Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 24



Vanessa duduk gemetar sambil menatap layar ponselnya. Om Pras memintanya untuk bertemu lagi di hotel. Apa yang harus dia katakan? Tidak mungkin lagi dia membuat alasan, karena pasti Om Pras tidak akan percaya. Yah, sudah cukup banyak waktu yang diberikan Om Pras untuknya menyiapkan diri kembali. Dan Om Pras pun sudah beberapa kali memberikan uang yang cukup banyak tanpa dirinya melakukan apapun.


Jadi malam ini dirinya harus benar-benar bersiap untuk 'menyerahkan' dirinya. Meski dirinya tidak akan benar-benar merasa siap.


Vanessa berdiri di depan cermin besar yang menempel di lemari bajunya. Memandangi bayangan dirinya sendiri di depan sana. Wajahnya manis dengan kulit berwarna kuning langsat khas wanita melayu. Rambutnya sepundak dan tergerai bergelombang. Hidungnya ramping dan mungil. Secara keseluruhan penampilannya bisa di bilang cukup good looking, meski kecantikannya tidak terlalu menonjol. Tapi kenapa nasibnya harus malang begini? Kenapa Ayahnya harus meninggal cepat? Dan kenapa dirinya dan Ibunya harus menderita karena kemiskinannya? Dan kenapa dirinya dengan mudah bisa dilecehkan dan selalu dipandang rendah? Adakah dosa besar yang telah dilakukannya hingga jalan hidupnya begini? Terkadang pertanyaan-pertanyaan itu kerap menghantui pikirannya. Tapi segala pikiran itu langsung ditepisnya sendiri. Tidak, tidak ada gunanya meratap dan mempertanyakan nasib. Dirinya sendirilah yang harus bangkit dan merubah nasibnya sendiri. Meski dengan cara yang hina sekalipun.


Vanessa menghapus air matanya dan menegakkan kepalanya. Lalu melangkah keluar dari kamarnya yang gelap dan lembab, menuju sebuah taksi online yang telah menunggunya di depan gang. Taksi online itulah yang akan mengantarkannya ke sebuah hotel, dimana dia akan menyerahkan kehormatan dirinya kepada pria asing hanya demi segepok rupiah yang semoga bisa memperbaiki masa depannya nanti.


"Selamat sore Om..."


Sapa Vanessa saat tiba di kamar hotel dimana Om Pras sudah menunggunya.


"Selamat sore manis...."


Om Pras menyuruhnya mendekat dengat isyarat lambaian tangan. Vanessa pun menurut, melangkah mendekat lalu duduk di pangkuan Om Pras sambil bergelanyut manja.


"Maaf Om, sudah lama menunggu ya?"


"Tidak masalah kalau menunggu gadis manis sepertimu..."


Om Pras lalu meraih kepala Vanessa agar mendekat, lalu mengecup singkat pipinya. Vanessa tidak melawan, namun tidak juga membalas.


"Nah begitu, sedikit demi sedikit kamu harus belajar untuk menyenangkanku. Walaupun masih kaku, tapi tak apa...aku suka gadis polos sepertimu..."


Vanessa tersenyum semanis mungkin, meski hatinya menjerit jijik.


"Sudah makan belum?"


"Tadi siang sudah Om..."


"Tadi siang? Berarti kamu belum makan malam kan? Baiklah, mari kita pesan makanan dulu! Aku tak mau kamu nanti kehabisan tenaga saat kita berc inta!"


Om Pras menyeringai dengan tatapan me sum.


Vanessa mulai begidik membayangkan apa yang ada di kepala Om Pras tentang dirinya.


"Mau makan apa manis?"


"Apa saja, terserah Om saja..."


"Baiklah aku akan pilihkan menu paling lezat disini..."


Om Pras lalu menghubungi layanan kamar untuk memesan makan malam mereka.


Vanessa masih duduk di pangkuannya saat Om Pras menelpon. Tadinya Vanessa sudah mau bangkit, tapi Om Pras menahannya dengan memeluk pinggangnya. Vanessa menurut. Dia sedang belajar menjadi 'baby' yang manis meski hatinya berontak.


Selesai menelpon, Om Pras mulai sedikit bermain-main dengan tubuh Vanessa. Dipeluknya ping gang mungil Vanessa, sambil terus mengen dus en dus lehernya yang jenjang. Lalu di re mas nya kedua bu ah da da Vanessa yang kenyal dengan gemas.


Sungguh masih mu lus, ken cang, dan begitu mengga irah kan.


Begitu yang dipikirkan Om Pras tentang tu buh Vanessa. Itulah kenapa dia memilih daun muda untuk menemaninya ber cin ta.


