Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 38



Ternyata menjadi youtuber terkenal tak semudah yang dibayangkan. Yah, terkadang sering terbesit rasa iri dan dengki pada orang-orang yang berada di puncak dan sedang menikmati hidupnya. Enak banget ya? Kerjaannya gitu-gitu aja tapi dia kaya. Alah, timbang gitu doang gue juga bisa. Tapi ternyata untuk memulai tidak semudah yang terlihat. Yang kita lihat adalah hasil, tanpa tahu jerih payah seperti apa yang harus ditempuh sebelumnya. Atau bahkan yang tidak kita lihat, ada berapa ribu orang yang mencoba menjadi seperti mereka tapi berguguran, gagal karena menyerah terlebih dulu. Begitulah hidup, saling memandang, berfikir bahwa hidup orang lain lebih baik dari kita sampai lupa bersyukur.


Dan kini, Rayhan merasakannya sendiri, ternyata semua tidak semudah yang dilihatnya. Pekerjaan yang dikiranya begitu mudah dan sepele dengan pendapatan besar ternyata tak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kemarin setelah membeli perlengkapan dan menyiapkan konsep, Rayhan memilih langsung terjun ke lapangan. Dia tidak ingin membuang-buqng waktu, tentunya semakin cepat akan semakin baik, semakin cepat pula hasil di dapat. Maka hari-harinya segera di sibukkan dengan berkeliling kota sambil mencari obyek videonya. Kebanyakan adalah usaha kecil yang relatif sepi. Rayhan lalu melakukan wawancara singkat sambil mencoba produknya. Setelah dirasa tepat, baru di pertemuan kedua dia mengambil videonya, tentu dengan perencanaan yang lebih matang. Dengan skrip dan narasi dialog yang telah dipersiapkannya lebih dulu, karena dia bukanlah orang yang pandai bicara dengan spontan. Setelah video di dapat dia segera pulang. Pekerjaan belum selesai. Dia harus mengolah dan mengedit video yang direkamnya itu, untuk kemudian di upload ke chanelnya.


Sudah hampir dua bulan Rayhan menekuni pekerjaannya itu, yang tentunya juga memakan biaya dan tenaga. Semua dilakukannya sambil kuliah. Tentu dirinya harus pandai membagi waktu. Namun dua bulan berlalu, hasilnya sama sekali belum kelihatan. Dan dia mulai merasa lelah.


Diam-diam, Rayhan masih berkomunikasi dengan Pamela. Mereka juga sesekali bertemu secara diam-diam. Istilahnya, backstreet, mereka menjalani hubungan dengan tanpa sepengetahuan keluarga Pamela. Itu adalah permintaan Pamela yang mengaku tak kuat menahan rindu. Dan tentunya dirinya juga sama. Kehadiran Pamela dia perlukan untuk menjadi penyemangat dan memberi warna di hidupnya.


Dan sore itu, saat mereka bertemu Rayhan menceritakan semua keluh kesahnya pada Pamela.


"Kan baru dua bulan Kak, wajar aja kalau belum kelihatan hasilnya, mereka-mereka yang terkenal juga nggak secepat itu jadi terkenal!"


Benar juga apa yang dikatakan Pamela.


"Iya juga sih Mel, tapi kok aku rasanya udah capek banget ya, mana modalku udah kekuar banyak, tapi nggak ada pemasukan lagi?"


"Kakak butuh pinjaman modal?"


"Bukan gitu maksudnya..."


"Mungkin juga udah banyak yang bikin video sejenis Kakak dan udah duluan terkenal, mungkin Kakak harus evaluasi lagi pekerjaan Kakak..."


"Iya, aku juga tahu, makanya itu, aku jadi pesimis..."


"Jangan gitu Kak, jangan gampang nyerah donk nggak seru, gimana kalau kita bikin gebrakan di chanel Kakak dengan sesuatu yang lebih menarik?"


"Maksud kamu gimana? Ada ide?"


"Iya, gimana kalau Kakak bahas tentang tokoh public, mungkin wawancara Mommy misalnya? Nanti bikin judul click bait yang menarik, gimana?"


"Apa nggak papa? Gimana kalau nanti Mommy atau nenek kamu marah?"


"Nanti biar aku coba ngomong sama Mommy, Mommy lebih santai orangnya, mungkin kita bisa bikin di luar rumah biar nenek nggak tahu..."


Sepertinya itu ide yang menarik. Meski Rayhan juga ragu-ragu. Apa tidak apa-apa menempuh jalan seperti ini. Kok rasanya dia seperti memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya?


"Hey, gimana Kak? Kok malah ngelamun, setuju nggak?"


"Hmm, kayaknya boleh juga dicoba!"


"Ok, biar aku ngomong dulu sama Mommy!"