Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 80



"Apa saja yang ingin kamu lakukan bersama Daddy?"


Ini adalah pertemuan mereka untuk yang kesekian kali. Mengisi waktu luang Pamela sebelum nanti mulai masuk kuliah. Dan hubungan mereka semakin hari semakin membaik.


"Hmm banyak Dad..."


"Coba sebutkan satu-satu...."


Pamela lalu mengingat daftar keinginan yang pernah dibuatnya semasa kecil dengan judul sepuluh hal yang akan dilakukan kalau aku bertemu Ayah. Dimana catatan konyol itu sekarang? Sepertinya sudah hilang, terselip entah dimana.


"Aku ingin pergi ke taman bermain bersama Daddy, aku ingin digendong dipunggung saat jalan-jalan, aku ingin..."


"Sebentar sebentar..."


Daddy Zein mengeluarkan ponselnya dan memilih menu catatan untuk menuliskan apa yang dikatakan Pamela.


"Baiklah, ayo teruskan pelan-pelan...aku akan mencatatnya..."


"Ok...sampai mana tadi Dad?"


"Kamu mau digendong dipunggung saat jalan-jalan..."


"Hmmm ok, lalu...aku ingin diantar jemput Daddy saat pergi ke sekolah, aku ingin di gendong Daddy masuk ke kamar saat tertidur di depan televisi, aku ingin berbelanja bersama Daddy, aku ingin tidur sambil dibacakan dongeng, aku ingin ikut ke kantor Daddy dan melihat Daddy bekerja...."


"pelan-pelan sayang..."


"Hmm, sudah ada berapa Dad?"


"Ada tujuh sayang, apa masih ada lagi?"


"Hmm, dulu aku pernah menacatatnya ada sepuluh, apa lagi ya?"


"Coba pikirkan dulu..."


"Oh iya, aku ingin menikah di depan Daddy..."


"Menikah? Apa kau sudah punya pacar dan ingin menikah secepat ini?"


"Tidak Dad, aku sudah putus dan tidak punya pacar Itu hanya keinginanku di masa depan..."


"Haha, aku jadi lega...baguslah kalau begitu...jangan punya pacar dulu, aku masih ingin menghabiskan banyak waktu denganmu..."


"Jadi Daddy senang kalau aku patah hati?"


"Bukan begitu sayang...siapa yang berani membuatmu patah hati? Aku akan memukulnya! Aku janji akan membahagiakanmu sampai kau tak butuh pacar..."


"Ok Dad, tapi aku juga ingin menikah nanti kalau saatnya tiba..."


"Haha, tentu saja...tapi itu masih lama kan?"


"Kau berharap begitu Dad? Bagaimana kalau aku jadi perawan tua?"


"Tentu saja tidak, tapi ngomong-ngomong, aku sendiri bahkan belum pernah menikah!"


"Menikahlah Dad, kenapa Daddy betah sekali sendiri? Bukankah Daddy-ku ini tampan dan kaya raya. Pasti banyak wanita yang tergila-gila padamu kan?"


"Jangan bahas hal itu, merusak moodku saja! Dulu aku sibuk memikirkan dan mencarimu! Dan sekarang aku ingin menghabiskan banyak waktu denganmu. Jadi aku tak ingin memikirkan hal lain yang akan membuat kepalaku pusing, selain pekerjaan tentunya..."


Baiklah Dad, ternyata kau lebih sensitif dari Mommy..."


"Aku akan mewujudkan keinginanmu satu demi satu, bagaimana kalau sekarang pergi ke taman bermain, dan disana aku akan menggendongmu di punggung, bagaimana?"


"Baiklah Dad, ayo kita berangkat, sepertinya akan menyenangkan..."


"Daddy, ayo kita makan es krim dulu"


Tunjuk Pamela saat melihat mesin es krim di depan mereka.


"Baiklah, aku juga ingin istirahat. Kamu berat sekali ternyata!"


Meski tubuh Pamela terlihat mungil, tapi menggendongnya sambil berkeliling taman bermain cukup membuat punggung Zein pegal. Dan Pamela jadi kasihan melihat wajah Daddy Zein pucat berkeringat.


"Daddy mau es krim apa? Biar aku yang traktir!"


"Coklat saja..."


Daddy Zein duduk di kursi tunggu sambil mengusap keringat. Pamela membeli dua es krim dan sebotol air mineral.


"Minum dulu Dad! Terimakasih banyak....setelah ini aku jalan sendiri saja, tidak lucu kalau nanti Daddy pingsan karena menggendongku!"


"Iya...iya, dasar anak nakal! Sepertinya Daddymu ini sudah semakin tua..."


"Baru sadar ya Dad! Makannya cepat cari istri, biar ada yang mengurus!"


"Heh, kenapa kau jadi cerewet begini? Kamu yang harus mengurusku nanti!"


Zein pura-pura membentak Pamela, tapi setelah itu tertawa. Menertawakan nasibnya sendiri. Bahkan anak kandung yang belum lama ditemukannya sudah berani menyuruhnya menikah! Padahal selayaknya orang tua lah yang sering menyuruh anaknya agar segera menikah.


Berbeda dari kunjungan sebelumnya, Pamela benar-benar menikmati kunjungan mereka ke taman bermain hari ini. Pamela dan Daddy Zein mencoba hampir semua jenis permaianan. Hingga tanpa terasa hari beranjak sore.


"Sudah sore, sebaiknya kita pulang sebelum hari gelap. Kita sudah pergi seharian. Nanti nenek dan Mommy mu cemas!"


"Aku bukan anak kecil lagi Dad! Tapi baiklah, ayo kita pulang, tapi mampir makan dulu ya Dad! Aku lapar!"


"Kecil-kecil begini banyak juga makanmu, baiklah ayo!"


Tadi siang Pamela sudah makan dua porsi pasta di cafetaria taman bermain. Tapi sepertinya karena terlalu bersemangat mencoba aneka wahana energinya sudah terkuras habis dan lapar lagi.


Mereka makan di sebuah warung tenda kali lima yang terlihat ramai. Kali ini menunya sate ayam. Rasanya enak sekali dan keduanya makan dengan lahap.


"Daddy, sebenarnya aku punya satu keinginan lagi, tapi rasanya mustahil untuk terpenuhi!"


Kata Pamela setelah mereka selesai makan.


"Apa itu? Katakan saja..."


"Aku ingin punya keluarga yang utuh.. "


Zein tertegun mendengarnya. Sesuatu yang tak pernah terpikir olehnya. Zein hanya tersenyum, lalu menghabiskan minumnya.


"Kalau itu tidak bisa tidak apa-apa. Tapi aku ingin sekali-sekali pergi bersama Daddy dan Mommy, seperti sebuah keluarga..."


Zein berfikir sejenak, lalu menjawab.


"Baiklah, aku akan coba bicarakan dengan Mommy-mu!"


Zein lalu mengantarkan Pamela pulang ke rumah.


"Daddy, terimakasih banyak, aku senang sekali hari ini..."


Zein tersenyum lalu memeluk Pamela.


"Terimakasih banyak sayang, sudah mau menghabiskan waktu denganku, sungguh aku Ayah yang beruntung memiliki putri cantik sepertimu..."