
Sudah seminggu lebih Pamela tak bertemu dengan Kak Rayhan. Perasaan kesal bercampur rindu kerap memenuhi hari-harinya. Pamela kesal pada Kak Rayhan yang terkesan mengabaikan dan membiarkannya sendirian. Tapi Pamela juga sangat rindu, hingga sedikit berbalas pesan saja bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Untunglah akhir pekan ini Kak Rayhan sudah kembali mengajaknya bertemu. Tentu masih dengan mode senyap, alias diam-diam jangan sampai ketahuan nenek. Dengar-dengar wawancara Kak Rayhan dengan Mommy berjalan sukses hingga mamou mendongkrak pipularitas chanel Kak Rayhan. Walau begitu Mommy tak mau bercerita padanya. Jadi kali ini Pamela ingin mendengar ceritanya dari Kak Rayhan sendiri.
Kali ini Kak Rayhan mengajaknya bertemu di sebuah restoran AYCE yang cukup mahal untuk ukuran Kak Rayhan.
"Kak, jangan memaksakan diri, di tempat yang biasa-biasa saja aku sudah senang kok!"
Pamela tidak ingin membebani kekasihnya, yang dia tahu ekonominya tak sebaik keluarganya.
"Nggak papa, sekali-sekali Mel, biar kamu ngerasain kalau kamu spesial buat aku dan aku akan berusaha buat kamu..."
Jawaban Kak Rayhan terdengar amat manis ditelinganya. Sejak kapan Kak Rayhan yang cuek dan datar jadi pintar menggombal begini? Kalai sudah begini Pamela hanya bisa pasrah sambil tersenyum senang. Baiklah, tidak ada salahnya menghargai usaha Kak Rayhan. Walaupun tentu, makanan korea kekinian itu tidak terlalu spesial baginya, tapi karena Kak Rayhan yang mentratirnya jadi terasa spesial.
Pamela pergi dengan diantar sopirnya. Pamit pada nenek akan menghadiri ulang tahun salah satu temannya di restoran. Pamela menyuruh sopirnya langsung pulang dan bilang akan pulang sendiri dengan taksi online nanti. Tidak ada kendala berarti.
Sampai disana Kak Rayhan sudah menunggunya di salah satu meja.
"Selamat datang tuan puteri..."
Sapa Rayhan dengan senyum levar di bibirnya. Seperti biasa, Pamela tampak cantik dan manis dalam pakaian kasualnya, mirip sekali dengan Luna Ibunya.
"Wah, All you can eat ya? kita harus makan cepet donk biar muat banyak, padahal aku pengen ngoborl banyak sama Kakak?"
Rayhan tertawa. Kenapa malah hal semacam itu yang terointas di benak Pamela saat pertama bertemu? Benar-benar mengacaukan suasana hatinya yang sedang ingin romantis.
"Nggak masalah, kita makan dulu aja sampai waktunya habis, baru setelah itu kita ngobrol. Numpang ngobrol habis makan masih boleh kan? atau nanti kita cari tempat lain buat ngobrol!"
"Ok Kak! Pinter juga Kakak idenya"
Pamela jadi geli sendiri. Rayhan langsung memesan dua paket AYCE di restoran ala korea yang kekinian itu. Tak lupa Rayhan dan Pamela bergantian mengambio gambar.
"Masuk konten nggak Kak?"
"Nggak lah, kalau kamu ekklusive buat aku aja, no publikasi!"
"Wah, padahal aku juga pengen numpang tenar di chanel Kakak"
Dan mereka oun kembaki tertawa bersama. Tentu Pamela hanya bercanda. Pamela tidak ingin menjadi artis atau semacamnya yang terkenal seperti Mommy. Dia hanya ingin menjadi manusia dengan kehidupan normal bersama keluarga kecilnya di masa depan nanti. Sedangkan Rayhan tidak ingin melibatkan Pamela dan dianggap mendramatisir kisah asmaranya demi konten.
Mereka akhirnya fokus melahap makanannya dengan sesekali memgobrol ringan tentang makanan yang sedang disantapnya.
"Kok berhenti?"
"Udah kenyang Kak.."
"Kan masih setengah jam, katanya mau puas-puasin biar nggak mubadzir?"
"Udah cukup, perutku udah penuh..."
"Iya, aku juga udah kenyang...mau lanjut jalan?"
