
Pamela merasa marah pada Kak Rayhan karena percakapan terakhir mereka di CFD kemarin. Jadi Pamela memutuskan untuk ngambek dan tidak mau berhubungan dengan Kak Rayhan untuk sementara waktu. Sejujurnya, Pamela berharap Kak Rayhan akan datang, meminta maaf dan merayunya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kak Rayhan justru tidak menghubunginya sama sekali! Apa-apaan ini? Dan diam-diam Pamela terus menunggu Kak Rayhan untuk memghubunginya.
Hari-hari terasa panjang dan menyakitkan bagi Pamela. Apakah begini rasanya menunggu tanpa kepastian? Pamela benci perasaan seperti ini. Untuk apa Kak Rayhan datang kalau hanya untuk pergi? Apakah Kak Rayhan hanya ingin mempermainkan perasaannya? Sejuta pertanyaan mengambang di benak Pamela, tanpa tahu kemana harus mencari jawabannya.
Pamela merasa sedih, takut, dan terbuang. Apakah dirinya tidak pantas untuk dicintai? Kenapa tidak ada satu lelaki pun yang datang dan mencintainya dengan benar? Ah mungkin Pamela sendirilah yang terlalu bodoh dan naif. Terlalu mudah percaya dan memakai perasaan. Hingga akal sehatnya hilang entah kemana. Harusnya dia ingat, bagaimana dulu dia berjuang mati-matian untuk menghapus perasaannya dan mengusir Kak Rayhan jauh-jauh dari kehidupannya. Dan akhirnya Pamela berhasil, melanjutkan hidup jauh dari bayang-bayang Kak Rayhan. Tapi mengapa saat Kak Rayhan datang kembali, dengan ceroboh dia membuka diri, dan kembali hanyut dalam perasaannya? Apakah benar perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan? Ah, Pamela merasa lelah sekali. Hingga akhirnya matanya terpejam. Tidur. Tidur adalah satu-satunya cara untuk menghapus bayangan Kak Rayhan dari benaknya. Sebab, saat dirinya terjaga, sekuat apapun Pamela berusaha melupakan dan membenci, bayangan Kak Rayhan selalu hadir. Namun sialnya. Di tidurnya kali ini, sosok Kak Rayhan malah kembali hadir. Membuatnya semakin frustasi saat membuka mata. Arrggh!! Ada apa dengan diriku?
Rutuk Pamela dengan frustasi. Apa begini yang dinamakan patah hati?
Lalu tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Daddy Zein. Dan entah mengapa Pamela langsung antusias.
Apa kabar Baby? Are you ok? Aku sudah sangat merindukanmu. Bisakah kita bertemu akhir pekan ini?
Dan Pamela langsung mengetik pesan balasan untuk Daddy nya.
Aku juga merindukanmu Daddy! Ayo kita bertemu akhir pekan ini. Dan bolehkah aku menginap di apartementmu lagi?
Tak berselang lama Pamela kembali mendapat balasan.
Baiklah kita bertemu akhir pekan ini. Tapi sebaiknya kamu jangan menginap dulu! Aku tidak ingin keluargamu curiga dan hubungan kita jadi terancam. Kamu mengerti kan?
Ah, Pamela jadi merasa sebal. Apakah dirinya baru saja ditolak (lagi)?
Dan Pamela pun akhirnya memilih mengabaikan pesan itu.
Tapi tetap saja Pamela menantikan pertemuannya dengan Daddy. Karena hal itulah satu-satunya cara untuk mengobati kekosongan hatinya. Apakah Pamela mulai menganggap Daddy sebagai pelariannya? Ah, tidak-tidak! Dia tidak boleh melakukannya. Biar bagaimanapun Daddy adalah orang penting yang punya uang dan kekuasaan. Pamela tahu betul jika akan sangat berbahaya kalau dirinya bermain-main dengan manusia semacam itu! Tapi Pamela sendiri juga bingung, selama ini Daddy menganggapnya apa? Ok, baiklah! Mungkin Pamela harus menanyakan hal ini di pertemuan mereka selanjutnya.
Maka pada akhir pekan itu jadilah mereka bertemu di apartement Daddy, tapi tidak menginap. Pamela sedang tidak ingin kemana-mana. Dan sepertinya apartemen Daddy adalah tempat yang nyaman dan pasti terjaga privasinya. Tentu resiko bertemu orang yang dikenal jauh lebih kecil kalau mereka bertemu disana.
"Ada apa Baby, kenapa wajahmu terlihat murung?"
Tanya Daddy Zein saat melihat Pamela hanya melamun sambil memainkan makanannya tanpa berniat menyantapnya.
"Hehe, maaf Daddy..."
"Apa kau ada masalah sayang?"
"Apa Daddy pernah merasakan patah hati?"
"Patah hati? Hmmp, makanan jenis apa itu?"
Tentu saja Daddy Zein pernah merasakannya, tapi tidak ingin reputasinya ternoda di hadapan Pamela.
"Kenapa memangnya? Siapa yang berani membuatmu patah hati?"
Seketika nada bicara Daddy meninggi.
"Hmm, seorang teman lelakiku Daddy!"
"Apa kau lupa perjanjian awal kita? Kamu adalah milikku, jadi jangan coba-coba berhubungan dengan laki-laki lain, mengerti?"
"Hmm, maaf Daddy.."
Pamela sungguh merasa takut dengan reaksi Daddy-nya.
"Dengar Pamela! Kebanyakan laki-laki itu br*ngsek, jadi jangan mudah percaya pada kata-kata manis mereka! Kamu masih kecil, belajarlah dengan benar!"
Dan sisa waktu yang mereka habiskan jadi terasa mencekam.
"Jadi siapa lelaki yang membuatmu patah hati? Katakan padaku! Akan kubuat dia patah kaki!"
"Tidak-tidak Daddy, tidak ada yang membuatku patah hati, aku pulang dulu..terimakasih banyak makan malamnya!"
Hmmm, nampaknya Pamela harus mengurungkan niatnya untuk curhat pada Daddy. Terlalu menyeramkan. Dan kini kesedihannya berubah jadi ketakutan. Nampaknya sekarang dia harus mulai berhati-hati kalau bicara dengan Daddy.