
Luna baru saja pulang dari Surabaya tadi malam dan di pagi hari yang cerah ini Luna menyempatkan untuk sarapan bersama keluarganya.
"Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?"
Luna menangkap ada yang berbeda dari penampilan putrinya. Terlihat sembab dan sedikit pucat. Luna tahu Pamela mungkin habis menangis semalam.
"Nggak papa Mom, mungkin karena aku kurang tidur semalam...."
"Patah hati ya Mel? Atau baru putus cinta?"
Ledek tante Chika tanpa perasaan.
"Sssstt Chika, jangan ganggu Pamela, kalau makannya sudah sana berangkat kerja!"
Bentak Nenek Zubaedah pada anaknya.
"Ah, Ibu nggak asyik, kan cuma bercanda..."
Jawab Chika, lalu menyalami Ibunya dan beranjak pergi. Kekasihnya sudah menunggu di depan, jadi Chika berjalan dengan terburu-buru.
"Pamela, kalau kamu tidak enak badan istirahat saja dirumah, nanti biar Mommy yang pamitkan pada gurumu..."
"Aku nggak papa Mom, lagi pula hari ini aku ada try out lagi, aku berangkat dulu ya Mom..Nek..dah...."
Pamela menyalami Nenek dan Mommy lalu segera berangkat sekolah dengan diantar sopirnya. Pamela tak ingin memperpanjang masalah tentang alasan wajahnya yang sembab sebab menangis semalam. Yah, Pamela memang sedang patah hati. Meski dirinya sendiri yang memutuskan tapi rasanya tetap menyakitkan.
Selepas kepergian Pamela, Luna akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bicara pada kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu..ada yang ingin aku bicarakan..."
"Bicara saja, kami bukan orang sibuk, waktu kami banyak..."
Jawab Nenek Zubaedah setengah menyindir.
"Ini tentang Pamela, kemungkinan dalam waktu dekat Zein akan datang menemui Ibu..."
"Untuk apa?"
"Untuk meminta izin memperkenalkan dirinya sebagai Ayah Pamela..."
"Luna!"
"Ibu..aku sudah memikirkannya baik-baik, ketakutan Ibu kalau Zein akan merebutnya dari kita tidak beralasan, menurutku dia tidak akan melakukannua, dan ini kulakukan demi Pamela, dia pasti akan senang bisa mengenal Ayahnya..."
"Kapan dia akan datang?"
"Entahlah...mungkin..."
Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, dari Luar terdengar suara bel berbunyi.
Omel Nenek Zubaedah.
"Biar aku yang bukakan..."
Kata Kakaek Husein sambil melangkah keluar.
"Zein?"
Zein menyalami Kakek Husein sambil bersimpuh hormat. Tapi Kakek Husein langsung menarik tangannya.
"Jangan begitu, aku bukan orang tuamu!"
Dan kemudian Nenek Zubaedah menyusul keluar.
"Sudah datang kau rupanya?"
Zein akan melakukan hal yang sama pada Nenek Zubaedah. Tapi Nenek Zubaedah keburu melangkah pergi.
"Duduklah dan cepatlah bicara, untuk apa kamu datang kemari?"
Tanya Nenek Zubaedah tanpa basa-basi.
"Kedatangan saya kemari pertama-tama untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang saya lakukan pada Luna dan keluarga delapan belas tahun yang lalu..."
"Maaf? Sekarang?"
"Saya ingin melakukannya sejak lama, tapi tidak pernah diberi kesempatan..."
"Jadi itu salah kami?"
"Bukan begitu..."
"Baiklah lupakan, tidak perlu basa-basi, sekarang apa maksudmu datang kemari?"
"Saya ingin meminta izin untuk bertemu Pamela..."
"Sebebarnya kami sudah tidak membutuhkanmu, tapi Luna ingin memberimu kesempatan, dan terutama ini demi Pamela..."
"Ya, saya mengerti..."
"Baiklah, sekarang pergilah, kamu bisa membicarakan dengan Luna tentang rencana menemui Pamela nanti...."
"Baiklah, terimakasih banyak...saya pergi dulu..."
Zein melangkah keluar dan menghembuskan nafas lega. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Zein mengerti akan kemarahan dan kebencian keluarga Luna padanya, bahkan setelah bertahun-tahun. Zein bisa memaklumi hal itu. Bisa diizinkan bertemu dengan Pamela saja dia sudah merasa sangat beruntung. Dan tentu, dia harus berterimakasih pada Luna untuk kesempatan ini.
Zein jadi tidak sabar untuk bertemu Pamela lagi. Bagaimana reaksi gadis itu jika tahu dirinya adalah Ayah kandungnya?