.


"Sabar sayang, aku sedang menyelidikinya lebih lanjut. Tapi kamu dan temanmu tidak perlu khawatir, ini bukan masalah besar, aku janji akan memberimu kabar secepat mungkin karena aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu!"


"Baiklah Daddy, aku tunggu kabar darimu, aku juga sudah tidak sabar..."


Selang dua hari, barulah Daddy Zein menghubunginya lagi dan mengajak Pamela bertemu.


"Malam ini bisa bertemu di luar Baby? Kita harus membicarakannya secara langsung agar lebih jelas, dan tentu aku sudah sangat merindukanmu..."


Kata-kata terakhir Daddy membuat Pamela tersipu. Karena jujur saja, Pamela juga sangat menunggu untuk bertemu Daddy Zein, terlepas dengan urusan sahabatnya, Vanessa. Bahkan kalau boleh mengaku, Pamela menjadikan masalah Vanessa sebuah alasan untuk bisa berkomunikasi lebih intens dengan Daddy. Seperti berlama-lama mengobrol di telfon misalnya.


"Baiklah Daddy, kita bertemu dimana?"


"Bagaimana kalu restoran biasa? Atau kamu ada ide yang lain?"


"Baik Daddy, kita akan bertemu di restoran biasa!"


Jawab Pamela karena merasa tak punya ide lain. Ini bukan akhir pekan dan Pamela masih harus berangkat sekolah setiap hari. Pasti akan sulit meminta izin Nenek untuk keluar malam di hari biasa. Maka lagi-lagi Pamela harus bersekongkol dengan Vanessa, kalau-kalau nenek tidak percaya padanya.


"Aku pergi dengan Vanessa Nek, ada tugas kelompok yang harus dikerjakan dirumah teman..."


"Kenapa harus malam-malam begini?"


"Karena sore tadi Vanessa ada ekskul, dan temanku yang lain juga ada acara..."


"Baiklah, jangan pulang malam-malam!"


Akhirnya Pamela pun bisa pergi menemui Daddy di sebuah restoran romantis.


"Apa kabar Baby? Kamu terlihat semakin cantik!"


Tentu Pamela sudah berdandan dan menyiapkan penampilan terbaiknya untuk bertemu Daddy. Pamela memakai pakaian kasual, hanya jeans dan kaos lalu dibalut cardigan. Tapi terlihat amat pas di tubuhnya. Dan Pamela juga memoles wajahnya dengan make up natural, hasil 'mencuri' koleksi Mommy, yang harganya pasti tidak murah. Pamela suka penampilan semacam ini, sederhana dan menonjolkan kecantikan alaminya. Pamela ingin terlihat cantik, namun tidak ingin orang tahu kalau dia 'bekerja keras' untuk terlihat cantik. Karena itu Pamela suka dandanan simple yang terkesan cuek. Lagi pula Nenek bisa curiga kalau dirinya dandan berlebihan.


"Terimakasih Daddy..."


"Ayo kita pesan makanan dulu, baru setelah itu kita bicarakan masalah temanmu..."


"Ya Daddy..."


"Kamu tidak buru-buru kan? Aku ingin berlama-lama denganmu disini..."


"Tidak bisa Daddy, Nenek akan memarahiku kalau terlambat pulang, bisa-bisa nanti aku dikurungnya terus dirumah..."


"Baiklah-baiklah, dasar anak mami! Eh, atau anak Nenek!"


"Ah Daddy, berhentilah meledekku!"


"Baik anak manis, ayo kita mulai. apa yang ingin kamu tahu?"


"Semuanya Daddy, tapi pertama-tama aku ingin tahu siapa orangnya yang berani dan bisa-bisanya menggunakan video itu untuk mengancam Vanessa!"


"Baiklah, akan kusebutkan kata kuncinya, namanya Siska. Nama lengkapnya Fransiska Priscilia, apa kamu mengenalnya?"


"Apa?"


Pamela terkejut. Tentu saja Pamela mengenal anak itu meski mereka tidak begitu dekat. Siska adalah teman satu sekolahnya tapi berbeda kelas. Selama ini Pamela melihat Siska sebagai siswi yang kalem cenderung pendiam dan tak suka cari masalah. Wajahnya cantik imut dengan kulit bersih. Bagaimana mungkin gadis yang terlihat sepolos itu adalah tersangkanya?


"Terkejut Baby? Memang manusia itu makhluk paling tidak terduga, mungkin kamu juga, teman sekolahmu pasti tidak ada yang menyangka kalau kamu seorang Baby dengan tampang innocent mu itu!"


"Baby? Apa Siska juga seorang Baby?"


"Tentu saja, aku sudah menyelidikinya. Dia sudah lebih dulu bergelut di 'dunia ini'. Bisa dibilang dia adalah seniormu. Tapi jangan buru-buru berprasangka buruk, karena sepertinya dia melakukannya karena alasan yang mendesak. Ayahnya menderita sakit ginjal menahun. Tadinya Om Pras, Daddy-nya Vanessa sudah memilih Siska lebih dulu, tapi karena Siska ketahuan punya Daddy lain, jadi Om Pras membatalkannya karena alasan kesehatan. Mungkin dari sana sedikit banyak dia tahu kalau Vanessa juga seorang Baby dan memanfaatkan sebuah kebetulan untuk mengancamnya.."


Pamela masih bengong mendengar penjelasan Daddy.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"


"Entahlah Daddy!"


"Apapun itu, tolong libatkan aku! Aku janji akan membantumu dan sahabatmu, jangan terlalu membencinya, karena menurutku nasibnya hampir sama dengan sahabatmu, bahkan mungkin kebutuhannya lebih mendesak!"


"Daddy, kenapa kamu baik dan peduli sekali?"


Karena ternyata, Pamela justru tersentuh oleh kebaikan dan kepedulian Daddy-nya.


Daddy Zein hanya tersenyum, meski hatinya meluap-luap ingin mengungkapkan perasaannya.