"Memangnya Mommy kamu nggak cerita?'
"Nggak Kak!"
Dan kemudian Pamela mulai mendengarkan cerita seru Kak Rayhan yang sedang sangat bersemangat. Tapi tiba-tiba ada pikiran lain yang menyergapnya.
"Kenapa Kakak ingin sekali jadi terkenal?"
"Aku tidak ingin jadi terkenal, aku cuma ingin sukses dengan jalan yang aku pilih..."
"Tapi kan kalau sukses jadi youtuber pasti nanti akan terkenal juga..."
"Kalau itu sih bonus namanya..."
"Aku nggak suka kalau Kakak nanti jadi terkenal"
"Kenapa nggak suka?"
"Nanti Kakak lupa sama aku, terus banyak cewek yang deketin, terus nggak ada waktu buat aku..."
"Aku nggak akan kayak gitu sayang, dan nggak pengen terkenal juga sih sebenarnya, cuma mau banyak uangnya aja, hehe..."
"Kenapa sih orang-orang pada terobsesi sama uang, padahal orang kaya belum tentu bahagia..."
"Bukan terobsesi sayang, tapi kita tetap butuh uang buat memenuhi kebutuhan juga mencapai impian-impian kita, aku pengen berangkatin Ibuku naik haji, pengen beliin rumah yang lebih layak, juga untuk bahagiaan kamu nanti..."
"Hmmm, tapi aku nggak mau kalau nanti kamu terlalu sibuk dan jadi sering ninggalin keluarga, kayak Mommy aku sekarang..."
Impian Pamela adalah memiliki pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Bisnis online misalnya. Agar kelak dia bisa memiliki keluarga kecil yang harmonis dan sering berkumpul bersama. Sejak kecil dia sudah biasa dimanjakan dengan materi. Jujur saja, terkadang Pamela penasaran dengan kehidupan orang biasa. Mungkin akan lebih menarik dan menyenangkan. Begitu pikirnya. Itu pula yang membuatnya tertarik pada Kak Rayhan daripada laki-laki kaya yang coba mendekatinya. Sedangkan impian Rayhan adalah memiliki penghasilan yang besar agar bisa membahagiakan orangtua dan keluarganya, juga tidak akan dipandang rendah dan diremehkan orang. Seperti yang beberapa kali di terimamya. Jarak yang memisahkannya dengan Pamela beberapa waktu yang lalu tentu sempat membuatnya terpikir untuk membuka hati pada wanita lain. Meski jujur perasaannya tidak ada yang sedalam dengan Pamela. Rasa tertariknya hanya sebatas secara fisik dan rasa penasaran untuk menakhlukan seorang wanita. Dan entah mengapa gadis-gadis yang coba di dekatinya selalu menolaknya. Rayhan tahu alasannya mungkin karena dia hanya orang biasa dengan keluarga biasa pula. Tidak bisa memberikan kesenangan dengan hartanya. Tapi Pamela ternyata berbeda. Gadis itu seolah sudah memiliki segalanya, tapi bisa menerimanya dengan tulus. Dan Rayhan semakin yakin dengan pilihan hatinya. Tapi tetap dia akan berusaha membuat dirinya pantas untuk seorang Pamela. Bukan seperti sekarang yang berat sebelah.
"Mommy kamu kan sibuk bekerja, untuk membahagiakan kamu juga Pamela, dia bekerja keras di luar demi kamu juga..."
"Kok kakak jadi belain Mommy, tahu apa Kakak tentang Mommy, apa gara-gara wawancara itu kalian jadi deket?"
"Aduh Pamela kok mikirnya begitu sih, dia kan Mommy kamu sendiri!"
"Habisnya kakak malah belain Mommy di depanku!"
Mommy masih cantik dan tidak jarang pemuda seusia Kak Rayhan ada pula yang mendekatinya, jadi wajar saja Pamela cemburu.
"Sudah-sudah, ayo kita jalan-jalan saja, daripada kamu ngomongnya jadi ngelantur begini..."
"Hemmm"
Meski dengan wajah manyun Pamela menurut mengikuti Kak Rayhan. Mereka kembali berkeliling kota tanpa tujuan yang jelas. Hal yang bagi Rayhan membingungkan, tapi menyenangkan bagi Pamela. Bisa duduk di belakang Kak Rayhan sambil mengobrol setengah berteriak sungguh romantis bagi Pamela.