Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 77



Malam itu Pamela jadi juga pergi makan malam bersama seluruh anggota keluarga. Mommy sengaja memilih restoran korea favoritenya. Dan untunglah, meski baru pertama kali mencoba, Kakek dan Nenek ternyata cukup menyukai rasa daging-dagingan ala korea itu.


"Umur boleh tua, tapi soal selera nggak kalah sama anak muda ya Bu..."


Ledek tante Chika pada Ayah dan Ibunya.


Kakek Husein dan Nenek Zubaedah cuek saja sambil terus mengunyah dengan lahapnya.


"Hush, Chika jangan suka ngeledek orang tua begitu, kita harus bersyukur Ayah dan Ibu masih sehat jadi boleh makan apa saja..."


"Tapi jangan keenakan juga, harus dijaga makanannya mulai sekarang biar sehat terus..."


"Kamu salah Chik, mumpung masih sehat harus dimanfaatkan makan enak sepuasnya...."


Tiba-tiba Nenek Zubaedah bereaksi, tak mau kalah berdebat dengan anak-anaknya. Pamela yang melihat hal itu hanya tersenyum tanpa banyak bicara. Meski begitu dalam hatinya Pamela bersyukur memiliki keluarga yang harmonis meski tak sempurna.


"Pamela, jangan diam saja, kamu kan yang punya acara!"


Seloroh Tante Chika pada ponakan kesayangannya.


"Eh, iya Tante, aku terlalu bahagia sampai susah berkata-kata..."


"Alah bisa aja cari alasan, jangan kebanyakan ngalamun, mikirin apa sih?"


"Ah, Tante kepo deh, udah ah ayo cepetan makanannya! Nanti keburu habis waktunya...sayangkan Mommy udah bayar mahal-mahal..."


"Iya juga ya, ayo ah buruan makan dulu, ngobrolnya nanti aja kalau udah kenyang!"


"Hahaha..."


Semua tertawa mendengar celotehan Chika.


"Makasih banyak ya Mommy dan semuanya....sudah kumpul disini buat Pamela..."


"Cucu kesayangan Nenek memang pinter ternyata..."


"Cucu kesayangan Kakek juga itu Nek..."


Akhirnya Kakek Husein yang dari tadi banyak diam ikut urun suara.


Sepulang dari restoran, Luna yang melihat lampu kamar Pamel masih menyala hingga larut malam memutuskan untuk mengetuk pintu kamar anaknya itu.


"Kamu belum tidur sayang?"


Tanyanya begitu Pamela membukakan pintunya.


"Belum ngantuk Mommy, lagian aku kan besok nggak sekolah!"


"Oh iya ya...anak Mommy kan sudah lulus...Pamela, bisa kita bicara sekarang?"


Pamela langsung mengerti arah pembicaraan Mommy.


"Ya Mom, aku sudah siap sekarang..."


Luna lalu masuk dan duduk di sofa yang ada dikamar Pamela.


"Pamela, dulu Mommy dan Ayahmu melakukan kesalahan besar, hingga Mommy mengandungmu..., tapi percayalah kamu tetap terlahir suci, kamilah yang berdosa, dan maaf kakau kamu jadi turut menanggung akibat karena kesalahan kamu"


"Ya Mom, aku mengerti..."


"Pamela...waktu itu hidup Mommy sangat kacau...Mommy dan Ayahmu sama-sama masih muda dan labil. Mommy tersinggung dengan perkataan Ayahmu hingga terjadilah kesalah pahaman yang berkepanjangan..."


Luna kemudian menceritakan semau yang diceritakan Zein padanya, bahwa Zein selalu berusaha mencari dan menemuinya.


"Pamela, Mommy sempat berfikir untuk menolak kehadiran Ayahmu karena Mommy merasa mampu dan tidak membutuhkannya lagi. Tapi kemudian Mommy memikirkanmu, bagaimanapun kamu berhak tahu dan bertemu dengannya sebagai Ayah dan anak...Mommy salah karena telah bersikap egois selama ini"


"Pamela, Mommy tahu kamu terluka dan butuh waktu untuk menerima semua ini, tapi tolong cobalah untuk berfikir jernih...Dia tetap Ayahmu, meski secara nasab kalian terputus, tapi darahnya tetap mengalir di darahmu...Dan alangkah baiknya kalau kalian menjalin silaturahmi yang baik. Semua orang punya dosa dan kesalahan, tapi dia punya niat baik untuk memperbaikinya, jadi apa kamu mau memberinya kesempatan?"


"Ya Mom, aku akan memikirkannya..."


"Baiklah, Mommy tunggu jawabanmu, jangan lama-lama karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu..."


Luna mengusap kepala Pamela dan mencium keningnya.


"Tidurlah sayang, ini sudah malam dan kamu harus istirahat meski tidak sekolah..."


Pamela hanya mengangguk patuh dan Luna pun keluar dari kamarnya.