Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 11



Seorang gadis berjalan menuju sebuah kamar hotel. Di sana telah menunggu seorang pria yang telah 'membeli' dirinya.


Apa ini tidak terlalu cepat?


Ya, ini baru pertemuan kedua mereka. Dia masih perlu banyak waktu sebenarnya. Karena dimatanya pria itu adalah orang baru yang masih sangat asing baginya. Tapi apa boleh buat, kini dia hanyalah seorang budak yang harus menuruti setiap titah tuannya.


Apa yang akan dilakukan pria itu di dalam kamar nanti?


Seketika perasaan takut menyergap hatinya. Padahal dia sendiri yang telah begitu berani masuk ke lubang ini.


"Hey, kamu sudah datang? Kemarilah anak manis..."


Gadis itu mendekat dengan langkah ragu-ragu, lalu berhenti di depan meja yang membatasi antara dirinya dan pria itu.


"Kenapa jauh sekali? Sini! Duduk disampingku!"


Gadis itu menggeleng lemah.


"Kenapa? Kamu sudah berani membantahku?"


"Aku bisa dengar dari sini Om, bicara saja apa yang mau Om katakan..."


"Hey, berani sekali kamu! Aku membayarmu mahal bukan sekedar untuk mengobrol.."


Gadis itu reflek mundur dengan langkah gemetar. Tapi pria itu malah mendekat menghampirinya.


"Jangan Om!"


Gadis itu menepis tangan si pria yang coba menyentuh wajahnya.


"Kenapa kamu pura-pura jual mahal? Bukankah kamu sudah pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya?"


Tanya pria itu tepat di depan wajah si gadis, tatapannya menyiratkan penghinaan.


"Kenapa? Bukankah kamu sudah tidak perawan? Aku sudah mempelajari identitasmu tentu saja!"


Jleb. Kata-kata itu terasa menusuk hatinya. Berikut peristiwa traumatis di masa kecilnya kembali terlintas dibenaknya.


"Jangan Om!"


Namun teriakan Vanessa justru membuat Om Pras semakin tertantang. Dan Om Pras berhasil mendaratkan satu kecupan ringan tepat dibibir Vanessa. Reflek tangan Vanessa melayang dan mendarat di wajah Om Pras.


"Dasar anak kurang ajar!"


Tangan besar Om Pras mendorong tubuh Vanessa hingga terhempas ke tempat tidur. Lalu kepingan demi kepingan peristiwa di masa lalu hadir bagaikan film yang di putar ulang di kepalanya. Bahkan Vanessa bisa mengingat dan membayangkan setiap detail kejadiannya.


Ketika pintu kamarnya diketuk dari luar saat dia sedang sendiri, lalu Om nya masuk dan mendesak tubuh kecilnya. Lalu mengancam akan mengusirnya jika tidak mau menuruti perintah. Vanessa kecil yang ketakutan hanya bisa pasrah saat Om nya membuka bajunya dan menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Dan mulut besar yang terasa panas dan basah menempel di bibir dan lehernya. Hingga kemudian rasa sakit dan perih yang menyerangnya bertubi-tubi di bagian *********** hingga mengeluarkan darah. Vanessa kecil hanya bisa menangis tersedu-sedu sendirian. Dan saat ingin berteriak meminta pertolongan mulut kecilnya di bungkam.


Dan kini peristiwa mengerikan itu harus dialaminya kembali.


Vanessa hanya bisa meronta dan meronta sekuat tenaga. Coba ditepisnya tangan besar yang mencengkram bahunya, meski akhirnya dia harus menyerah kalah. Yah, ternyata dirinya tetaplah gadis kecil yang tak berdaya. Dengan mudah Om Pras dapat mengatasi perlawanannya, lalu mencengkram pergelangan tangannya.


Setelah itu satu persatu pakaiannya pun berhasil di lucuti Om Pras dengan mudah. Bertubi-tubi ciuman panas dan kasar mendarat di bibir, leher, dan setiap jengkal tubuhnya. Tenaga Vanessa pun sudah habis tak bersisa, hingga tubuhnya hanya terkulai lemah saat Om Pras memasuki inti tubuhnya berkali-kali dengan suara leng uh an yang terdengar amat menjijikan. Entah berapa kali Om Pras melakukannya hingga merasa puas dan hasratnya tuntas.


Vanessa hanya bisa terkapar ditempat tidur dengan tubuh polosnya.


"Terimakasih banyak anak Manis..."


Bisik Om Pras di telinga Vanessa saat telah selesai.


"Maaf, lain kali saya akan melakukannya dengan lebih lembut dan mungkin kita perlu lebih banyak mengobrol dan mengenal lebih dalam supaya kamu lebih nyaman, bagaimanapun kita akan berhubungan dalam jangka panjang, saya harap kamu bisa bersikap lebih baik..."


Lelaki itu menyelimuti tubuh polos Vanessa, mengecup keningnya, lalu pergi ke kamar mandi.