Sampai kemudian terdengar suara bel berbunyi.


"Turunlah! Mari kita makan dulu, kita lanjutkan nanti malam di ran jang..."


Om pras tersenyum gen it kepada Vanessa, sebelum membukakan pintu.


Sejenak mereka menikmati makan malam dengan tenang. Vanessa memasukkan saja makanan-makanan itu ke mulutnya, meski dia tak terlalu berselera. Tak peduli selezat apapun makanan yang ada di depannya. Melihat sosok lelaki di depannya membuatnya muak. Maka, Vanessa memilih menghabiskan makanannya sambil menunduk.


"Anak manis...makan yang banyak sayang..."


Kata Om Pras sambil mengelus-elus kepalanya.


"Ya Om..."


Vanessa menyudahi makannya, lalu menenggak habis air putih di depannya.


"Maaf Om, aku ke kamar mandi dulu ya..."


"Silahkan..."


Dan ternyata di dalam kamar mandi Vanessa benar-benar memuntahkan makanan "mahal" nya.


Sementara di luar, Om Pras masih menghabiskan makanannya dengan santai.


"Kenapa? Kamu memuntahkan makananmu?"


Tanya Om Pras begitu Vanessa kembali. Sebab tadi Om Pras mendengar suara Vanessa dari kamar mandi.


"Ya Om..."


"Semoga saja bukan karena kamu hamil! Yang jelas saat terakhir kita ber hub ungan, jelas-jelas aku memakai pengaman..."


Kata-kata Om Pras, yang justru membuat Vanessa sedikit khawatir.


Tidak-tidak! Tidak mungkin aku hamil. Pasti hanya karena aku jijik melihatnya. Apalagi dirinya hanya melakukannya sekali.


Vanessa berusaha menepis pikiran buruknya.


"Sudah-sudah, jangan terlalu dipikirkan, aku cuma bercanda! Mana mungkin kamu hamil kan?"


Vanessa mengambil botol air mineral yang ada di kulkas kecil di dalam kamar, lalu meminumnya sedikit. Berharap bisa sedikit meredakan rasa mualnya.


"Istirahatlah dulu, ada sedikit urusan pekerjaan yang harus ku selesaikan sebelum nanti kita bersenang-senang..."


Vanessa lalu merebahkan dirinya di sofa. Sementara Om Pras langsung sibuk dengan poselnya dan membuka laptopnya.


"Mau makan lagi? Biar nanti kupesankan lagi.."


Tanya Om Pras tanpa menoleh.


"Tidak perlu Om, Terimakasih..."


Meski perutnya lapar, sepertinya percuma saja dia makan disini. Bahkan sekarangpun perutnya masih terasa mual.


Beberapa saat Vanessa mencoba memejamkan mata. Rasanya dia ingin melarikan diri dari kamar mewah itu. Tapi tentu saja hal itu tak mungkin dilakukannya.


Beberapa saat kemudian Om Pras sepertinya telah selesai dengan pekerjaannya. Om Pras lalu menutup laptopnya dan menghampiri Vanessa.


"Bangun sayang, sekarang waktunya kita bersenang-senang"


Om Pras mengusap lembut kepala Vanessa, lalu mengecup keningnya.


Vanessa lalu menggeliat dan membuka matanya. Ternyata dia malah tertidur sungguhan.


"Aku cuci muka dulu Om..."


Tentu itu hanyalah sebuah alasan untuk mengulur waktu. Tapi Om Pras tidak ambil pusing dan memilih menunggu Vanessa dengan sabar.


Saat Vanessa keluar, Om Pras sudah berbaring di tempat tidur dengan kancing kemeja sedikit terbuka.


"Kemarilah anak manis, jangan takut! Aku janji akan melakukannya dengan lebih perlahan dan kita berdua akan menikmati permainan ini bersama..."


Vanessa berjalan mendekat dan berbaring dipelukan Om Pras yang telah merentangkan tangannya, menunggunya.


Om Pras lalu memeluknya erat dan mencium pipi Vanesa dengan lembut. Lalu tangannya mulai bermain dan membuka satu persatu kancing baju Vanessa. Namun tiba-tiba, saat sedang melancarkan aksinya, dadanya terasa sakit sekali dan nafasnya mulai tersengal. Om Pras seketika ambruk di atas tubuh Vanessa yang kancingnya baru terbuka setengah. Dan Vanessa reflek mendorong tubuh Om Pras yang telah lemas, hingga terjatuh ke tempat tidur disampingnya.


"Om kenapa Om?"


Om Pras bahkan sudah tidak mampu menjawab.