Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 70



Zein masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Hartono. Zein menghembuskan nafas dengan kasar lalu melempar map yang dibawanya ke sofa ruang kerjanya.


"Sial! Kenapa bisa sampai kecolongan begini sih? Berapa kerugian perusahaan untuk kasus ini?"


Tanyanya pada Hartono.


"Sejauh ini yang ketahuan sekitar tiga ratus jutaan Pak, prediksinya kecurangan baru berjalan sekitar dua bulan, seharusnya belum terlalu fatal dan masih bisa ditangani secara internal sih pak! Kalau masuk ranah hukum, bisa-bisa uang yang keluar lebih besar dari kerugian yang ditimbulkan"


"Jangan menyepelekan kamu, tetap saja kita sudah kecolongan!"


"Kan Bapak juga yang tanda tangan, apa Bapak tidak mengecek?"


"Jadi kamu menyalahkan saya? Kalau begitu untuk apa saya punya pegawai?"


"Bukan begitu Pak, maksud saya..."


"Sudah-sudah, sana keluar! Kepala saya tambah pusing dengar suara kamu!"


Hartono keluar dengan pasrah. Dia sadar posisinya hanya bawahan yang pantas untuk dimarahi. Meski belakangan Hartono merasa tempramen bosnya tidak seperti biasa. Masalah penggelapan dana kali ini sebenarnya tidak terlalu besar. Sebelumnya juga pernah terjadi yang lebih parah. Bisa dibilang masalah semacam ini seperti kanker yang menggerogoti perusahaan. Solusinya harus dibasmi sampai ke akar-akarnya. Sebab kalau tidak bisa menyebar dan membuat perusahaan menjadi 'sakit'. Dan masalah ini menurut Hartono masih merupakan buntut dari kasus sebelumnya. Zein terlalu berhati-hati dan rasa kemanusiannya terlalu tinggi, hingga membiarkan beberapa 'sel kanker' masih bertahan di perusahaan. Jadilah seperti ini. Tapi ya bagaimana lagi, yang namanya 'Bos' tidak mungkin untuk disalahkan. Jadi dirinyalah yang harus bekerja lebih keras untuk membereskan masalah ini.


"Kali ini kamu saja yang bereskan dengan caramu, pecat semua yang menurutmu terlibat, pokoknya saya terima beres, mengerti?"


"Siap laksanakan Pak!"


Nah kalau begini kan lebih gampang. Dirinya tak perlu berdebat dengan si Bos yang sok tegas tapi juga nggak tegaan.


Hartono lalu menghubungi pihak HRD untuk membicarakan kasus ini.


Sementara di ruangannya, Zein duduk di kursi kerjanya dengan pikiran kalut. Belakangan entah mengapa pekerjaannya menjadi kacau dan pikirannya menjadi kurang fokus. Sejak pertemuannya dengan Luna, ada banyak hal yang dia pikirkan. Perasaan bersalah akan peristiwa di masa lalu juga ketakutannya akan kehilangan Pamela. Sementara Luna terkesan sengaja menggantungkannya. Ya, memang dirinyalah yang bersalah. Dan Zein juga tak punya keberanian untuk menuntut kepastian tentang pengakuan statusnya sebagai Ayah Pamela. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu dengan sabar, sampai Luna luluh dan memberinya kesempatan. Walaupun itu juga entah.


Zein mencoba menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan tak mau berharap terlalu banyak. Tapi yang terjadi justru banyak pekerjaannya yang kacau. Dan Hartonolah yang sering jadi korban akan sikapnya yang kerap uring-uringan belakangan ini. Zein jadi merasa bersalah dan kasihan pada asisten kesayangannya itu.


Jadi daripada masalah ini berlarut-larut tak menentu, Zein memutuskan untuk berusaha menemui Luna. Mungkin jika mereka bisa bertemu, setidaknya Luna akan ingat akan janjinya dan memberinya jawaban. Meskipun Zein juga takut kalau jawaban yang didapatnya nanti bukanlah yang diharapkan. Tapi setidaknya dia harus berusaha. Maka Zein akhirnya merencanakan pertemuan tanpa sengaja dengan Luna.


Dan bertemulah mereka di hotel tempat Luna menginap. Zein beruntung bisa mendapatkan momen yang tepat, meski Luna mungkin hanya menganggapnya pahlawan kesiangan. Namun karena hal itu, Zein jadi melihat Luna dari sisi lain. Betapa Luna telah berjuang dan melewati banyak ujian terjal karena kehadiran Pamela di hidupnya. Dan hal itu membuat hatinya semakin diliputi rasa bersalah. Seandainya dulu dia bisa bersikap lebih berani dan tidak meninggalkan Luna sendiri.