Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 94



Sesuai janjinya, Zein menjemput Pamela dan setelah itu mereka meluncur ke sebuah pusat perbelanjaan.


"Daddy curang!"


Gerutu Pamela sambil memasang wajah cemberut. Zein disampingnya sedang menyetir sambil terus tersenyum.


"Eh, apanya yang curang?"


"Melamar Mommy tidak bilang dulu padaku..."


"Ini kejutan! Lagi pula aku akan malu padamu kalau Mommy mu menolakku!"


"Jadi, kalian benar-benar akan menikah?"


"Doakan saja Pamela, semoga semua lancar dan berjalan sesuai rencana...."


Pamela tidak menjawab, hanya terus menatap ke depan entah memikirkan apa.


"Kenapa Pamela? Maaf kami belum membicarakannya denganmu, apa kamu tidak senang?"


"Mommy sudah bicara padaku saat Daddy melamarnya. Aku sangat bersyukur kalau pernikahan Daddy dan Mommy benar-benar terwujud, seperti mimpi yang jadi kenyataan. Sebentar lagi aku akan punya keluarga yang utuh. Hanya saja aku tidak menyangka akan secepat ini...."


Zein amat lega mendengar jawabab Pamela.


"Terimakasih sayang..."


Mereka sampai di mall yang dituju. Zein langsung mengajak Pamela memasuki gerai perhiasan eksklusif di mall itu.


"Aku lupa, melamar Mommy mu tapi belum memberinya cincin, bodoh sekali bukan?"


"Hahaha, Daddy bodoh karena tidak bilang dulu padaku..."


Zein meminta pada pelayan untuk mengambilnya koleksi cincin terbaik yang mereka punya.


"Menurutmu, mana yang akan disukai Mommy-mu?"


"Jadi karena alasan ini Daddy mengajakku berbelanja?"


"Tentu saja, kau pasti tahu selera Mommy-mu kan?"


"Yang ini saja Daddy, sederhana tapi elegan..."


"Baiklah, aku akan mengambil model ini...apa kau tahu ukuran jari Mommy-mu?"


Pamela lalu mencoba beberapa ukuran dijarinya sendiri.


"Hmm, kira-kira sedikit lebih besar dari ini..."


Pelayan di gerai itu mengambilkan contoh lain.


"Ya, sepertinya ini akan pas..."


Zein mengambil cincin pilihan Pamela. Lalu Zein juga membeli dua set perhiasan terbaik di toko itu untuk Luna dan Pamela.


"Daddy, apa ini tidak terlalu berlebihan, aku tidak membutuhkannya..."


"Terimakasih banyak Dad..."


Mereka lalu keluar dari gerai itu.


"Pamela, apa ada merk tertentu yang disukai Mommy-mu saat berbelanja?"


"Tidak Dad, Mommy tidak suka pakaian bermerk, Mommy membeli pakaian karena suka modelnya, setahuku pakaian branded Mommy hanya didapatkannya dari para sponsor..."


Zein semakin mengagumi Luna dengan kesederhanaannya. Tapi kali ini Zein ingin memberikan semua yang terbaik untuk calon istrinya itu. Zein masuk le gerai pakaian ternama yang ada di pusat perbelanjaan itu lalu menyuruh Pamela memilih beberapa untuk Luna dan Pamela. Lalu mereka beralih ke gerai tas dan juga sepatu. Dalam sekejap tangan mereka berdua sudah dipenuhi kantong belanjaan.


"Daddy, apa ini tidak berlebihan?"


"Tentu saja tidak! Apa lagi yang harus kubawa untuk melamar Mommy-mu? Aku sangat bingung!"


"Hahaha...Daddy lucu sekali kalau begini..."


"Apanya yang lucu?"


"Tidak...tidak....benar kata pepatah, orang sepintar apapun bisa jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta...."


"Kau ini! Berhenti mengejekku..."


"Daddy, jangan terlalu fokus pada barang-barang mahal, tapi lupa hal kecil..."


"Hal kecil apa?"


"Berikanlah sedikit perhatian, kirim bunga atau makanan, pasti Mommy akan senang..."


"Pamela, Mommy mu bahkan tidak membalas pesanku tadi malam..."


"Perempuan memang begitu Dad, pura-pura cuek tapi dalam hatinya senang..."


"Begitu ya? Baiklah, apa Mommy mu ada di rumah sekarang?"


"Kemarin Mommy pulang larut sekali, seharusnya Mommy akan ada di rumah sampai sore nanti..."


"Kalau malam apa Mommy mu selalu pergi?"


"Tidak selalu, tapi nanti malam Mommy akan menjadi juri tamu di acara kontes dangdut di tv Z, biasanya Momny akan berangkat sejak sore, Daddy lihatlah nanti, pasti Mommy akan cantik sekali..."


"Baiklah, sekarang aku akan membeli bunga dan makan siang, lalu kukirimkan pada Mommy-mu, begitu kan?"


"Kau bisa menitipkannya padaku..."


"Baiklah, terimakasih anak manis, sepertinya aku akan banyak membutuhkanmu setelah ini..."


"Siap Daddy, jangan sungkan-sungkan..."


Zein membeli berbagai makanan untuk Luna, juga mampir ke sebuah florist untuk membeli bunga, lalu mengantarkan Pamela pulang.


Setelah itu Zein harus kembali lagi ke kantornya dan bersiap untuk lembur sampai malam. Membayar waktu kerjanya yang terampas bersama Pamela tadi.