Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 97



"Nah, sekarang kamu sudah boleh bicara. Ngomong-ngomong, apa tadi yang ingin kau katakan?"


"Oh, tentang acara lamaran secara formal...aku baru bilang pada orang tuaku tadi pagi. Mereka bilang bisa kapan saja. Jadwalku kosong sekitar seminggu lagi. Bagaimana kalau kita lakukan minggu depan di akhir pekan? Kamu hanya libur di akhir pekan bukan?"


"Baiklah, aku ikut saja kapan waktunya. Lalu, apa yang harus kita siapkan? Apa kita perlu menyewa hotel? Juga mungkin kita perlu jasa event orginizer supaya tidak terlalu repot?"


"Jangan khawatir, aku bisa mengurus semuanya. Kau tinggal datang saja bersama keluargamu dan jangan terlambat. Acaranya kita lakukan dirumahku saja. Halaman rumahku cukup luas. Aku tidak ingin acara ini menarik perhatian wartawan dan menjadi berita..."


"Baiklah aku mengerti, terimakasih banyak...tapi kalau kau perlu bantuanku katakan saja dan jangan sungkan..."


"Tentu saja, aku juga tidak mau repot sendirian..."


"Hahaha, aku tahu! Oh ya bagaimana rencanamu setelah kita menekah nanti?"


"Hm?"


"Maksudku, mungkin kita perlu menyepakati beberapa hal tentang kehidupan kita setelah menikah. Seperti tentang tempat tinggal misalnya?"


"Oh, maaf aku belum berfikir sampai kesana...mungkin kau tidak akan nyaman kalau tinggal bersama orang tuaku bukan? Kukira mereka akan baik-baik saja. Ada adikku yang menjaganya. Nanti Aku dan Pamela bisa pindah ke apartemenmu, bagaimana menurutmu?"


"Tapi sepertinya apartementku terlalu kecil untuk kita bertiga..."


"Jadi apa kau ingin ikut tinggal di rumahku?"


"Bukan begitu! Bagaimana kita membeli rumah baru untuk kita bertiga? Kalau kau tidak keberatan dan ada waktu luang, aku ingin kita bersama-sama memilih rumah masa depan untuk kita?"


"Apa tidak terlalu cepat. Kita bisa memikirkannya nanti kalau sudah menikah?"


"Tidak, kurasa kita harus mempersiapkannya mulai sekarang. Setelah menikah nanti pasti akan ada banyak hal lagi yang harus di pikirkan..."


"Baiklah, biar aku pertimbangkan..."


Membeli rumah baru, sepertinya ide yang bagus. Hanya saja selama ini Luna belum berfikir ke sana. Dan sekarang Luna mulai senang membayangkannya. Luna ingin rumah modern minimalis dengan banyak ruang terbuka. Bukan rumah dengan kesan mewah berlebihan, tapi rumah yang nyaman dan asri.


"Kau pesan saja makananmu, aku sudah makan cake tadi..."


"Ayolah Luna...tadi itu hanya sepotong cake kecil, pesanlah makanan lagi! Badanmu sudah terlalu kurus, kau tidak perlu diet terlalu ketat begini..."


"Karena itu, aku harus menjaga makananku agar badanku tetap seperti ini. Ini sudah menjadi resiko pekerjaanku. Kalau badanku tidak ideal, aku tidak akan laku lagi di industri hiburan..."


a"Kau tidak perlu terlalu keras memikirkan soal pekerjaan, setelah menikah nanti, ada aku yang akan menanggungmu..."


"Apa kau akan melarangku bekerja setelah menikah nanti?"


Nada bicara Luna berubah tinggi.


"Apa kau tetap akan selalu pulang larut malam setelah kita menikah nanti?"


Kali ini entah mengapa Zein juga penasaran membahas hal ini.


"Aku sudah menekuni pekerjaanku bahkan sebelum aku mengenalmu, pekerjaan ini yang telah membuat aku dan keluargaku bertahan hidup sampai sekarang. Ada tanggung jawab yang harus aku pikul dan aku tidak bisa melepaskannya begitu saja..."


"Aku bisa membantumu menanggungnya!"


"Apa kau masih saja seperti dulu yang selalu berfikir apa saja bisa dibeli dengan uangmu?"


"Luna bukan begitu maksudku, aku hanya mengkhawatirkanmu...menurutku kau terlalu sering pulang larut dan itu tidak baik"


"Aku pulang dulu! Kita bicarakan hal ini lain kali!"


"Luna, tunggu!"


Tapi Zein tidak bisa mencegahnya.